Artikel 018_ 2001                 


TELETUBBIES

Teletubbies adalah film yang masa kini banyak diminati anak-anak, tidak kurang komik, boneka, tas, bahkan boneka tiup Teletubbies dengan ukuran sebesar anak balita di jual di perempatan jalan. VCD serial ini laku keras di pasaran, bahkan banyak anak memiliki sepatu, baju, T-Shirt maupun topi dengan gambar empat sekawan lucu ini.

Di bandingkan dengan Pokemon yang sarat nafas mistik dan okultisme, dan Shinchan yang sarat kekurang-ajaran dan porno, sebenarnya Teletubbies merupakan film anak-anak yang sarat pendidikan yang baik. Teletubbies diciptakan untuk membantu anak-anak usia balita (dibawah 5 tahun) pra-sekolah.

Program anak-anak ini dirintis oleh BBC pada tahun 1997 dengan bantuan Ragdoll Productions untuk menciptakan Teletubbies. Program ini difokuskan untuk anak-anak agar bisa ikut belajar melalui kesenangan bermain dan menyiapkan mereka memasuki kehidupan sekolah yang akan mereka masuki. Teletubbies direncanakan untuk membuat anak-anak memiliki kepercayaan, santai dan siap untuk belajar, dan memasuki era informasi dimana antena dan layar televisi (didada mereka) merupakan media komunikasi penting pada masa kini.

Ada empat tokoh Teletubbies yang gendut dan bertelinga besar: (1) Tinky Winky yang paling besar berwarna ungu dengan antena segitiga terbalik di atas kepalanya dan membawa-bawa tas; (2) Dipsy yang berwarna hijau muda dengan antena lurus tegak dan topi khasnya; (3) Laa-Laa yang berwarna kuning dengan antena spiral dan bola kesayangannya; dan Po yang berwarna merah dengan antena bulatan dan sering menaiki skuter (otoped). Mereka tinggal disebuah lembah berbukit dalam kubah tubbytronic superdome sebagai tempat tinggal dengan teknologi mesin pembuat makanan mereka.

Selain ke-empat Teletubbies itu, juga digambarkan Noo-Noo, mesin penyedot debu yang membawa maunya sendiri, dan matahari berwajah bayi yang bersenyum-tawa mengawali dan mengakhiri setiap episode. Teletubbies tinggal dalam kehidupan fantasi anak-anak dikelilingi padang berbukit hijau dengan kelinci-kelinci berlalu lalang dan suara trompet yang menghubungkan mereka dengan dunia nyata.

Melihat hal-hal baik dalam program pra-sekolah ini, mengapa ada pihak yang mengkritisinya? Sebenarnya kritik dirintis oleh seorang penginjil fundamentalist Jerry Falwell (Moral Majority) yang menuduh bahwa tokoh Tinky Winky yang laki-laki itu dianggap menggunakan simbol yang biasa digunakan para homoseksual seperti segitiga terbalik, warna ungu dan tas yang di bawa-bawa.

Ada juga kritisi yang mempersoalkan bahwa sekalipun Teletubbies menghadirkan suasana ceria dan cinta namun sepi cintakasih dan bimbingan orang tua. Bila teletubbies membutuhkan bimbingan, muncul periscop ke luar tanah yang akan membunyikan trompet dan pesan-pesan, demikian juga kehidupan mereka dicukupi mesin makanan tersedia dalam kubah yang membuat teletubbies bahagia. Kritisi lainnya mengkaitkan munculnya matahari dengan wajah bayi itu sebagai menggambarkan pemujaan alam (pantheisme) dengan dewa matahari, roh-roh alam, dan upacara okult lainnya tanpa menghadirkan keberadaan Tuhan pencipta alam.

Bila kita melihat tiga kritik utama yang dilontarkan orang, kita dapat melihat bahwa sebenarnya dibandingkan film-film anime (film kartun/animasi) Jepang, film Teletubbies jauh lebih baik. Mengenai simbol Tinky Winky yang dianggap 'gay' kelihatannya kritik itu terlalu berlebihan, soalnya anak-anak balita umur 1 s/d 4 belum membedakan gender dan mereka saling bermain boneka maupun mobil, demikian juga lambang-lambang yang dianggap 'gay' sebenarnya tidak dikenal oleh umum bahkan di Amerika sekalipun, sebab justru yang memperkenalkannya adalah kalangan fundamentalist sendiri.

Di rumah-rumah tangga sapu dan sekop banyak yang memiliki pegangan berbentuk segitiga terbalik dan orang tidak mempersoalkan, demikian juga banyak figur boneka maupun kartun menggunakan warna ungu (seperti kartun 'Dino'(saurus)) tanpa ada yang mengkritisinya. Dalam Alkitab warna ungu melambangkan 'kebesaran' dan 'kekayaan' dan biasa juga dipakai untuk jubah kebesaran. Baik Daniel (5:29) maupun Yesus (Mat.27:28, dengan pengertian untuk melecehkan)  memakai jubah ungu, sedangkan Lidia menjual kain ungu untuk pakaian (Kis.16:14).

Memang soal tas menjadi bahan omongan, namun pembuatnya sendiri menyebut itu bukan tas biasa melainkan 'tas ajaib' (magic bag) dimana dari dalamnya bisa keluar macam-macam barang yang diperlukan. Bagi anak-anak Balita, laki perempuan sudah biasa main masak-masakan bersama. Sekalipun Tinky Winky menyuarakan suara laki-laki, tidak ada anak-anak yang mempersoalkan bahkan orang dewasa pun, kecuali kalau itu dihembus-hembuskan oleh pihak-pihak tertentu. Jadi kritik mengenai sikap yang mengkritik bahwa film ini mempopulerkan pola hidup 'gay' kelihatannya terlalu dibesar-besarkan.

Banyak film menjadikan salib bukan sebagai kenangan atau lambang penebusan namun banyak yang menggunakannya sebagai jimat untuk mengusir drakula dan semacamnya, jadi konsep segitiga yang terbalik tidak otomatis membuktikan bahwa itu lambang 'gay' sekalipun mungkin ada orang 'gay' yang menjadikan hal itu (+ warna ungu) sebagai favorit mereka.

Ada kritik yang menyebutkan bahwa lambang segitiga adalah lambang 'trinitas' dan kalau dibalik menjadi lambang 'homoseksualitas', namun kita harus sadar pula bahwa gerakan zaman baru juga menggunakan lambang segitiga (piramid) sebagai lambang kekuatan semesta 'New Age', dan umumnya umat Kristen juga tidak menggunakan segitiga sebagai lambang 'trinitas'. Yang jelas, anak-anak balita jauh dari pengertian lain diluar apa yang mereka lihat sehari-hari, dan jelas pula bagi mereka, mereka tidak melihat ke-empat Teletubbies sebagai menggambarkan gender tertentu.

Saya sendiri pernah menyelidiki perilaku 'gay' dan membaca banyak buku soal Gay dan bahkan sudah menulis buku 'AIDS dan Perilaku Seksual;' (Kalam Hidup) yang banyak membahas soal 'gay', namun baru tahu soal warna ungu dan segitiga terbalik itu dari tulisan Jerry Falwell!

Ada kritik lain sehubungan dengan kesukaan teletubbies makan dan gambaran tubuh mereka yang gendut, yang dianggap dapat mendorong anak-anak mengikuti pola makan demikian. Rasanya kritik demikian juga berlebihan, karena reklame makanan di TV jauh menggambarkan adanya dorongan makan yang jauh lebih berbahaya.

Memang Teletubbies tidak menghadirkan peran orang tua di sana namun dalam tayangan televisi dari dunia nyata yang mengiringinya, sering figur orang tua dalam hubungan dengan anak diperkenalkan, bahkan sejak eposide awal, jadi kekawatiran absennya figur orang tua dalam cerita fantasi tidak berarti absennya figur itu dalam keseluruhan kehidupan nyata dalam serial Teletubbies.

Adanya kesan yang dianggap berbau agama alam seperti matahari dengan wajah bayi memang menunjukkan kekuatiran yang berlebihan mengingat bahwa dalam film ini kesan itu tidak ada kecuali didengar dari para kritisi fundamentalis. Wajah bayi itu hanya menunjukkan betapa ramahnya matahari yang terbit bagi kehidupan manusia.Yang jelas, film Teletubbies memberikan gambaran dunia anak yang penuh cinta dan merupakan sarana belajar yang baik bagi anak-anak balita dengan dasar-dasar pengertian secara umum, dan andaikan ada unsur GZBnya, dapat dikata minimal sekali, apalagi kalau disadari bahwa hampir semua film anak-anak sekarang sedikit banyak ada nafas GZBnya. Yang jelas, dalam film ini sama sekali tidak dihadirkan unsur kekerasan yang merupakan ciri menonjol dalam film-film New Age (GZB) sebagai hasil pertentangan unsur positip>< negatip yang terus menerus.

Bahwa dalam film ini ada nilai spiritualitas Kristiani yang absen yaitu kehadiran Tuhan, tidak perlu membawa seseorang kepada sikap penolakan sebab film ini juga sarat nilai kristiani seperti cinta kasih, kedamaian dan sukacita, bahkan disalah satu episode ditengah jatuhnya salju di hari Natal, teletubbies juga menyanyikan lagu-lagu Natal. Namun, sekalipun begitu peran orang tua dan guru sekolah minggu diperlukan untuk memberi bimbingan yang lebih lanjut untuk hal-hal yang tidak diajarkan dalam Teletubbies dan menjadikan pendidikan yang diajarkan dalam film ini sebagai bantuan kepada anak-anak mereka. Dengan demikian, daripada mempersoalkan pelarangan yang mustahil dilakukan, lebih baik kita membimbing anak dengan lebih kasih, dan memberikan 'parental guidance' pada anak-anak yang lagi menonton serial Teletubbies ini bahwa dibalik semua itu Tuhanlah pencipta yang memberikan matahari (dengan senyum bayi itu) dan kesuka-ceriaan pada anak-anak yang bermain-main, dan agar kita mengasihi sesama manusia seperti diri kita sendiri dan mengasihi Tuhan yang menganugerahkan semua itu.

Jadi, bila kita membuat daftar film-film anak, film Teletubbies bolehlah dimasukkan dalam rangking atas dalam hal pendidikan yang baik.

Salam kasih dari Herlianto/YBA


[ YBA Home Page | Artikel sebelumnya]