Artikel 5_ 2007


 

SEJARAH DAN MUJIZAT



Sejarah,  
menurut Encarta adalah pada pengertiannya yang luas, totalitas dari semua kejadian masalalu,” dan menurut Britannica “disiplin yang mempelajari rekaman kejadian secara kronologis (menyangkut negara dan manusia) berdasarkan pengujian kritis atas materi sumber dan biasanya menyajikan penjelasan atas penyebabnya,” sedangkan Wikipedia menyebut “Sejarah adalah narasi dan penelitian kejadian masa lalu yang sinambung dan sistematis.”

Secara singkat ketiganya bisa dirangkum menjadi “Sejarah adalah keseluruhan cerita tentang kejadian masalalu yang disusun secara sistematis, kronologis dan sinambung yang sumbernya diuji secara kritis dan diteliti untuk menjelasan penyebabnya.” Ada empat hal kita lihat disini, yaitu:
(1) totalitas kejadian (events);
(2) materi sumber cerita;
(3) penjelasan penyebab terjadinya kejadian tersebut;
(4) sikap sejarahwan yang menguji dan meneliti.

Yang jelas, sejarah merupakan laporan totalitas kejadian (event). Sekalipun ada yang mempersempit kejadian yang hanya dilihat dari penyebab yang ‘empiris natural, sosiologis, dan kultural dengan hukum sebab-akibatnya,’ faktanya kejadian didunia ini mencakup totalitas realita yang tidak semuanya bisa dicakup dari sudut partial menurut kacamata modern yang terbatas ini.

Sejak awalnya sejarah mencakup totalitas yang sukar dibagi-bagi secara partial. Herodotus yang disebut sebagai ‘bapak sejarah’ dalam tulisannya tentang ‘Sejarah’ mengutip narasi yang ada yang mencakup legenda, ini terlihat dalam tulisannya mengenai ‘Perang Troya’ yang terkenal itu. Agaknya dalam penulisan sejarah kita tidak mungkin bisa memisahkan mana yang dianggap mitos dan mana yang bisa dianggap fakta empiris natural, soalnya baik yang mitos bisa mengandung kebenaran, sedangkan yang disebut empiris natural bisa saja mengandung ketidak-benaran. Sejarahwan Josephus dalam tulisannya juga menyebut mengenai Yesus yang melakukan mujizat, disalibkan dan bangkit pada hari ketiga.

            Masa Rasionalisme membuka wawasan sejarah untuk lebih teliti memisahkan narasi yang faktual dan kebenaran pelapor/sejarawan, namun optimis rasionalisme itu kemudian mendorong ilmu sejarah kepada fanatisme modernisme seakan-akan hanya yang modern yang empiris natural yang bersifat sains dan benar dan yang diluar itu dianggap mitos yang tidak benar, namun Masa Informasi postmodern yang lebih dikenal sebagai ‘posmo’ tidak lagi mempercayai kemutlakan sains modern dan kembali terbuka kepada yang supra-natural dan mitologis. Encarta menyebut:

Optimisme sebelumnya yang menjanjikan pengungkapan kedekatan akan kebenaran pada masa lalu digantikan oleh keyakinan bahwa tidak ada akumulasi fakta menjadi sejarah sebagai struktur yang jelas, dan tidak ada ahli sejarah, bagaimanapun bebas dari bias sekecilpun, dapat secara total netral dan perekam tidak berpribadi dari realitas obyektif. (History & Historiography).

Sejarah bergantung dari dua hal penting, yaitu keterbukaan kita akan apa realita totalitas itu, dan netralitas dan kejujuran sipelapor / sejarawan yang merangkum laporan-laporan itu. Harus disadari bahwa acapkali sains modern terjerat konsep sempit tentang alam natural yang berdemensi tiga dengan hukum sebab-akibatnya dan mengabaikan totalitas realita tentang keberadaan yang mencakup dimensi supra alami. Memang sejak timbulnya rasionalisme yang menghasilkan ilmu pengetahuan alam dengan hukum-hukum alamnya dan memuncak dalam sekularisme yang hanya berorientasi pada yang ‘Saeculum’ (dunia ini), banyak orang terjerat konsep sempit yang menolak dan mengabaikan realita ‘Aeternum’ (eternal/kekal). Manusia modern menolak segala hal yang disebut sebagai mujizat dan gejala supranatural/paranormal, dan menganggapnya sebagai sesuatu yang mustahil terjadi di alam ini, akibatnya semua hal-hal yang berbau mujizat dan supranatural/paranormal yang dipercayai dalam semua agama, ditolak sebagai tidak pernah terjadi dan dianggap hanya sekedar termasuk ranah teologis yang non-sains.

Dalam teologi kita melihat perkembangan liberalisme yang terungkap dalam pemikiran beberapa orang. Para teolog era rasionalisme banyak terpengaruh liberalisme menolak mujizat dan gejala supranatural sebagai melawan hukum alam. Puncak pemikiran liberal yang menolak mujizat diwakili teolog sekuler Rudolf Bultmann. Istilah Demitologisasi dipopulerkan Rudolf Bultmann (1884-1976), menurutnya kitab Injil seharusnya dianalisis lebih lanjut dalam berbagai bentuk yang dibuat oleh gereja awal sebelum ditulis. Bentuk-bentuk ini tidak banyak menjelaskan kepada kita tentang apa yang sebenarnya dilakukan dan dikatakan Yesus, melainkan tentang 'apa yang dipercayai oleh gereja awal tentang Yesus'. Di tahun 1926 Bultmann menulis buku 'Jesus' dimana dikatakan bahwa yang penting bukan apa yang obyektip tentang Yesus, tetapi bahwa 'kebenaran itu akan timbul dalam tanggapan iman yang subyektip dari para pengikut.' Dalam era Bultman dikotomi ‘Yesus Iman’ dan ‘Yesus Sejarah’ menjadi jurang yang semakin dalam.

Dalam karyanya berjudul 'New Testament and Mythology' (1941) Bultmann mengemukakan bahwa seluruh pola pikir masa Perjanjian Baru terutama kosmologinya bersifat mitologi yang merupakan faham pra-ilmiah yang berasal dari faham Gnostik pra-Kristen (seperti misalnya soal surga-bumi-neraka, kekuatan spiritual, kekuatan supranatural yang menerobos alam nyata, dan perlunya manusia ditebus) (New Testament & Mythology, dalam ‘Karygma & Myth,’ hlm. 1 dst.). Mengenai Mitologi, tepatnya dikatakan:

"Seluruh konsep dunia yang dikemukakan dalam kotbah Yesus seperti yang dijumpai dalam Perjanjian Baru bersifat mitologis; yaitu: konsep mengenai dunia yang terdiri dari tiga lapis, surga, bumi dan neraka; konsep campur tangan kekuatan-kekuatan supranatural pada kejadian-kejadian di bumi; dan konsep mujizat terutama konsep mengenai campur tangan supra-natural dalam kehidupan dalam dari jiwa, konsep bahwa manusia dapat digoda dan dirusak oleh iblis dan roh-roh jahat" (Jesus Christ & Mythology, hlm.15)

Menurut Bultmann, konsep itu disebut mitologi karena berbeda dengan konsep dunia yang dibentuk dan dikembangkan oleh ilmu pengetahuan yang diterima orang modern. Menurutnya, dalam konsep dunia, hubungan sebab-akibat bersifat azasi. Yang sekarang dibutuhkan adalah 'demitologisasi kekristenan' yaitu 'melepaskan dan mengartikan kembali kenyataan sebenarnya lepas dari kerangka mitologi tersebut sehingga Injil dapat diberitakan dalam kemurniannya.' Dalam bukunya Bultmann juga mengatakan bahwa:

"... ucapan mitologis secara keseluruhan mengandung makna yang lebih dalam yang dikemas dalam bungkus mitologi. Bila demikian, tepatnya, kita membuang konsep mitologi karena kita ingin menemukan artinya yang lebih dalam. Cara penafsiran demikian yang berusaha mengungkap artinya yang lebih dalam dibalik konsep mitologi saya sebut sebagai demitologisasi ... Maksudnya bukannya untuk meniadakan pernyataan yang bersifat mitologis tetapi menafsirkannya kembali" (Jesus Christ & Mythology, hlm. 18).

Pada prinsipnya Kritik Historis dan studi tentang Yesus Sejarah dan Kitab Injil menunjukkan 'keraguan akan sifat sejarah kitab-kitab Injil, menolak hal-hal yang bersifat mujizat dan supranatural, dan menjadikan Yesus hanya sebagai tokoh moral atau politis saja,' dan lebih lanjut menurut Bultmann, tugas manusia adalah melepaskan manusia dari kerangka mitos yang tidak ilmiah itu (demitologisasi) atau melepaskan 'Yesus Sejarah' dari 'Yesus Iman.' Konsep de’mitologi’sasi yang dikemukakan oleh Bultmann sama dibandingkan istilah yang dengan tepat disebut de’mirakuli’sasi oleh Deshi Ramadhani dalam tulisannya ‘Historisasi Makam Kosong Yesus’ (Kompas, 5 Mei 2007). Benarkan alam semesta hanya terdiri dari realita alami yang berdemensi tiga? Mungkinkah ada realita lain yang belum terjangkau oleh ilmu pengetahuan alam masakini dengan hukum-hukum alam yang total dan mutakhir?

Menarik menyaksikan perkembangan budaya dunia dimana era modern (abad-17-20) yang sekular dan materialistis ternyata telah membuat manusia mengalami kekosongan batin, dan sejak era 1960-an kembali dunia mencari nilai supranatural dan transendental yang selama ini dibungkam rasionalisme. Era posmo (postmodern) ditandai kembalinya manusia membuka diri akan masalalu dan melongok ke agama-agama tradisional dan mistik. Masyarakat umum kembali membuka diri kepada yang paranormal yang menurut The Journal of Parapsychology (2006), diartikan sebagai:

semua gejala yang dalam satu dan banyak hal melampaui batas apa yang secara fisik dianggap mungkin menurut perkiraan ilmu pengetahuan masakini”.

Encarta memasukkan paranormal dalam kategori Psychical Research, yaitu penelitian ilmiah akan gejala yang terjadi tetapi berada diluar jangkauan teori fisika, biologi, maupun psikologi konvensional. Ensiklopedi Britannica menyebut paranormal sebagai gejala parapsikologi (PSI) yang menyangkut kejadian yang tidak dimengerti hukum alam atau ilmu pengetahuan biasa yang hanya terjangkau oleh pancaindera.

Pendekatan gejala supranatural/paranormal melalui perspektif penelitian sulit, bukan karena gejala itu tidak benar, tetapi sulit dijelaskan menggunakan ukuran teori dan hukum yang ada. Karena itu gejala paranormal terjadi diluar konvensi yang normal. Apakah paranormal itu realita yang lain dari realita tiga dimensi yang bisa diamati dan dirasakan oleh kelima pancaindera manusia, ataukah paranormal bisa disebut bagian dari realita dimensi supra-natural yang lebih luas dari realita natural? Profesor Hans Bender, salah satu tokoh perintis penyelidikan psikik (psychic), mengemukakan bahwa ia menemukan banyak bukti bahwa dibalik realita alam nyata yang dapat kita hayati dengan pancaindera, ada realita yang lain. Menurutnya:

Realita yang lain ini bukan supranatural, itu natural, tetapi kita belum bisa menjelaskannya secara penuh.” (J.L. Collier, Sciece Probe the Mystery of P.K., Reader Digest, April 1974).

Sedini tahun 1882, di Inggeris sudah dibentuk Society of Psychical Research, dan salah satu tokohnya, J.B. Rhine (1895-1980), di tahun 1930-an mulai menggunakan pendekatan eksperimen untuk meneliti gejala-gejala yang termasuk paranormal atau psikik. Pada tahun 1957 dibentuklah Parapsychological Association yang kemudian berafiliasi dengan American Association for the Advancement of Science, jadi paranormal sudah masuk dalam hitungan sains!

Charles Fort (1874-1932) adalah kolektor anekdot paranormal yang mengumpulkan 40.000 gejala paranormal yang sukar untuk dijelaskan menurut hukum alam yang selama ini kita ketahui. Kejadian ganjil/aneh yang dikumpulkannya termasuk gejala poltergeist (roh ribut), jatuhnya katak/ikan/benda-benda dari langit dalam area yang luas, suara-suara dan ledakan yang tidak jelas penyebabnya, kehadiran api yang tiba-tiba, kondisi melayang, bola-bola api, UFO, penampakan yang misterius, roda cahaya di lautan, penampakan binatang diluar habitatnya, penampakan maupun menghilangnya manusia tanpa kejelasan, dll. Segitiga Bermuda menunjukkan gejala persinggungan alam natural dan material dengan alam supranatural/paranormal. Justus Schifferes dalam tulisannya mengenai ‘science through the ages’ dalam abad-XX, mengemukakan bahwa:

Nada ilmu pengetahuan pada abad-XIX bersifat positif dan materialistik; para ahli sains melepaskan ikatannya dengan filsafat yang bersifat spekulatip. Tetapi hari ini situasinya berubah secara drastis. Ahli ilmu pengetahuan modern tidak lagi berbicara secara final; ia tidak berharap mengungkap hukum-hukum yang tidak berubah. Ia mengedepankan kesimpulannya sebagai relatif, tentatif dan tidak tentu.” (The Book of Popular Science, 1967, hlm.279).

Dalam buku ‘Spiritual Healing’ disebutkan bahwa hanya sekitar 20% penyakit dimengerti melalui pengobatan modern, sisanya mencari jawab melalui ‘pengobatan alternatif’ yang melihat realita kesehatan dan penyakit secara holistik. Keterbukaan akan mujizat yang dahulunya dicap magis sedikit demi sedikit diakui kembali oleh dunia ilmu pengetahuan dan kejadian sehari-hari. Di seluruh dunia termasuk Indonesia, di kalangan perdukunan dan tradisi sudah biasa penyakit yang sudah membusuk bisa dipulihkan menjadi baik kembali oleh ‘orang-orang pinter.

Dalam edisi 10 April 1995, majalah Time mengemukakan ‘cover story’ berjudul: “Can We Still Believe In Miracle?” yang menceritakan bayi Elizabeth yang sebelah matanya tidak bisa digerakkan karena terkena tumor meningioma, tumor ganas yang selama ini belum ada yang bisa sembuh. Keluarga Elizabeth menggelar doa-doa kesembuhan yang sinambung, dan heran ketika jaringan tumor diperiksa kembali sebelum operasi, samasekali tidak ada bekas tumor terlihat! Di Amerika Serikat ada serial TV yang menguak kejadian-kejadian paranormal, yaitu ‘Miracle Research Center’ yang mengumpulkan dan menyelidiki peristiwa mujizat di seluruh dunia. Pada sampul seri VCDnya, ditulis: Experiences That Defy Logic And Reason.

Memang berbeda dengan konsep ilmu pengetahuan dimana obyek yang diteliti harus bisa diulang dan diamati oleh panca-indera, gejala mujizat dan supranatural/paranormal tidak bisa diharapkan terjadi karena manusia mau mengulangnya, mujizat dan gejala supranatural/paranormal adalah kejadian nyata yang terjadi secara insidentil, dan lebih banyak terjadi dikalangan yang terbuka hatinya (yang mengimaninya). Para skeptik kurang beruntung menyaksikan kejadian-kejadian mujizat dan gejala supranatural/paranormal, bukan karena kejadian itu tidak ada dan tidak bisa dibuktikan oleh hukum-hukum alam yang terbatas itu, tetapi karena banyak ahli sains terjerat keterbatasan pemikirannya dan menutup hati mereka dibalik hukum-hukum alam ciptaan manusia yang terbatas. 

Keterbukaan masyarakat akan gejala paranormal/supra alami bisa dilihat pada survai Gallup Poll (2005) yang menemukan fakta bahwa 73% responden pernah mengalami setidaknya salah satu dari 10 gejala paranormal berikut: Indera keenam (ESP, 41%); rumah hantu (37%); hantu (32%); telepati (31%); melihat jarak jauh (26%); astrologi (25%); hubungan dengan orang mati (21%); dukun sihir (21%); reinkarnasi (20%); dan pawang (9%). Penelitian yang dilakukan Monash University di Australia (2006) kepada 2000 responden mengungkapkan fakta bahwa 70% responden mengalami gejala paranormal yang tidak dimengerti tetapi telah mengubah kehidupan mereka.

Mercia Eliade pakar sejarah agama itu sudah lama menyebut realita lain itu sebagai ‘The Sacred’ (yang dibedakan dengan ‘the Profane’). Sekalipun Bultmann secara skeptik menolak adanya terobosan dunia ilahi ke dunia alami, Eliade menemukan banyak bukti di seluruh dunia adanya terobosan realita the Sacred ke realita the Profane yang disebutnya ‘Hierophany’ yaitu penampakan yang suci. Biasanya hierophany menggunakan media orang suci, kitab suci, gunung, pohon besar, atau kawasan khusus lainnya sebagai jendela antar realita sebagai media.

Buku The World of the Paranormal menunjukkan secara skriptural dan visual bahwa gejala-gejala paranormal adalah normal banyak terjadi di alam nyata ini. Pendahuluan buku itu menyebutkan:

Dunia baru yang mengagumkan nyaris terungkap didepan mata saudara. Sebuah dunia yang mencengangkan para ahli ilmu pengetahuan dan para skeptik. Sebuah dunia yang menggugah rasa ingin tahu kita. Sebuah dunia yang menantang penjelasan rasional.” (1995, hlm.3)

Buku lain berjudul Paranormal Files yang memaparkan secara gamblang banyak gejala paranormal, menyebutkan, bahwa:

Sejak masa kuno yang tidak diingat manusia, semua bentuk kejadian yang aneh, berlawanan dengan hukum alam seperti yang kita mengerti, telah mencengangkan umat manusia. ... reaksi kita atas kejadian-kejadian yang semula kelihatan sangat tidak mungkin tidak seharusnya diwarnai dengan ketidakpercayaan yang mutlak. Seharusnya perlu diterima dengan pikiran terbuka (open mind)” (1997, hlm. 135,136).

Buku ‘Marvels & Mysteries of the Unexplained’ (2006) mengungkapkan kenyataan gejala paranormal diseluruh dunia. Ketiga buku paranormal yang disebutkan menunjukkan bahwa Paranormal adalah gejala riel namun belum dimengerti oleh keterbatasan sains dan hukum alam yang selama ini dikenal. Kenyataan ini mendorong kita untuk membuka diri terhadap hal-hal yang supra-natural baik sebagai sesuatu yang dibedakan dengan yang natural atau memasukannya dalam kategori natural karena memang terjadi di alam nyata ini. Kenyataan ini juga membuka wawasan kita bahwa hal-hal supranatural dan mujizat yang banyak menghiasi halaman Alkitab memang terjadi dalam sejarah alam nyata ini dalam konteksnya masing-masing.

Mengenai mujizat dan gejala supranatural yang banyak terjadi sekitar tokoh Musa (Perjanjian Lama) dan Yesus (Perjanjian Baru), dibalik sikap skeptik ilmuwan modern, banyak ilmuwan posmo sudah mulai menguak tentang kemungkinan adanya kebenaran dalam narasi sekitar kedua tokoh itu. Berbagai kemungkinan seperti kehadiran meteor/komet/gejala alam sekitar keluarnya umat Israel dan Mesir mulai diselidiki. Astronom Victor Cube dan Bill Napier dari Royal Observatory di Edinburgh (sekarang di Oxford University) mengamati berbagai mitologi dalam banyak kebudayaan di dunia dan melihat ada kaitan dengan gejala alam yang diakibatkan oleh meteor dan komet maupun planet yang juga terjadi pada peristiwa sekitar Musa di Mesir.

Soal turunnya ‘manna’ dari langit di Sinai dan Yesus memberi makan 5000 orang sudah mulai terkuak kemungkinannya dengan banyak kejadian mirip yang terjadi berkali-kali dalam sejarah. Dalam buku ‘The Paranormal Files’ dibahas When Fish Pour Down Like Rain (hlm.139-145), disebutkan bahwa Dr. E.W. Grudger dari US Museum of Natural History mencatat di seluruh dunia 78 kali terjadinya ikan, katak, belut dan lainnya tiba-tiba ada ditanah (deisebut jatuh dari langit) dalam jumlah banyak, bahkan Gilbert Whitley meneliti data yang ada pada Australian Museum mencatat bahwa ada 50 kejadian serupa terjadi di Australia saja pada kurun tahun 1879–1971. Pada dua kejadian di India, di Futterpur (1833) diperkirakan jatuh 3000 ikan, dan di Allahabad (1836) 4000 ikan! Memang kejadian-kejadian ini bukan bukti mujizat manna dan ikan dalam mujizat Yesus, tetapi setidaknya kita tahu bahwa pemberian makan ribuan orang secara sukar dimengerti sudah beberapa kali terjadi dalam sejarah. Tugas ahli sejarah adalah bagaimana menguak misteri dibalik mujizat itu secara obyektip dan tidak berlindung di balik skeptisisme ilmu pengethuan yang belum sempurna.

Berdasarkan kenyataan Paranormal dan Supranatural yang mendorong kita membuka wawasan itu, setengah abad berikutnya sesudah Bultmann mengucapkan ‘demitologisasi’nya, kita melihat bahwa ucapannya itu telah menjadi kuno dan menjadi teori masa lalu. Konsep dunia tiga lapis (dunia, surga dan neraka) bukan merupakan hal aneh dalam paranormal, adanya campur tangan yang paranormal pada yang normal sudah tidak diragukan lagi karena banyak kejadian yang tidak terjelaskan (unexplained events) membuktikannya. Mujizat juga adalah biasa dalam dunia paranormal, apalagi konsep kerasukan setan dan roh jahat sudah menjadi bagian yang banyak terjadi dan diamati dalam dunia paranormal dan normal sehari-hari diseluruh dunia.

Ada dua kesalahan pokok dalam pola pikir Bultmann, yaitu:
(1) Bultmann melakukan generalisasi dimana semua gejala supranatural/paranormal termasuk mujizat digeneralisasikan sebagai mitologi; dan
2) Bultmann juga melakukan generalisasi dengan menganggap yang disebutnya mitologi/mitos itu sebagai pemikiran pra-ilmiah yang tidak benar terjadi dalam sejarah. Konsep de’mitologi’sasi Bultmann sekarang perlu digantikan dengan de’Bultmann’isasi mitos, mitos yang dikembalikan pengertiannya yang netral sebagai narasi gejala perbatasan yang supra alami dan alami. Tugas sejarahwan bukanlah untuk menolak realita paranormal sebagai bukan realita, tetapi bagaimana memilah fakta dari fiksi dalam realita paranormal tersebut, demikian juga ahli sejarah perlu berintrospeksi mengenai asumsi modern mereka yang terbatas dan perlu membuka diri sambil memilah yang fiksi dan fakta dalam catatan kejadian yang secara rasional memenuhi hukum sebab-akibat yang natural. Mitos tidak lagi bisa dianggap sekedar sesuatu yang metaforis saja tetapi mitos harus diteliti mana aspek di dalamnya yang metaforis dan mana yang faktual.

Masalah Mujizat dan gejala Supranatural/Paranormal adalah normal terjadi dalam banyak kejadian dalam sejarah, jadi yang menjadi masalah disini adalah bahwa bukan dikotomi antara Iman dan Rasio, atau antara Teologi dan Ilmu Sejarah, tetapi dikotomi terjadi antara ‘Penggunaan Rasio dengan Iman’ dan ‘Penggunaan Rasio tanpa Iman.’ Tepat seperti yang dikemukakan oleh Deshi Ramadhani dalam tulisannya berjudul ‘Historisasi Makam Kosong Yesus’ (Kompas, 5 Mei 2007), bahwa masalahnya terletak pada pilihan antara prinsip “yang ajaib pasti tidak historis” atau “yang ajaib bisa sungguh historis.”

Sebagai contoh kita amati kasus makam Talpiot dan osuari Yakobus yang dipopulerkan oleh James Cameron di Discovery Channel dengan judul The Lost Tomb of Jesus. Fakta sejarah dan arkeologi menunjukkan bahwa di tahun 1980 ditemukan makam Talpiot dengan isi 10 osuari yang menurut foto dan catatan disebut 6 diantaranya berinskripsi dan 4 polos dimana salah satu dari yang 4 hilang, dan fakta lain adanya Oded Golan pemilik osuari Yakobus yang sekarang dijadikan tersangka sebagai anggota jaringan pemalsu inskripsi termasuk inskripsi osuari Yakobus yang diakuinya berasal dari Silwan dan dibeli tahun 1970-an. Adanya hipotesa yang mengkait-kaitkan dan menyebutkan bahwa osuari Yakobus berasal makam Talpiot perlu diuji, sebab bila osuari Yakobus berasal Talpiot, maka inskripsi pada osuari Yakobus itu tentu palsu. Di sisi lain bila inskripsi itu benar dan asli, tentu bukan berasal dari Talpiot karena menurut Prof. Amos Kloner yang pertama mencatatnya di tahun 1980, osuari yang hilang dari Talpiot tercatat tidak memiliki inskripsi apa-apa. Jadi, keduanya tidak membuktikan bahwa tulang-tulang Yakobus berasal dari makam Talpiot (oleh Oded Golan disebut berasal dari Silwan). Disini kita berhubungan bukan dengan ilmu arkeologi yang objektip dan benar, tetapi berhubungan dengan adanya penafsiran akan sejarah dan arkeologi yang hipotetis dan spekulatif sifatnya, dan menghasilkan kesimpulan yang lebih tepat disebut sebagai fiksi sejarah.

 

Salam kasih dari Sekertari www.yabina.org
 

 


[ YBA Home Page | Artikel sebelumnya]