Artikel 036_ 2002                 


Doktor Herlianto!

Gelar di atas nyaris disandang baru-baru ini bila tidak ada sedikit rasa malu, soalnya, kemarin dulu (awal Maret 2002) ada surat diterima yang disampulnya ada tulisan cetak berbunyi PENGANUGERAHAN GELAR KEHORMATAN.

Surat itu dikirim oleh ‘Lembaga Informasi Fasilitas Indonesia’ yang akronimnya LIFI (mirip LIPI yang direkturnya pernah saya ajak mengerjakan proyek penelitian Bappenas), dan dikirim oleh ‘Sekertariat Northern California Global University’ agar cukup keren untuk menarik minat calon yang ditawari. Dibawah kop surat itu ada tulisan Perihal: ‘Panggilan Wisuda Gelar Kehormatan’ dan alinea pertama surat itu berbunyi: “Berdasarkan pilihan dan hasil Sidang Luar Biasa Guru Besar / Dosen Northern California Global University (NCGU) di Jakarta belum lama ini Anda dinyatakan berhak sebagai penyandang Gelar Kehormatan Strata I, II, dan III (BBA, BSc, MBA, M.Sc., MHA, Ph.D., DBA, Doctor, Profesor). Anda boleh memilih salah satu gelar tersebut sesuai pendidikan tertinggi yang dimiliki.”

Promosi lainnya yang disebutkan dalam lampiran adalah ‘Pejabat / Tokoh Mayarakat Yang Telah Menerima Pengharapan Gelar DR-HC (GELAR KEHORMATAN) adalah DR. Hamzah Haz, DR. Agum Gumelar, DR. K.H. Zainudin MZ, dan banyak lainnya .... dan melalui tilpon diberitahukan bahwa kalau Anda ikut wisuda kali ini akan bersama Sri Bintang Pamungkas. Serendah itukah mental politikus yang ‘bintangnya’ belum terang itu, padahal Ia sudah memiliki gelar Doktor beneran dan dosen UI?

Inilah suatu sisi komersialisasi gelar yang makin marak di Indonesia yang a.l. bekerjasama dengan institusi-institusi semacam Kennedy University dan JIMS yang sudah dilarang tetapi masih laku karena banyak pembelinya, soalnya di tengah eforia masyarakat akan kerennya gelar, gelar itu mudah dicapai dan murah tinggal memilih mau yang mana asalkan membayar biaya wisudanya. Iseng-iseng sekertariat yang alamatnya di Cimanggis itu ditilpon dan terdengarlah bunyi sanjungan yang ‘membuai hati’ dimana dikatakan: “Bapak dipilih oleh sidang guru besar dari Amerika Serikat karena prestasi bapak di masyarakat” .... biaya wisudanya ... untuk S1 = 7,5 juta, S2 = 8,5 juta, dan S3 = 12,5 juta rupiah.”

Yah, bukannya tidak mau memperoleh gelar namun yang penting kan isi dan prosesnya (sekalipun tanpa gelar) daripada gelarnya (apalagi kalau tidak berisi), dan begitu murahkah gelar doktor (Ph.D. lagi) yang cuma seharga 1.250 dollar saja itu? padahal penulis ketika mendaftar ke University of Chicago, biaya yang harus dikeluarkan lebih dari 35.000 dolar! Suatu jumlah yang tak terjangkau sekalipun ditawari beasiswa sebagian!

Yang lebih menarik untuk disimak adalah praktek ‘tidak tahu malu’ ini juga melanda ‘pendeta/penginjil’ Indonesia sudah sejak belasan tahun yang lalu. Gejala ini mencolok di tahun 1988-an, dan bacalah tulisan di salah satu tabloid gereja berikut:

“Tidak banyak orang yang tahu bahwa penginjil E.W.FRANK dari International Christian University, Pertland, Amerika Serikat adalah seorang insinyur mesin. ... Satu hal yang unik yaitu pelayanannya dalam beberapa tahun terakhir ini. ... melalui ICU yang didirikannya di Amerika yang didaftarkan pada Sekertariat Negara Amerika Serikat, ia mempromosikan dalam arti memberi kesempatan kepada hamba-hamba Tuhan untuk memperoleh gelar sarjana, doktor ataupun master di bidang pelayanan. ... para calon penerima harus menyusun tesis. ... ICU sebenarnya mempunyai gagasan untuk membuka sekolah Alkitab, namun karena membutuhkan dana sampai 8 juta dolar Amerika, maka saat ini sedang digumuli dalam doa. ... Untuk tingkat Bachelor harus punya pengalaman melayani Tuhan selama sedikitnya 10 tahun. Untuk gelar Master sedikitnya 15 tahun dan untuk gelar Doktor sedikitnya harus memiliki pelayanan selama 20 tahun.” (Warta Bethany, Nopember 1988, h.8)

Wah, insinyur mesin yang cuma bisa bahasa India (ia orang India) dan Inggeris (karena tinggal di USA) yang sekolah Alkitabnya baru digumuli dalam doa, sudah beraninya menjual gelar yang kala itu sekitar 3 jutaan harganya. Dan bagaimanakah jawaban surat dari American Cultural Center (sekarang Aminef) atas pertanyaan penulis? 

“Please be aware that International Christian University is NOT an accredited university. The academic program has not been evaluated by a regional acrrediting organization and does not meet the minimum standard required to become accredited.”

Seorang tokoh gereja yang heran karena pendetanya tidak kelihatan masuk kampus tapi tiba-tiba menyandang gelar doktor dari Frank, ketika mengunjungi anaknya yang sekolah di USA menyempatkan mengunjungi ‘kampusnya Frank’, dan apa yang dilihatnya? Sebuah ruang kantor kecil tanpa mahasiswa dan tanpa perpustakaan!

Entah roh apa yang menghinggapi para pendeta/penginjil Indonesia karena sejak itu makin banyak yang memburu gelar demikian. Ada yang sudah punya gelar doktor (beneran) merasa minder memimpin sekolah Alkitab tanpa gelar teologi dan ketika berlibur ke Amrik pulangnya menyandang gelar doktor tambahan. Tidak salah kritik majalah Eternity yang pernah membahas gejala ini sebagai ‘conservative inferiority complex,’ bahkan Christianity Today pernah membuat karikatur dimana digambarkan seseorang masuk ke ‘telephone booth’ dan menilpon dan ketika keluar berjubah ala Superman dengan tanda DD didadanya (Doktor Dadakan?).

Di Yogya ada Sekolah Teologia yang bekerjasama dengan Amrik kemudian membuka gelar D.Min. (ministry) yang lamanya setahun dan dengan syarat TOEFL yang cuma 500. Kasihan Dorothy Marx di Tubingen dan Eka Dharmaputera di Boston yang lama studinya 5 tahunan baru mendapat gelar doktor ditengah inflasi gelar demikian. Gelar doktor umumnya menuntut nilai 600 dan lamanya minimal tiga tahunan. Pernah ketika mencoba mendaftar ke Princeton harus menguasai secara aktif bahasa Ibrani, Yunani dan salah satu dari bahasa Jerman atau Perancis. Dapat dimaklumi kalau lulusan STT-amatir yang menyandang gelar D.Min. karena takut dibilang ‘doktor minder’ (D.min) lalu menulis gelarnya menjadi Dr. saja, karena agaknya susah bagi seorang yang TOEFLnya 500 membaca buku-buku ilmiah berbahasa Inggeris (bukan buku Harry Potter), sehingga dengan kelangkaan bacaan bahasa Inggeris tentu sulit mengadu argumentasi dengan para theolog beneran!

Di Surabaya ada pendeta sukses yang tidak pernah masuk perguruan tinggi membeli gelar doktor dari E.W. Frank di atas dan tak lama kemudian memperoleh dua gelar doktor kosong lainnya. Terakhir ia memperoleh gelar DD (divinity) dari Sekolah Teologi di Yogya itu (bukan Duta Wacana), dan buntutnya ia bekerjasama dengan ST tersebut untuk mengadakan kursus singkat teologi selama seminggu untuk para pengusaha dengan gelar D.Min. dengan bayaran 25 juta rupiah perorang. Bagaimana para pengusaha demikian tidak bisa dibilang sebagai ‘dokter dadakan yang minder’ bila berinteraksi dengan orang lain?

Belakangan ada juga konsorsium pasca sarjana teologia yang berafiliasi juga ke Amrik yang membuka gelar off campus dengan cukup melakukan tutorial (bimbingan membuat desertasi) dibawah doktor-doktor paruh waktu yang lokasinya betebaran di banyak kota (yang umumnya tidak pernah menulis buku), dengan syarat TOEFL 500 dengan 36 SKS. Biasanya pemberian gelar dilakukan institusi agar memperoleh nama dan uang dan menyenangkan hati pejabat pemerintah atau gereja (KKN), bahkan seorang pejabat Depag pernah mendapat gelar semacam itu dengan membuat yang katanya ‘desertasi’ yang tidak lain cuma sekedar ‘laporan aktivitas.’ Penulis jadi teringat pernah membuat proposal doktoral di ITB yang proposalnya belum selesai sekalipun sudah 9 bulan dikerjakan secara intensif dan kemudian kandas karena promotornya diangkat menjadi Deputy Menteri di Bappenas dan akhirnya meninggal dunia. (mau tahu? Promotor itu memiliki 2 gelar doktor tidak main-main, dari MIT dan Harvard).

Tulisan ini sebagai himbauan kepada mereka yang berkehendak baik dan tidak rendah diri agar rendah hati belajar terus untuk menggapai pengetahuan yang makin luas dan tinggi, bukan sekedar sebagai status, namun sebagai bekal dalam menghadapi jemaat yang dilayani dan masyarakat umum yang sekarang rata-rata berpendidikan tinggi dan berwawasan luas.

Salam kasih dari Herlianto/YBA


[ YBA Home Page | Artikel sebelumnya]