Artikel 8 | 2012


 

 

 

sambungan dari: Yudas Menyelamatkan Yesus ?

 

APAKAH YESUS DIMAKAMKAN DI TALPIOT ?

Film “The Lost Tomb of Jesus” disutradarai oleh James Cameron dan Simcha Jacobovici diputar dalam siaran Discovery Channel pada tanggal 4 Maret 2007 setelah sebelumnya, pada tanggal 26 Februari 2007, dipromosikan dalam konferensi pers di kota New York. Film ini menimbulkan reaksi dimana-mana karena menyimpulkan bahwa Yesus dimakamkan dan ditemukan peti tulangnya di Talpiot disebelah selatan Yerusalem.”

Ada baiknya kita melihat latar belakang orang-orang dibalik pembuatan film ini sehingga mengerti mengapa film itu mengarah pada sensasi. Cameron adalah seorang agnostik, menyutradarai film semacam “Titanic”, dan “Terminator”. Wikipedia mencatat Cameron menerima Award dari Science Fiction and Fantasy Writers of America (1991). Jacobovici adalah orang yahudi sutradara film dokumenter yang kontroversial, yang berkaitan dengan pembelaannya akan sejarah bangsa Yahudi. Semangatnya yang membela keyahudian dan perannya sebagai tokoh zionis terungkap dalam “agenda” film itu.

The Lost Tomb of Jesus

Film “The Lost Tomb of Jesus” diawali dengan “praduga tak bersalah”-nya Mahkamah Agama Yahudi, yang menurut Injil disebut telah menaburkan dusta bahwa jasad Yesus dicuri oleh para murid-Nya (Mat. 28:13). Bertitik tolak dari anggapan bahwa Mahkamah Agama Yahudi tidak berdusta, tentulah jasad Yesus benar-benar dicuri dan dipindahkan oleh para murid-Nya ke tempat lain secara rahasia. Hal itulah yang ingin ditunjukkan Jacobovici, dan tempat rahasia itu adalah makam Talpiot. Namun, hipotesis bahwa “Mahkamah Agama Yahudi” benar justru menjadikan film itu kontradiktif. Jika dalam film itu dikatakan bahwa para murid membawa jasad Yesus ke kuburan rahasia, pada kenyataannya kuburan itu adalah kuburan keluarga dengan gerbang besar dan mencolok, yang tentu sudah lama ada dan digunakan beberapa generasi, sehingga aneh kalau kuburan itu dianggap kuburan rahasia.

Untuk mendukung “agenda” kasatmata kedua pembuat film itu, dihadirkanlah dua narasumber yang berlatar belakang teologi liberal (yang menolak mukjizat dan supranatural dalam Injil serta anti kebangkitan) yang radikal karena pernyataan mereka yang kontroversial, yaitu John Dominic Crossan dan James D. Tabor.

Crossan adalah pendiri Jesus Seminar (1985) yang mengemukakan teori bahwa jasad Yesus kemungkianan tidak dikubur, tetapi dibiarkan tergantung di salib untuk menjadi mangsa anjing-anjing dan binatang pemangsa lainnya. Namun, pendapatnya itu menjadi tidak konsisten karena ia kemudian mendukung teori bahwa Yesus dikubur di makam keluarga Talpiot secara biasa dan aman-aman saja.

Tabor dikenal dengan bukunya, Jesus Dinasty, adalah orang yang menghidupkan kembali fitnah Celsus, yaitu bahwa Yesus bukan Anak Allah dan bukan anak Yusuf, melainkan  anak tentara Romawi bernama Panthera atau Yeshua ben Panthera. Bukan hanya itu, pribadi Maria yang sangat dihormati dan dianggap tetap perawan dalam gereja Roma Katolik pun dijadikan sebagai perempuan yang diperkosa tentara penjajah atau kawin dengan Klopas, saudara Yusuf, setelah Yusuf mati.

Dari tayangan awal “praduga tak bersalahnya” Mahkamah Agama Yahudi yang ditunjukkan dalam film itu dan motivasi kedua sutradaranya, sudah terbaca adanya konspirasi ke mana agenda film itu akan diarahkan. Di samping itu, banyak hal dalam film itu yang tidak dimulai dari data untuk kemudian dianalisis dan disimpulkan. Namun, justru asumsi atau hipotesislah yang disodorkan sejak awal untuk kemudian dicari pembenarannya dengan cara mencatut komentar dari beberapa tokoh, seperti dari bidang arkeologi, statistik, DNA, dan finger-prints (spektrum unsur). Pendapat atau komentar mereka itu pun hanya dikutip sepotong-potong.

Pada awal film itu yang dibicarakan sebenarnya adalah tentang nama “Yesus dari Nazareth”, nama yang biasa disebut dalam kitab Injil. Namun, nama “Yesus anak Yusuf” di makam Talpiot itu yang kemudian diidentikkan sama dengan “Yesus dari Nazareth”. Nama di Yudea biasa dikaitkan dengan ayah sedang nama di Galilea dikaitkan tempat kelahiran.

Di Makam Talpiot, yang ditemukan pada tahun 1980 itu, ditemukan sepuluh ossuary, yang enam di antaranya memiliki inskripsi dan empat lagi  tidak –salah satunya kemudian hilang. Keenam ossuary itu memiliki inskripsi yang ditafsirkan sebagai nama “Yesus anak Yusuf, Maria, Matiah, Mariamne e Mara, dan Judah anak Yesus”. Semula lima nama pertama dianggap sebagai nama keluarga Yesus yang sesuai dengan kitab Injil, tetapi nama Matiah kemudian dikurangi. Amos Kloner, yang ikut serta dalam pembukaan makam Talpiot pada tahun 1980, menyebutkan bahwa nama-nama itu sangat umum di Israel. David Menorah, kurator museum Israel, menyebutkan bahwa menyamakan kelompok nama itu dengan nama keluarga Yesus adalah tidak masuk akal. Lagi pula, pemasukan ossuary Yakobus ke dalam jajaran Talpiot itu pun terlihat dipaksakan. Pertanyaannya adalah apakah “Mariamne e Maraitu termasuk keluarga Yesus?

Mariamne e Mara

Asumsi yang kemudian dibuat adalah bahwa Mariamne e Mara sebenarnya Maria Magdalena yang dianggap istri Yesus. Hipotesis dini itu kemudian dicarikan pembenarannya dengan berbagai cara yang ditolak para ahli. David Manoreh, Tal Ilan, dan Amos Kloner, menyebut bahwa kalau nama itu disertai nama Magdala, kemungkinan ke arah itu ada. Walaupun pada kenyataannya nama Magdala tidak dikuburkan di sana Jacobovici tetap memaksakan diri/membenarkan bahwa Mariamne e Mara adalah Maria Magdalena istri Yesus. Ahli forensik yang memeriksa cetak DNA juga menyangkal bahwa Mariamne e Mara sebagai istri Yesus. Ketika Jacobovici ditanya mengenai hal itu, ia berkata, “I’m not a scientist ... I’ve done my job as a journalist.”

Meskipun demikian, “agenda” di dalam film itu, yaitu bahwa makam Talpiot sebagai makam keluarga Yesus yang beristrikan Mariamne e Mara dan beranak Yudah, didukung oleh Tabor. Padahal, dalam bukunya, Jesus Dinasty, ia tidak menyebutkan Maria Magdalena sebagai Mariamne maupun istri Yesus. Ia hanya menyebutkan nama Mariamne sebagai nama istri Herodes. Bahkan, ia menolak dan menganggap sebagai teori fantastis yang tidak ada rujukannya dalam sejarah kalau menyebut Yesus mengawini Maria Magdalena dan memiliki anak.

Jacobovici menyebutkan bukti lain bahwa dalam naskah The Acts of Phillip disebutkan bahwa Mariamne adalah saudara Filipus dan menjadi penginjil yang mengajar dan membaptis –yang memiliki gambaran yang mirip dengan Maria Magdalena. Namun, menurut Francois Bovon tidak mungkin Mariamne itu adalah Maria Magdalena karena Mariamne dalam The Acts of Philip menganut aliran selibat. Pada ayat 50, Filipus berkata kepada Areus, “Do no wrong, and leave thy wife.” Jadi, tidak konsisten kalau Filipus menyuruh seorang suami menceraikan istrinya, sedangkan adiknya sendiri, yang penginjil, ternyata kawin.

Dengan demikian, hipotesis Mariamne e Mara sebagai Maria Magdalena lemah. Kalau nama itu dikeluarkan dari keluarga Yesus, perbandingan kemungkinannya menjadi semakin kecil, yaitu satu berbanding belasan saja. Dengan kata lain, akan sangat banyak dijumpai keluarga di Israel dengan kombinasi nama yang sama dengan tiga nama yang disebut sebagai keluarga Yesus di makam Talpiot itu.

Yang harus dicermati adalah pengakuan Oded Golan pemilik ossuary (peti tulang) Yakobus di pengadilan, yaitu bahwa ossuary itu berasal dari Silwan (bekas tanah di ossuary itu sama dengan tanah di Silwan). Golan sendiri diadili karena dianggap memalsukan inskripsi puluhan barang antik, termasuk inskripsi Yakobus, yang diaku telah dibelinya pada tahun 1970-an. Padahal, pada tahun 1978 pemerintah Israel mengeluarkan undang-undang yang menyebutkan bahwa semua penemuan barang antik menjadi milik negara. Laboratorium forensik FBI yang menyelidiki foto yang diambil di studio Golan, tempat ossuary itu berada, menentukan bahwa foto itu diambil pada tahun 1970-an. Makam Talpiot baru ditemukan pada tahun 1980.

Hipotesis bahwa ossuary Yakobus itu berasal dari Talpiot di dalam film “The Lost Tomb of Jesus” menunjukkan bahwa film itu dibuat memaksakan diri. Bila ossuary Yakobus berasal dari Talpiot, berarti inskripsi di sana, yang menyebutkan nama Yakobus adalah palsu karena menurut Amos Kloner dan Joe Zias, yang pertama kalinya mencatat penemuan itu, keempat ossuary lainnya –termasuk yang hilang– tidak memiliki inskripsi apa-apa. Konsekuensinya, bila inskripsi di ossuary Yakobus itu asli, jelas bahwa ossuary itu bukan berasal dari makam Talpiot. Hal itu juga menunjukkan bahwa tulang Yakobus tidak berasal dari makam Talpiot.

Yudah Anak Yesus ?

Asumsi lain yang dikemukan untuk mendukung teori bahwa makam itu adalah makam keluarga Yesus dan bahwa Maria Magdalena adalah istri Yesus serta mereka memiliki anak yang disebutkan sebagai “murid yang dikasihi” dalam Injil Yohanes. Bahkan, di akhir film itu disebutkan bahwa anak itu dipeluk oleh Maria Magdalena. Anak itu disebutkan sebagai Yudah, yang tertulis di ossuary Talpiot, ini jelas jauh dari kebenaran Injil. Dalam Injil Yohanes (19:26) sendiri disebutkan bahwa Yesus berbicara kepada Maria, ibunya, agar “murid yang dikasihi-Nya” itu menerima Maria di rumahnya (dari konteks Injil Yohanes, diketahui bahwa “murid yang dikasihi” itu adalah Yohanes, penulis Injil itu).

Asumsi itu juga justru menimbulkan tanda tanya lebih besar. Misalnya, kalau benar Yesus mengawini Maria Magdalena dan segera memiliki anak, anak itu baru berumur sekitar dua tahun ketika Yesus disalibkan. Kalau sejak di Nazareth Yesus sudah mengawini Maria Magdalena (itu lebih mustahil), tentu anak itu masih remaja dan tidak mungkin disembunyikan identitasnya, Jadi, bagaimana anak itu sudah bisa memiliki rumah dan bisa mengajak ibunya (di film itu Maria dianggap Magdalena) tinggal bersamanya? Kalau Maria Magdalena memang benar ibunya, bukankah mereka sudah tinggal serumah?

Film itu semakin menunjukkan “kepanikannya” untuk menghadirkan bukti-bukti autentik bahwa kuburan di Talpiot itu adalah kuburan keluarga Yesus. Jika Tabor berteori bahwa  perkawinan Yesus dan Maria Magdalena itu disembunyikan adalah untuk menyembunyikan garis keturunan/dinasti Yesus, harus diingat bahwa di hadapan massa Palestina pada waktu itu tidak mudah menyembunyikan status perkawinan seseorang, apalagi kalau orang itu pemberontak. Kalau disebutkan bahwa kehadiran anak Yesus –yang dicap sebagai pemberontak itu– disembunyikan agar tidak ikut ditangkap dan disalibkan, hal itu sungguh aneh karena di dalam film tersebut anak itu bisa berpelukan dengan ibunya (Maria Magdalena) dan disebut “‘anak” oleh Yesus yang disalibkan secara terbuka di muka umum. Apalagi, kalau diasumsikan bahwa anak itu digambarkan sudah remaja, anak itu tentu sudah dilahirkan jauh sebelum Yesus dicurigai oleh pemimpin agama dan pihak Romawi sehingga tidak perlu disembunyikan identitasnya.

Hal itu semakin menjelaskan bawa taktik wawancara yang dilakukan Jacobovici itu adalah untuk menunjukkan agendanya sebab para ahli yang diwawancarainya kemudian menolak hipotesis film itu dan mengakui bahwa keterangan mereka dimanipulasi. Shimon Gibson, yang terlibat dalam film itu, meragukan klaim Jacobovici atas penemuannya itu, dan mengatakan,

“My professional assesment of the facts available about this tomb, based on some 30 years of experience studying Second Temple tombs around Jerusalem, is that the Talpiot Tomb is not the Jesus family tomb.”

Harus disadari bahwa ketika Injil ditulis, banyak saksi mata yang masih hidup. Jadi, kalau jasad Yesus disembunyikan di kuburan lain, apa perlunya Mahkamah Agama Yahudi berdusta mengenai pencurian jasad, lalu menyuap para tentara Romawi yang menjaga kuburan-Nya? Mereka tentunya cukup menunjukkan lokasi makam Talpiot. Di sisi lain, tentu tidak akan banyak martir yang menjadi saksi “kebangkitan” kalau tulang-tulang Yesus tergeletak di makam itu.

Bovon mengatakan,

“I must say that the reconstruction of Jesus marriage with Mary Magdalene and the birth of a child belong for me to science fiction. ... I do not believe that Mariamne is the real name of Mary Magdalene”

Feuerverger juga menulis, “I now believe that I should not assert any conclusions connecting this tomb with any hypothetical one of the NT family.”

Pada kenyataannya, dalam wawancara yang dilakukan untuk filmnya itu, Jacobovici tidak menjelaskan tujuan wawancaranya kepada responden. Ia hanya memberikan pertanyaan yang mengarah. Selanjutnya, ia hanya mengutip sebagian wawancara itu untuk mendukung hipotesisnya. Bila komentar para ahli itu ditayangkan secara lengkap juga pendapat para ahli teologi lain yang tidak sependapat dengan Jacobovici & Tabor disertakan dalam pembuktian dalam film itu, simpulan yang dihasilkan tentu akan berbeda. Oleh karena itu, jelaslah bahwa film itu merupakan hasil konspirasi dari agenda yang memiliki semangat zionisme, yang dikawinkan dengan sikap alergi teolog liberal radikal terhadap kebangkitan Yesus,  lalu diramu dalam sebuah film oleh sutradara spesialis fiksi-sains.

Film “The Lost Tomb of Jesus” memang disebut film dokumenter. Namun, menyebutnya sebagai dokumenter ilmiah (scientific) jelas tidak tepat sebab film itu lebih merupakan film dokumenter fiksi-ilmiah (science fiction). Film itu bisa dikatakan mengulang taktik Dan Brown dalam buku The Da Vinci Code, yaitu bahwa dalam makam Talpiot, baik arkaelogi, ossuary, maupun badan-badan yang terlibat adalah fakta. Namun, simpulan film itu bahwa makam itu milik keluarga Yesus yang beristri Mariamne dan memiliki anak bernama Yudah, adalah fiktif.

 

Bersambung ke: Yesus Bangkit!

 

 

 


[ YBA Home Page | Artikel sebelumnya]