Artikel 2  2010


 

 

THE PASSION OF MEL GIBSON
 

Sebulan lagi kita memasuki Jumat Agung dimana dikenang kesengsaraan dan kematian Yesus dikayu salib untuk menebus dosa umat manusia. Biasanya sekitar Paskah (juga Natal) di TV dan di beberapa gereja dipertontonkan film Gibson berjudul ‘The Passion of the Christ’ termasuk untuk anggota jemaat yang masih anak-anak & remaja. Tepatkah usaha demikian?

Pernah pada sekitar Jumat Agung dan Minggu Paskah, di salah satu saluran TV diputar berturut-turut film ‘The Passion of the Christ’ dan ‘The Gospel of John,’ dua film yang dibuat di tahun yang sama yaitu tahun 2003. Film “The Passion of the Christ disutradarai bintang film tenar Mel Gibson, film mana mendapat pujian dari penginjil Billy Graham dan juga dari Paus (kemudian diralat oleh Paus melalui sekretarisnya). Film itu bukan saja diputar di gedung bioskop, tapi juga di banyak gedung gereja! Berbeda dengan film-film yang menceritakan kehidupan Yesus secara lengkap, film The Passion hanya menyoroti penderitaan Yesus sejak di Taman Getsemani selama dua belas jam terakhir hidup-Nya, yaitu dari Getsemani ke Golgota melalui jalan salib (via dolorosa) yang diselingi beberapa flash back pengalaman semasa pelayanan Yesus.

Meskipun didukung petinggi Injili dan sesaat didukung petinggi Katolik Roma, film “The Passion of the Christ banyak dikritik karena bersifat anti-Yahudi dan sarat dengan adegan sadis. Sikap anti Yahudi memang terasa dalam film ini karena kebencian, kemarahan, bahkan ringan tangannya orang yahudi bahkan para imam yang memukuli Yesus, dibuat dalam porsi yang jauh melebihi apa yang dicatat dalam Injil. Misalnya, sejak di Taman Getsemani, Yesus sudah dibuat babak belur dipukul para imam yahudi dengan luka-luka di sekujur tubuh-Nya dan salah satu mata-Nya lebam. Demikian juga penganiayaan sampai penyaliban Yesus yang dipaku di salib, peristiwa itu digambarkan dengan sangat sadis, sampai-sampai Chicago Sun Times menyebutnya “the most violent film.” Bayangkan setelah Yesus dipaku disalib, ketika salib itu diangkat tiba-tiba salib itu jatuh tertelungkup dengan Yesus menghadap kebawah!

Soal porsi anti semitisme dan sadisme yang keterlaluan memang tidak lepas dari sutradara dan pemain yang mampu menjiwainya. Mel Gibson populer terkenal sebagai sutradara dan pemain film action keras, serialnya ‘Mad Max’ diwakili ucapan dalam film itu: “They kill us, we kill them! Kill them! Kill!” Filmnya ‘Galipoli’ disebut Amazon.com sebagai “This brutally antiwar movie.” Debut sadismenya dilanjutkan dengan sukses dalam serial film keras Lethal Weapon.’ Belum lagi film-film ‘Braveheart, Ransom, & Patriot’ menunjukkan bakat sadisme Mel yang diluar batas.

Tokoh Yesus diperankan oleh James Caviezel yang sukses memerankan film-film keras balas dendam sepertiThe Count of Monte Christodimana di sana ia memerankan korban yang difitnah dan dipenjara dibawah tanah dipulau terpencil sambil dicambuki setiap tahun, dan baru setelah 13 tahun berhasil kabur dan membalas dendam kepada semua musuhnya dengan tangan dingin dengan perencanaan matang. Semangat sadisme Caviezel terlihat juga dalam film berjudul “Highwayman” yang juga pernah diputar di TV Indonesia di harian natal menyusul film ‘The Passion’ yang menunjukkan bakat balas dendam Caviezel kepada penabrak isterinya sampai mati. Tepat sekali kritik ‘Wayoflife’ yang menyebut film The Passion: “intimately associated with the moral vileness of those involved in its production.”

Sebenarnya, film “The Passion of the Christ tidak bisa dikatakan sebagai film yang bersumber pada Alkitab melainkan lebih tepat sebagai ‘memanipulasi berita Alkitab,’ sebab isinya didasarkan vision biarawati Katolik, Maria Agreda dan Anne Katherine Emmerich dalam buku mereka “The Dolorous Passion of Our Lord Jesus. Selain ada bagian dalam film itu yang menyudutkan orang Yahudi, banyak juga adegan yang  berlawanan dengan data Injil, seperti Iblis yang menjawab doa Yesus di Getsemani (dalam Alkitab malaekatlah yang menemui Yesus)Iblis yang ditampilkan berkali-kali, Yudas yang dilempari batu oleh anak-anak yang kesetanan dan disaksikan Iblis, dan Simon Kireni mengaku tidak bersalah dan mengaku terpaksa mengangkut salib terhukum. Tiga pemain film porno dilibatkan Mel dalam film ini termasuk untuk membuat film “The Passion of the Christ lebih realistis, peran Maria Magdalena dikesankan secara keliru sebagai pelacur (dimainkan Monica Belluchi. Injil Lukas tidak menyebut Maria Magdalena [Luk.8] sebagai pelacur [Luk.7]), karena itu Yesus diolok tentara sebagai ‘king of whores (raja para pelacur), mata penjahat yang disalibkan yang dipatuk burung, dan Mezbah Bait Allah digambarkan terbelah (dalam Alkitab dicatat tirai Bait Allah yang tercabik dua).

Dua jam film itu digunakan untuk menyoroti penderitaan Yesus yang berdarah-darah dan hanya tiga puluh detik pada penutup film yang digunakan untuk menyoroti Yesus yang bangkit. Ketika ditanya mengenai adegan sadis yang keterlaluan, Gibson tidak menjawab tentang kebenarannya melainkan mengaku mendramatisir film itu untuk mendorong emosi penonton sampai over the edge.

Sayangnya, film “The Passion of the Christ menumbuhkan fanatisme sebagian umat Kristen yang melebihi cinta mereka terhadap Injil dan Kristus bahkan mempromosikan film sadis itu untuk semua umur dan diputar secara terbuka di banyak gereja, sesuatu yang disesalkan oleh banyak pendidik. Padahal, film yang mendatangkan untung luar biasa kepada Gibson itu, uangnya direncanakan digunakan untuk membuat film sadis berikutnya bertema savage” (biadab) yang menggambarkan kehidupan suku primitip di Amerika Latin, rencananya itu dibantu asisten Farhad Safina kemudian direalisasikan dengan membuat film berjudul ‘Apocalypto’ yang mengungkapkan kehidupan sadis suku Maya (termasuk upacara pemenggalan kepala dalam penyembahan dewa suku Maya) yang selesai pada tahun 2006. Mengenai film ini dan Mel Gibson, Crosswalk menyebut: “he has an unseemly obsession with violence” dan “Apocalypto is a savage, repellent film that raises serious questions about Gibson’s interest in the worst kinds of human sufferings.”

Christianity Today Movies, dalam resensi film Apocalypto, menulis: “Now everybody is finding out what Gibson has done with some of his money: He made a movie even more violent than The Passion” dan “he is a sadist who rubs our faces in cinematic violence, and he is also a masochist who figures the best way to deal with the violence he sees in the world is to accept it and absorb it somehow.” CT-M juga menyebut bahwa banyak yang semula mengagumi ‘The Passion’ yang menyangka Gibson sebagai ‘seorang Kristen yang baik,’ setelah melihat ‘Apocalypto’ mulai menyadari kenyataan jiwa sadisme Mel Gibson yang tercurah dalam film-filmnya. Seperti The Passion, Apocalyto dikritik para ahli arkeologi dan antropologi karena film itu menggambarkan sejarah suku Maya dengan keliru yang tidak sesadis yang digambarkan dalam film itu, dan film itu terkesan memanipulasi tema kebiadaban demi selera sadisme pembuatnya.

Mel Gibson sendiri sesudah film ‘The Passion’ sukses pernah ditangkap polisi karena menyetir dalam keadaan mabuk, dan ketika ditangkap, ia mencaci maki polisi yang orang yahudi dengan kata-kata kasar!’ Di sisi lain, wakil perusahaan film itu sendiri sebenarnya mengaku bahwa, “Their promotion to religious leaders as more in the interest of marketing than evangelism, a distinction evangelicals no longer recognize.” Terry Mattingly pada Film-Forum majalah Christianity Today mengatakan, “I have been fascinating by the lack of critical voices among conservative Protestants.”

Memang ada yang menyebut bahwa ada yang merasa disegarkan setelah menonton film ‘The Passion’. Havelock Ellis dalam bukunya ‘Psychology of Sex’ menyebut sadisme sebagai “sexual emotion associated with the wish to inflict pain, physical or moral, on the object of emotion.” Ia juga mengatakan bahwa “love of blood and murder was an irresistible obsession, and its gratification produced immense emotional relief.” Ellis juga menyebut bahwa orang yang merasa terangsang dengan melakukan kekerasan biasa disebut ‘sadist’ sedangkan mereka yang ‘massochist’ adalah mereka yang secara naluri merasa senang atau dipuaskan kalau mereka merasakan sebagai korban sadisme itu atau mengindentifikasikan diri dengan kesengsaraan orang lain yang dilihatnya. Gagnon & Simon dalam buku ‘Sexual Defiance’ menyebut hal-hal berbau kekerasan yang disebutnya “aggressiveness or assault offenses” tergolong “pathological deviance.”

Sifat-sifat primitif manusia modern itu dengan pandai telah diakomodasi oleh Mel Gibson untuk memuaskan sifat primitif dalam dirinya (tidak terhindakan sebagian umat kristen termasuk banyak yang Injili padahal majalah Injili Christianity Today sudah mengingatkan pembacanya. Banyak gereja arus utama mengkritik film itu) sehingga film itu telah mendatangkan keuntungan berlimpah kepada Mel dengan pemasukan film layar lebar tertinggi sebesar 600 juta dolar dan baru pada awal 2010 dikalahkan film ‘Avatar’ dengan pemasukan dua kali jumlah itu. Memang benar kritik banyak pengamat dan pendidik kristen bahwa film ini merupakan produk para sutradara dan pemain yang masih berkecimpung dalam nafsu (passion) duniawi seperti latar belakang sutradara dan pemainnya. Pada tahun 2009 Mel Gibson kepergok menghamili gadis muda dan mengakibatkannya bercerai dengan isteri yang sudah dinikahinya selama 28 tahun.

Memasuki tahun 2010 kecenderungan sadisme Mel bukannya mereda tetapi malah makin meningkat. Pada Januari 2010, dirilis film ‘Edge of Darkness’ yang dibintangi Mel Gibson. Temanya: “Polisi yang marah mencari pembunuh anak gadisnya.” Kelihatannya kritik-kritik terhadap filmnya ‘The Passion of the Christ’ tidak membuatnya sadar dan memperbaiki citra sadis yang melekat dalam dirinya, sebab film terakhir yang dibintanginya itu oleh badan sensor Amerika MPAA diberi rating R (restricted) karena menyajikan secara keras ‘bloody violence and language’ dan Christianity Today Movies menyebutkannya sebagai film yang ‘romantize revenge’ dan “Edge of Darkness ends up angry and depressed.” Bagi orang tua, CT-M memberi nasehat: “The language is restricted to just a couple of brief outburst, but the violence is often very graphic and bloody, definitely deserving of its strong rating.” Sebenarnya daripada memperkaya Mel Gibson dengan memborong tiket filmnya yang digunakannya membuat film-film sadis berikutnya, seharusnya umat kristen mendoakan Mel Gibson agar menjadi orang kristen yang mentaati firman Tuhan sehingga bisa menghasilkan film-film positif (bukan sensasional) yang menyejukkan hati penonton.

Banyak pengkritik menyebut bahwa orang Amerika dan kebanyakan penggemar film sekarang sedang sakit karena terlalu banyak disuguhi film-film sinema maupun TV yang bersifat sadis dan berdarah-darah. Itulah sebabnya ketika seorang sutradara dan pemain film berjiwa ‘sadis’ yang punya nafsu (passion) menyimpang itu membaca peluang ini, ia membuat film ‘drama religi’ yang bertema sadis (penyaliban) yang memanipulasikan sentimen agama umat kristen dan jadilah film “The Passion of the Christ” sehingga banyak ditonton orang karena meresonansikan isi hati penonton yang potensial berjiwa sadis & masochist. Akibatnya ketika ada film yang lebih mengungkapkan Injil seperti ‘The Gospel of John” namun karena ‘tidak keras’ maka film itu dibiarkan berlalu begitu saja oleh umat kristen, padahal justru film terakhir inilah yang mencerminkan Injil Tuhan Yesus yang layak tonton bagi segala usia.

Pada tahun yang sama (2003) juga dibuat film tentang Injil yang berjudul ‘The Gospel of John.’ Film ini dibuat dengan setia bahkan secara harfiah mengikuti setiap kata Injil Yohanes menurut ‘Good News Bible’ dan dijuluki: “This film is a faithful representation of that Gospel.” Dibandingkan film ‘The Passion’ yang banyak mengambil sumber non-biblical seperti visiun dan ungkapan jiwa sadistik pembuatnya, film ‘The Gospel of John’ setia pada isi Injil yang ayat-ayatnya dinarasikan oleh Christopher Plummer, pemeran figur Kapten dalam film ‘The Sound of Music.’ Dua fasal terakhir ‘The Gospel of John’ memberitakan Yesus yang bangkit” dan film ini juga dibuat secara profesional pula.

Sayang film ‘The Gospel of John’ yang alkitabiah dan bernafas injil itu jauh kalah populer dengan film ‘The Passion’ yang apokrifal itu, dan tragis bahwa nyaris pendeta dan penginjil yang dulunya mempopulerkan ‘The Passion’ pada umumnya bungkam dengan kehadiran film ‘The Gospel of John.’ Bahkan, film ini nyaris diabaikan dalam kehidupan gereja dan gereja tidak memborong tiketnya, apalagi memutarnya di gedung gereja mereka. Seperti film “Jesus” dari Campus Crusade for Christ, yang memberitakan Injil Lukas selengkap mungkin, film “The Gospel of John” juga menggambarkan kehidupan Yesus seperti yang dicatat dalam Injil Yohanes. Film itu sebenarnya adalah film yang luar biasa, yang benar-benar alkitabiah dan bernafas Injil dan diramu menurut sinematografi modern yang apik dan profesional.

Sudah tiba saatnya umat Kristen bertumbuh menjadi peka iman dan hatinuraninya dan menjauhi mengkonsumsi film-film yang sadistik yang makin merangsang rasa sadisme dan masosisme yang terpendam dalam hati manusia dan mulai membuka diri agar semakin peka akan ‘damai sejahtera dan kasih Kristus’ melalui adegan-adegan film yang mereka tonton seperti film ‘The Gospel of John’ karena itulah berita ‘kabar baik Injil’ yang sebenarnya dan yang seharusnya kita sebar-luaskan. Rasul Yohanes, penulis ‘The Gospel of John’ yang semula berperilaku sebagai ‘anak guruh’ itu, setelah bertemu Yesus disebut sebagai ‘Rasul Kasih.’ ***
 

Salam kasih dari YABINA ministry www.yabina.org.

 

 


[ YBA Home Page | Artikel sebelumnya]