Artikel 055_ 2003                 


Penyembuhan Alternatif

Penyembuhan Alternatif sudah dikenal jauh sebelum ilmu kedokteran modern berkembang, dan pengobatan perdukunan/kebatinan (yang sekarang dikenal sebagai pengobatan alternatif) sudah cukup lama dilakukan dalam agama-agama suku. Dalam Perjanjian Lama kita juga sudah melihat penyembuhan demikian yang dilakukan para nabi, contoh yang terkenal adalah kasus Naaman yang mengantar raja mengalami kesembuhan di sungai. Pelayanan Yesus dalam Perjanjian Baru juga termasuk penyembuhan alternatif (yang berbeda dengan pengobatan medis modern). Jadi, penyembuhan alternatif adalah netral namun yang menjadi masalah bagi iman Kristiani adalah ‘dengan kuasa apa penyembuhan itu dilakukan?’

Harus disadari bahwa umumnya penyembuhan perdukunan/kebatinan bergantung pada konsep yang beranggapan bahwa kesembuhan terjadi bila kita hidup sesuai dengan roh-roh di alam baka (animisme, okultisme) atau hidup selaras dengan kekuatan semesta (mistisime/pantheisme), kalau tidak sesuai akan celaka atau sakit. Konsep ini kemudian berubah ketika ilmu kedokteran modern mulai menunjukkan hasilnya, dan sekalipun sejak Thales dan kemudian Hipokrates (460-377sM) sudah ada kesadaran bahwa penyakit disebabkan oleh adanya pengaruh faktor alami dan bukannya kekuatan atau roh jahat di luar dirinya, baru pada masa renaissance pengobatan modern mulai berkembang. Hipokrateslah yang mulai memisahkan konsep jiwa dari tubuh, pandangan ini dikenal sebagai dikotomi (dipotong menjadi dua) yang kemudian meresapi pengobatan modern selanjutnya. Galen membakukan pandangan ini di abad-2.

Pada abad-abad pertengahan konsep pengobatan masih memadukan konsep lama dengan konsep baru, tetapi dengan kuatnya pengaruh gereja Katolik, maka pengobatan menjadi urusan gereja, dan sekalipun sebenarnya sejak abad-9 sudah didirikan sekolah kedokteran di Salerno, perkembangannya kurang berarti sampai terjadinya bala 'maut hitam' (black death) di Eropah yang menelan jutaan korban pada abad-14.

Masa renaissance (abad-15 & 16) membuka peluang pengobatan modern berkembang dengan pengertian mengenai penyebab penyakit yang berbeda dengan masa sebelumnya. Andreas Vesalius mulai merinci anatomi manusia dan Ambroise Pare mengembangkan ilmu bedah. Paracelsus menemukan beberapa obat-obatan. Pada abad ke-17, William Harvey menulis buku mengenai peredaran darah yang berpusat jantung dan sejak ditemukannya mikroskop oleh Anton van Leuwenhoek orang mulai menyadari keberadaan bakteri sebagai penyebab banyak penyakit.

Pada abad ke-18 pengobatan berkembang dengan didirikannya rumah-rumah sakit dan pada abad ke-19 kemajuan ilmu bedah dan obat-obatan mulai terasa, apalagi pada abad ini penyakit mulai diteliti dengan seksama baik mengenai penyebabnya dan bagaimana pengobatannya. Fungsi saraf mulai ditemukan dan Louis Pasteur menemukan akibat bakteri yang membuat susu dan makanan lain-nya basi, ia juga menemukan bakteri rabbies. Sejak itu studi hal penyakit bakteri berkembang pesat.

Perkembangan kedokteran bergerak terus dengan ditemukannya obat-obat pembius (anastesi) di Amerika Serikat, di Skotlandia ditemukan cara 'penyucian hama' untuk kebersihan ruangan pengobatan oleh Joseph Lister, dan Florence Nightingale dikenal sebagai pelopor pendidikan para jururawat. Sejak Phillipe Pinel dan kemudian Sigmund Freud, ilmu jiwa mulai diperhatikan. Akhir abad ke-19 ditemukan alat Rontgen yang sangat berarti untuk menganalisis penyakit dan pembedahan.

Abad ke-20 ditandai kemajuan kedokteran. Insulin dikembangkan tahun 1922 untuk mengobati penderita diabetes. Antibiotika pembunuh bakteri dikembangkan tahun 1940, dan setelah perang dunia ke-II kemajuan kedokteran dan pengobatan modern berjalan pesat sekali melampaui perkembangan abad-abad sebelumnya, apalagi dengan dikembangkannya mikroskop elektron dan penggunaan komputer dan sinar laser. Perkembangan ini ditunjang pendidikan kedokteran modern di universitas dan latihan pengobatan dan pembedahan pasien yang makin canggih dengan adanya peralatan eloktronik modern, sehingga pengobatan modern dapat dikata mengalami puncak kejayaannya menjelang akhir abad ke-20.

Sekalipun perkembangan ilmu kedokteran modern dan obat-obatan berjalan begitu pesat pada tengah kedua abad ke-20, kelihatannya ilmu pengobatan modern tidak berdaya menghadapi makin banyaknya penyakit baru yang ditemukan dan penyakit-penyakit lama yang belum tersembuhkan.

Kelemahan fatal ilmu pengobatan modern adalah kesalahan yang sudah dirintis oleh Hipokrates yaitu dipisahkannya manusia menjadi dua yaitu jiwa dan tubuh, dan ilmu kedokteran modern lebih banyak berurusan dengan tubuh kedagingan manusia dan sekalipun sejak Freud aspek mental dan kejiwaan manusia mulai diperhatikan, secara umum kedokteran hanya berurusan dengan aspek fisik manusia. Akibatnya, banyak penyakit yang berkaitan dengan aspek psikis manusia tidak terobati.

Sejalan dengan ketidak mampuan kedokteran modern untuk menyembuhkan banyak penyakit dan dengan adanya kekecewaan manusia pada modernisasi yang berorientasi rsionalisme dan materialisme, manusia kembali kepada cara-cara penyembuhan lama. Gerakan Zaman Baru (New Age) menawarkan pengobatan alternatif.  ‘New Age’ adalah kebangunan kembali agama animisme, okultisme, dan mistisime yang diberi jubah modern. Dalam buku ‘Spiritual Healing’ disebutkan, bahwa:

“Kebangunan kembali minat akan kesembuhan iman tidak diragukan disebabkan gerakan New Age. Ini menyebutkan bahwa umat manusia memasuki zaman Aquarius dan manusia sedunia mengalami kebangunan spiritual. Termasuk agenda New Age adalah kegandrungan mempraktekkan penyembuhan alternatif, isu-isu hijau, dan minat pada praktek-praktek okultis dan spiritualis.” (Martin Daulby & Caroline Mathison, h.13-14)

Kesembuhan ilahi yang banyak dipraktekkan sebagian umat Kristen juga mengacu pada konsep serupa dimana orang tidak beriman dipercaya akan sakit dan kalau beriman sembuh.

Kita harus menyadari bahwa penyembuhan modern dan penyembuhan alternatif sering berada dalam dua kutub, padahal keduanya seharusnya saling mengisi, sehingga istilah alternatif tidak cocok dan seharusnya digantikan dengan istilah komplementer, komprehensif, atau integratif. Sekalipun pengobatan alternatif menggunakan konsep ‘holistik’ namun pengertiannya berbau mistik bahwa holisme itu berkaitan dengan kesatuan hakekat manusia dengan hakekat semesta dan kurang melihat aspek jasmani, sebaliknya konsep ‘dikotomi’ pengobatan modern juga berat sebelah yang mengabaikan holisme tubuh manusia sebagai kesatuan badan dan jiwa. Pendekatan yang melibatkan keduanya diperlukan, namun bagaimana?

Pelayanan kesembuhan Yesus, sekalipun umumnya bersifat mujizat supra-alami, Ia juga menyembuhkan secara alami dengan obat (orang buta yang diolesi tanah matanya), demikian juga Paulus menyuruh Timotius minum anggur agar pencernaannya tidak terganggu. Dalam Alkitab kita melihat bahwa penyembuhan perdukunan dibedakan sekali dengan penyembuhan ilahi. Mujizat Musa berbeda sekali dengan mujizat ‘ahli sihir Mesir’ (Kel.7-11), demikian juga mujizat Filipus berbeda sekali dengan mujizat ‘Simon si Sihir’ (Kis.8:4-25) sekalipun keduanya memiliki kemiripan.

Dasar penyembuhan perdukunan/kebatinan adalah pengolahan kekuatan batin (chi, ki, reiki, prana, kundalini) yang dipercaya sebagai bagian ‘kekuatan semesta’ (‘kuasa besar’ dalam istilah Simon si sihir), baik melalui meditasi (positif thinking, visualisasi, & mantra), latihan pernafasan,  maupun gerak tubuh. Di sini faktor  Allah pencipta ditolak, dan manusia menjadi juruselamat dan penyembuh dirinya sendiri.

Sekalipun ada hal-hal dalam penyembuhan alternatif yang bertumpang tindih dengan penyembuhan kedokteran, kita perlu peka untuk bisa membedakan mana yang bernafas perdukunan/kebatinan/okult, mana yang bersifat pengobatan modern, dan mana yang bersifat kesembuhan ilahi.

Akupunktur, belakangan ini sudah diselidiki kedokteran modern, dan memang ditemukan ‘trigger points’ pada kulit manusia yang dapat dirangsang untuk penyembuhan, dan sekalipun ada beberapa trigger-points yang bertumpang tindih dengan accu-points, tidak semuanya sama. Ini berarti bahwa ada points yang bisa dijelaskan sedangkan points lain membutuhkan terapi mistik/okult untuk mencapai kesembuhan, dan banyak titik lain bersifat plasebo. Dalam penelitian penggunaan akupunktur untuk anastesi, jelas hasil yang dicapai kedokteran modern tidak bisa digantikan oleh akupunktur.

Sering kita diberi gambaran keliru seakan-akan ‘Aura’ itu terbukti dengan ‘foto Kirlian’. Faktanya, foto Kirlian tidak membuktikan realita Aura, karena foto Kirlian lebih memberi gambaran radiasai panas tubuh yang berbeda dengan konsep mengenai chi & aura kebatinan, dan pemusatan cahaya yang terlihat dalam foto Kirlian tidak sama dengan titik-titik cakra pada aura.

Meditasi yang di Indonesia banyak dipopulerkan oleh penganut agama Hindu seperti Luh Ketut, Merta Ada, dan Anand Krisnand, maupun yang dipopulerkan suhu-suhu Taoisme (tai-chi, chi-kung, waitankung) adalah usaha manusia menyatukan dirinya dengan hakekat semesta. Manusia tidak berfikir mengenai Tuhan (sekalipun dibuat pura-pura begini dalam Reiki) tetapi bagaimana manusia menyatukan diri dengan kekuatan semesta. Ini berbeda sekali dengan konsep Doa. Sekalipun dalam Mazmur bahasa Inggeris dipakai terjemahan ‘meditate’ yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan ‘merenungkan’, konsepnya berbeda. Doa Kristen adalah dialog untuk berbicara dengan obyek yang jelas, apakah itu Tuhan pencipta manusia, karya Tuhan yang besar, atau firman Tuhan.

Kedua bentuk meditasi dan doa memang menghasilkan situasi hening dan menyembuhkan, tetapi kalau kita bermeditasi, itu artinya kita ‘meniadakan kehadiran Tuhan’ sedangkan dalam doa, kita ‘menghadirkan pribadi Tuhan dalam hidup kita yang kehendak-Nya hendak kita dengar’. Karena itu, umat Kristen tidak bermeditasi tetapi berdoa, dan bila doa yang disertai dengan iman dapat membuka diri kepada langkah penyembuhan Tuhan, mengapa kita lari kepada meditasi? Doa dan nyanyian Kristiani bukan saja membuka ke arah proses penyembuhan psikis dan fisis, tetapi juga membuka diri kepada pengampunan dosa. (Yak.5:13-116).

Sehubungan dengan beberapa contoh di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa ahli-medis dan para-medis Kristen perlu menyadari untuk tidak lari kepada dua kutub baik kedokteran yang memandang tubuh manusia secara dikotomis, atau kutub lain yang menganggap manusia holistik dalam pengertian perdukunan/kebatinan, melainkan perlu menggali firman Tuhan mengenai holisme Alkitab yang melihat manusia sebagai mahluk jasmani yang sekaligus rohani dalam kesatuannya yang integratif (Kej.2:7), karena itu penyembuhannya harus memanfaatkan hasil kedokteran yang Tuhan izinkan sekaligus menggunakan cara-cara rohani seperti doa & puasa (yang penuh kuasa) dan juga kesembuhan ilahi memohon mujizat Tuhan.

Dengan pemahaman yang sama diharapkan para ahli-medis dan para-medis Kristen yang takut akan Tuhan dapat bersikap dengan tepat dalam membuka diri akan pengobatan alternatif yang saat ini sedang ngetrend.  Amin.

Salam kasih dari Herlianto/YABINA ministry

[_private/r_list2.htm]