Artikel 048_ 2002                 


Sabat dan Yesus

Menyambung artikel soal SABAT ATAU MINGGU, ada baiknya membahas masalah Sabat dan sikap Yesus sendiri terhadap SABAT tersebut. Pada awal hidupnya, ketika masih kecil dan belum menjalankan tugas pelayanannya, Yesus masih hidup dibawah Taurat sesuai adat istiadat Yahudi dalam pandangan Farisi. Ia disunat pada hari kedelapan dan kemudian menjalani ritus pentahiran dan penyerahan anak sulung (Luk.2:21-24), dan selanjutnya masih mengikuti ritus Paskah Yahudi (Luk.2:41-42).

Setelah pembaptisan oleh Yohanes Pembaptis kita mulai melihat pandangan Yesus terhadap Taurat mulai  berseberangan dengan orang Farisi, Ahli Torat, dan adat istiadat Yahudi. Yesus mulai menyatakan diri sebagai ‘Anak Allah’ yang mengakibatkan ia dianggap menghujat, dan sekalipun menurut kebiasaan pada hari Sabat Ia biasa masuk ke rumah ibadat, kita dapat melihat bahwa kesempatan itu digunakan untuk menyatakan otoritasnya kepada umat Yahudi dengan membaca Alkitab dan mengajar, bahkan kemudian Ia menyatakan dirinya memiliki Roh Tuhan dan diurapi Tuhan untuk untuk menjalankan pembebasan dan memberitakan Tahun Rahmat Tuhan (Luk.4:14-30). Tahun Rahmat Tuhan adalah tahun ke-50 yaitu Yobel (Im.25:10dst) yang merupakan Sabat Akbar sebagai penutup 7 kali Sabat tahun. Menarik sekali mengamati bahwa Sabat itu artinya tidak hanya hari Sabtu tapi bisa juga tahun ke-7, dan juga tahun ke-50, tahun pertama dari 7 tahunan setelah 7X7 tahun. Yesus menyatakan diri sebagai Tuhan atas hari Sabat (Mrk.2:28) dan diri-Na telah menggenapi ‘Tahun Rahmat Tuhan’ atau ‘Sabat Yobel’ itu (Luk.4:21).

Kotbah di bukit (Mat.5:17-48) menunjukkan sikap Yesus terhadap Taurat. Ia mengatakan bahwa “Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (ay.17) bahkan dikatakan bahwa ‘satu iota atau satu titik pun tiada akan ditiadakan dari hukum Taurat” (ay.18), dan Ia mengatakan bahwa kita harus mengajarkan dan melakukan segala hukum Tuhan” (ay.19). Namun, apakah maksudnya bahwa Taurat harus tetap dijalankan seperti pengertian Farisi dan ahli Taurat? Dari konteksnya kita dapat melihat bahwa ternyata tidak.  Yesus memberi pengertian Taurat yang lebih dalam secara rohaniah berbeda dengan pengertian orang farisi yang bersifat harfiah dan jasmaniah. Membunuh bukan sekedar mematikan orang tapi juga kemarahan (ay.21-22), nafsu di hati sudah merupakan zinah (ay.27-28), sumpah digantikan dengan berkata benar (36-37), hukum balas ‘mata ganti mata’ diganti maaf memberi pipi (38-39),  membenci musuh diganti dengan mengasihi musuh (ay.43-44), dan lain-lain. Yesus ternyata memberi pengertian mengenai Taurat yang benar berbeda dengan orang Farisi, ahli Taurat dan tradisi Yahudi mengertikannya.

Soal adat-istiadat Yahudi seperti pengertian ‘najis’ dan ‘kudus’ juga membedakan Yesus dengan orang Farisi dan ahli Taurat (Mrk.7:1-5), tidak ada makanan yang najis sebab yang menajiskan adalah yang keluar dari mulut (ay.15-23). Yesus mengatakan: “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat-istiadat manusia” (ay.6-8).

Dalam soal Sabat, ternyata Yesus memberikan pengertian yang berseberangan pula dengan orang Farisi dan ahli Torat. Yesus mengatakan bahwa: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk Sabat, jadi Anak Manusia adalah juga Tuhan atas hari Sabat” (Mrk.2:27-28). Ayat ini sering di salah tafsirkan seakan-akan menunjukkan perintah untuk memelihara Sabat, padahal konteks perikop ayat itu berbicara sebaliknya, yaitu membantah pengertian orang Farisi mengenai memelihara Sabat! Dalam konteks ayat itu jelas Yesus menunjukkan sikap membela pelanggaran Sabat, tetapi itu tidak berarti melanggar Sabat Allah melainkan melanggar Sabat yang ditafsirkan keliru oleh orang Farisi dan ahli Taurat.

Sabat adalah suatu perhentian dan pembebasan namun orang Farisi dan ahli Taurat menjadikannya suatu kesukaran dan perbudakan. Yesus sering menyembuhkan orang pada hari Sabat dan ini dianggap oleh orang Farisi dan ahli Taurat sebagai melanggar Sabat bahkan mereka ingin membunuh-Nya karena itu (Mat.12:9-14). Yesus mengecam orang Farisi dan ahli Taurat yang “mengikat beban berat dan meletakkan di atas bahu orang .... mereka menekankan ritus ibadat lahiriah dan miskin rohaniah.” Ini dikatakan oleh Yesus dalam ‘nama Tuhan!” (Mat.23). Dari sini kita dapat melihat apa arti ‘tidak meniadakan tetapi menggenapi Taurat’ yaitu memberikan pengertian ‘hakekat daripada tersurat’. Demikian juga inti Sabat yang ‘tersurat’ diberi pengertian ‘hakekat’nya oleh Yesus sebagai sesuatu yang mendatangkan damai sejahtera dan kelegaan kepada manusia. Yesus mengatakan: “marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat.11:28). Kata ‘kelegaan’ (terjemahan lama: sentosa) adalah terjemahan kata Yunani ‘katapausis’ yang merupakan terjemahan kata bahasa Ibrani ‘Sabbath.’

Sikap Yesus terhadap Sabat secara konsekwen dinyatakan dengan kebangkitannya bukan pada hari Sabat Sabtu tetapi ‘pada hari pertama dalam minggu’ (Mat.28:1). Ini menarik karena ke’tuhan’annya tidak dinyatakan pada hari ‘Sabat Sabtu’ tetapi pada ‘hari Minggu’ karena ia telah mendatangkan Sabat Yobel bagi manusia. Demikian juga pada hari itu Ia mendatangi para murid yang berkumpul dan menghadirkan “damai sejahtera dan sukacita” (Yoh.20:19-23). Seminggu kemudian pada hari minggu ketika para murid kembali berkumpul, para murid mengatakan kepada Thomas bahwa: “kami melihat Tuhan” dan ketika Thomas sendiri melihatnya keluarlah pengakuan “Ya Tuhanku dan Allahku” (Yoh.20:24-29), pengakuan jemaat awal yang menegaskan bahwa ‘Yesus adalah Tuhan’ yang identik dengan pengakuan kepada Yahweh sendiri (Mzm.35:23-24).

Dari sinilah kemudian timbul istilah ‘Hari Tuhan’ (kuriake Hemera) untuk menyebut hari pertama dalam minggu dimana Yesus menyatakan diri sepenuhnya sebagai ‘Tuhan’. Rasul Yohanes melihat penglihatan pada ‘hari Tuhan’ (Why.1:10) dan ‘hari Tuhan’ juga akan menunjukkan hari kedatangan-Nya yang keduakali untuk menghakimi manusia (Kis.2:20;2Ptr.3:10). Kaum Adventis berargumentasi bahwa ‘kuriake Hemera’ adalah hari Sabtu karena dalam PL hari Sabat disebut sebagai ‘hari Allah’, tetapi kita melihat bahwa istilah ‘hari Tuhan’ dalam PB tidak ditujukan kepada Yahweh melainkan kepada Tuhan Yesus.

Menarik untuk diketahui bahwa setelah ‘bangkit pada hari minggu’ Yesus menyatakan diri pada para murid pada ‘hari minggu’ dimana mereka berkumpul mengenang hari kebangkitan Yesus untuk makan roti dan doa (band. Kis.20:7). Ia tidak menyatakan diri pada hari Sabat kepada orang orang Yahudi, demikian juga pada hari kebangkitan-Nya ia mengaruniakan ‘Roh Kudus’ kepada murid-murid-Nya (Yoh.20:22), dan Roh Kudus dicurahkan kepada umat manusia pada ‘hari Minggu’ yaitu pada hari ‘Pentakosta’ (hari ke-50). Semua ini menunjukkan bahwa Tuhan Yesus Kristus memang menghendaki kita menjadikan ‘hari Minggu’ sebagai ‘hari Tuhan’ dimana kita menjalankan Sabat, bukan dalam pengertian Sabat Yahudi, namun dalam pengertian ‘Tahun Rahmat Tuhan’, Sabat Akbar yang membebaskan umat manusia.

Berbeda dengan Mrs. Ellen Gould White, tokoh kultus Adventisme, yang mengatakan bahwa “Pengabaian Sabat adalah dosa yang paling besar dari segala dosa, dan dosa itu dilakukan oleh gereja-gereja,” Tuhan Yesus justru hadir dan merestui pertemuan ibadat murid-murid-Nya pada ‘hari Minggu’ dan mengatakan: “Eireenee humin” (damai sejahtera bagi kamu). Di sinilah kita melihat perbedaan antara Taurat Perjanjian Lama yang penuh beban dan Anugerah Perjanjian Baru yang penuh damai sejahtera. Karena itu umat Kristen harus sadar untuk menghayati anugerah Tuhan Yesus yang kita kenang dalam pertemuan ibadat kita setiap hari minggu dengan kasih.

Salam kasih dari Herlianto/YABINA ministry


[ YBA Home Page | Artikel sebelumnya]