BAHASA MASA PERJANJIAN BARU

Akhir-akhir ini banyak yang menanyakan apakah sebenarnya bahasa yang digunakan dalam masa Perjanjian Baru? Soalnya ada kalangan yang akhir-akhir ini menekankan slogan ‘kembali ke akar yudaik’ yang menyimpulkan bahwa bahasa Ibrani selalu dipakai oleh bangsa Ibrani termasuk pada masa Perjanjian Baru dan Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Ibrani. Benarkah kesimpulan demikian?

Dari data tulisan-tulisan yang diketahui pada abad pertama dan juga naskah asli Perjanjian Baru termasuk penemuan arkeologis dari masa itu, kita mengetahui bahwa bahasa yang umum menjadi bahasa lisan sehari-hari di kalangan rakyat jelata adalah bahasa ‘Aram’ dan bahasa lisan dan tulisan yang digunakan secara regional palestina menggunakan bahasa ‘Yunani’ (koine = umum), sedangkan bahasa Ibrani lisan sudah tidak lagi digunakan rakyat umum, hanya versi ‘Ibrani’ tulisan digunakan dalam tulisan keagamaan yahudi dikalangan para petinggi agama yahudi saja.

Bahasa Ibrani Atau Aram ?

Mengapa Alkitab Perjanjian Baru dalam bahasa Indonesia menyebut adanya ‘bahasa Ibrani?’ Bila ada ayat dalam Perjanjian Baru dalam bahasa Indonesia yang menyebut soal bahasa Ibrani, itu adalah terjemahan dari bahasa asli Yunaninya ”hebraidi dialektos atau ”hebraisti”, yang maksudnya adalah bahasa Aram yang kala itu disebut sebagai dialek Ibrani atau lidah orang Ibrani. Berikut contohnya (yang dikurung adalah bahasa aslinya, Yunani).

”Banyak orang Yahudi yang membaca tulisan itu, sebab tempat di mana Yesus disalibkan letaknya dekat kota dan kata-kata itu tertulis dalam bahasa Ibrani [hebraisti], bahasa Latin dan bahasa Yunani.” (Yoh. 19:20)

”Sesudah Paulus diperbolehkan oleh kepala pasukan, pergilah ia berdiri di tangga dan memberi isyarat dengan tangannya kepada rakyat itu; ketika suasana sudah tenang, mulailah ia berbicara kepada mereka dalam bahasa Ibrani [hebraidi dialektos], katanya: ”Hai saudara-saudara dan bapa-bapa, dengarkanlah, apa yang hendak kukatakan kepadamu sebagai pembelaan diri.” Ketika orang banyak itu mendengar ia berbicara dalam bahasa Ibrani [hebraidi dialektos], makin tenanglah mereka” (Kis. 21:40 – 22:2).

”Kami semua rebah ke tanah dan aku mendengar suatu suara yang mengatakan kepadaku dalam bahasa Ibrani [hebraidi dialektos]: Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku? Sukar bagimu menendang ke galah rangsang” (Kis. 26:14).

Dari beberapa ayat berikut akan makin jelas bahwa yang dimaksudkan dengan tulisan ”bahasa Ibrani” adalah bahasa Aram karena kemudian diberi contoh nama-nama yang adalah nama-nama dalam bahasa Aram. Perlu dimaklumi bahwa ada kedekatan antara bahasa ”Ibrani” dan”Aram” karena bahasa Aram adalah nenek moyang bahasa Ibrani dan sudah berabad-abad bahasa Ibrani dipengaruhi Aram, sehingga ada beberapa kata yang mirip sekalipun dengan ejaan berbeda. Hanya, bahasa Aram adalah bahasa hidup sedangkan bahasa Ibrani pada masa Yesus hidup adalah bahasa mati yang tidak digunakan dalam percakapan umum sejak orang yahudi dibawah Ezra kembali dari pembuangan di Babil, sehingga bahasa Aramlah yang digunakan secara umum pada waktu itu sebagai bahasa percakapan rakyat umum di samping bahasa Yunani yang dipergunakan di sekitar Laut Tengah sebagai bahasa percakapan, dagang dan tulisan regional.

”Di Yerusalem dekat Pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam, yang dalam bahasa Ibrani [hebraisti] disebut Betesda; ada lima serambinya” (Yoh. 5:2).

”Kata Yesus kepadanya: ”Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani [hebraisti]: ”Rabuni!”, artinya ”Guru” (Yoh. 20:16).

”Dan raja yang memerintah mereka ialah malaikat jurang maut; namanya dalam bahasa Ibrani [hebraisti] ialah Abadon dan dalam bahasa Yunani adalah Apolion” (Why. 9:11).

”Lalu ia mengumpulkan mereka di tempat, yang dalam bahasa Ibrani [hebraisti] disebut Harmagedon” (Why. 16:16).

Kata-kata Betesda, Rabuni, Abadon, dan Harmagedon adalah kata-kata dalam bahasa Aram. Josephus ahli sejarah Yahudi yang terkenal itu menulis nas­kah sejarahnya yang pertama yang berjudul ”Perang Yahudi” (The Jewish War) dalam bahasa Aram yang disebutnya sebagai ”hebraisti / lidahnya orang Ibrani”.

Dari data-data di atas menjadi jelas bahwa memang selama lebih dari 20 abad sampai abad XIX M., yaitu setidaknya di antara abad VI/V sM., sampai akhir abad XIX M., bahasa Ibrani tidak menjadi bahasa umum yang populer diperguna­kan dalam percakapan tetapi digunakan kalangan terbatas terutama sebagai bahasa tulis dalam salin-menyalin kitab-kitab suci di kalangan para imam agama Yahudi, bahkan terbukti di sinagoga-sinagoga pada masa Yesus hidup, kitab suci yang dipergunakan dalam ibadat orang Yahudi umumnya adalah salinan Septuaginta dalam bahasa Yunani. Dan sekalipun pada masa bahasa Ibrani para Rabi (Abad VI M.) bahasa Ibrani sudah mengalami perkembangan dengan ditambahnya tanda baca/vokal, bahasa Ibrani belum menjadi bahasa percakapan umum bahkan masa itu mulai dipengaruhi bahasa Arab dengan adanya pendudukan tanah Palestina oleh bangsa-bangsa Arab/Turki yang beragama Islam sampai penyerahan ke Pemerintah Inggris / Liga Bangsa-Bangsa pada tahun 1917.

Secara resmi Ibrani sebagai bahasa percakapan umum baru dipopuler­kan setelah bahasa Ibrani Modern bangkit sejak abad XIX sejalan dengan bangkitnya nasionalisme Yahudi.

”Bahasa ibu orang Yahudi Palestina di waktu itu adalah Aram. Sekalipun para Rabi dan Ahli-Kitab masih menggunakan bahasa Ibrani klasik Perjanjian Lama, untuk mayoritas umat ini adalah bahasa mati. ... Barangkali karena rasa bangga yang salah, dan kemungkinan besar karena tidak dapat membedakan ketepatan ilmiah, bahasa Aram secara populer disebut sebagai bahasa ”Ibrani”. … Bahasa percakapan umum semitik orang Yahudi Palestina pada waktu Yesus adalah Aram”. ( Bruce M. Metzger, The Language of the New Testament, dalam The Interpreters Bible, vol. 7, hlm. 43.)

Bahasa Kitab Suci Abad Pertama

Menarik sekali bahwa bahasa Kitab Suci baik Perjanjian Lama (Tenakh) maupun Perjanjian Baru yang digunakan secara luas disekeliling timur tengah sekitar masa Perjanjian Baru bukan ditulis dalam bahasa Ibrani melainkan bahasa Yunani.

Sejak abad III-II SM karena sudah tidak banyak orang Yahudi yang bisa berbahasa Ibrani maka Alkitab Perjanjian Lama (Tenakh dalam bahasa Ibrani) diterjemahkan menjadi bahasa Yunani dan disebut Septuaginta (LXX), LXX banyak digunakan oleh penulis Perjanjian Baru, dan Alkitab Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani (koine).

Dengan adanya fakta-fakta diatas kita dapat menyimpulkan bahwa bahasa sehari-hari yang digunakan rakyat umum adalah bahasa Aram sedangkan untuk bahasa regional digunakan bahasa tulisan dan lisan Yunani. Bahasa Ibrani hanya digunakan dikalangan para imam Yahudi dilingkungan Bait Allah dalam salin-menyalin Alkitab Ibrani.