Artikel 2_ 2006
IRENE HANDONO
Baru-baru ini diterima sebuah VCD yang berisi ceramah dari Hj. Irene Handono (IH, 23 Oktober di Gedung Metropolitan) yang isinya cukup potensial menggoyang kerukunan kehidupan beragama di Indonesia. Bayangkan, seseorang yang ketika menjadi biarawati Katolik tidak pernah secara terbuka menjelek-jelekkan agama Islam kemudian mengaku masuk Islam lalu secara terbuka berceramah ke mana-mana dan menjelak-jelekkan agama Kristen terutama Katolik. Ini sebuah gejala pertumbuhan rasa keberagamaan atau kemerosotan rasa keberagamaan?
Dari pihak lain diperoleh informasi bahwa IH adalah seorang biarawati yang labil dan karena terlibat asmara ia pindah agama dan mungkin karena trauma akan pihak-pihak tertentu di biaranya menjadikannya sekarang ia memperoleh pegangan untuk menyerang komunitas yang sebelumnya ia ikuti.
Sekalipun mengaku sebagai ketua Legio Maria yang terbesar di Indonesia dan pernah menjadi biarawati Katolik yang mempelajari filsafat dan perbandingan agama, patut diragukan apakah pengertiannya mengenai iman dan agama Kristen itu sudah banyak, soalnya kesimpulan-kesimpulannya cenderung bersifat sensasi, generalisasi dan banyak yang tidak benar.
Pada bagian depan ceramahnya ia memberi analogi bahwa meja tetap meja dan tidak mungkin menjadi tukang kayu, dan ini untuk menunjukkan bahwa manusia tetap manusia dan tidak mungkin menjadi Allah (yang dimaksudkan adalah Yesus). Dan dari asumsi penolakannya akan kepercayaan Yesus adalah Tuhan, dikatakan bahwa “Yesus pertama kali dilantik menjadi Tuhan pada tahun 325 di Nicea oleh raja Konstantin.”
Umat Kristen yang dasarpun mengetahui bahwa jauh sebelum Nicea, dan dalam kitab Perjanjian Baru, yang ditulis pada abad pertama kita mengetahui bahwa Yesus sudah diaku sebagai Tuhan. Injil Matius sudah mencatat bahwa Yesus memiliki dua identitas yaitu sebagai ‘Yahweh Penyelamat’ (Yehusua) dan ‘Allah yang menyertai kita’ (Immanuel) dan Injilnya diakhiri dengan pengutusan murid-murid dalam nama ‘ketritunggalan Allah’ (28:19); Markus mencatat bahwa Yesus setelah kebangkitannya dan dalam peristiwa pengutusan murid itu dipanggil ‘Tuhan Yesus’ (16:19); Lukas juga menyebut ‘Tuhan Yesus’ (24:3) yang telah bangkit; Yohanes dalam pembuka Injilnya menyebut bahwa ‘Yesus adalah Firman yang adalah Allah dan bersama Allah sejak awalnya’ (1:1) dan dalam kitab Wahyu yang ditulisnya dengan jelas Yesus disamakan dengan Allah sebagai ‘Alfa dan Omega’ (1:8) dan ‘Awal dan Akhir’ (2:17-18). Yohanes dalam Injilnya mencatat pengakuan Tomas bahwa Yesus adalah ‘Tuhan dan Allah’ (20:28), bahkan ia mencatat pengakuan Yesus sendiri bahwa ‘Ia Tuhan’ (13:13).
Kisah Para Rasul sudah mencatat bahwa kala itu Yesus sudah diaku Petrus sebagai Tuhan sejak awalnya (1:21;2:36), demikian juga pengakuan Para Rasul lainnya (4:33); Ketika Paulus bertobat ia mengaku ‘Ya Tuhan Yesus’ (7:59) ini diteguhkan oleh Ananias (9:17); dan para pengikut Yesus sudah memberitakan bahwa ‘Yesus adalah Tuhan’ (11:20-21), kemudian mereka disebut Kristen (11:26) dan para penatua disitu menyebut ‘Tuhan kita Yesus Kristus’ (15:26). Paulus dan Silas mengajak kepala penjara untuk percaya kepada ‘Tuhan Yesus Kristus’ (16:31). Umat Kristen di Efesus sudah dibaptis dalam nama ‘Tuhan Yesus’ (19:5) dan nama ‘Tuhan Yesus’ sudah masyhur kala itu (19:17). Paulus menyatakan keyakinannya ditugaskan oleh ‘Tuhan Yesus’ (20:21,24) dan rela mati dalam nama ‘Tuhan Yesus’ (21:13). Kala itu para pengikut Yesus disebut sebagai ‘pengikut jalan Tuhan’ (22:4,5;24:12,22).
Rasul Paulus dalam pembuka surat-suratnya menyebut ‘Tuhan Yesus Kristus’ (Roma 1:7; 1Korintus 1:2; 2Korintus 1:2; Galatia 1:3; Efesus 1:2; Filipi 1:2; Kolose 3:17; 1Tesalonika 1:1; 2Tesalonika 1:2; 1Timotius 1:2; 2Timotius 1:2; Filemon 1:3. Berbeda dengan anggapan lain bahwa ke’Tuhan’an Yesus itu adalah dilahirkan dari teologi Paulus, kita sudah melihat bahwa para rasul dan jemaat sebelum Paulus bertobat sudah mengaminkan bahwa ‘Yesus adalah Tuhan.’ Surat Yakobus diawali dengan salam dalam nama ‘Tuhan Yesus Kristus’ (1:1); Dalam suratnya, rasul Petrus mengatakan agar ‘kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan’ (1Petrus 3:15; 2Petrus 1:2). Sama dengan Injil Yohanes dan kitab Wahyu yang ditulis Yohanes, suratnya menekankan bahwa ‘Yesus adalah Allah’ (Yohanes 1:1; 1Yohanes 5:20; Yudaspun dalam suratnya mengaku ‘Tuhanku, Yesus Kristus’ (1:17,21).
Lalu bagaimana dengan Konsili Nicea (325)? Kita mengetahui sejak masa Yesus hidup di abad-1, Yesus sudah diaku sebagai ‘Tuhan’ dan itu berlangsung sejak abad pertama dan abad-abad berikutnya. Di awal abad-4, seorang penatua di Aleksandria, Afrika, bernama ‘Arius’ menolak kepercayaan yang sudah lama berlangsung di kalangan Kristen itu dan terpengaruh ajaran Neo-Platonis dan Gnostik menganggap bahwa Yesus itu lebih rendah dari Allah dan bukan Allah. Karena ajaran ini meresahkan umat maka Kaisar Konstantine mengadakan Konsili di Nicea untuk meluruskan pandangan ini dan hasilnya Konsili Nicea meneguhkan kembali kepercayaan ‘Yesus adalah Tuhan’ yang sejak abad pertama sudah menjadi bagian iman Kristiani. Ajaran Arius kemudian lenyap di abad-6 namun secara sporadis kemudian muncul kembali dalam ajaran Unitarian (abad-17) dan Saksi-Saksi Yehuwa (abad-19).
Dari data yang begitu eksplisit dan banyak itu kita dapat menyimpulkan bahwa IH adalah seorang yang belum lama mengenal agama Kristen (Katolik) sehingga dapat dimaklumi kalau komentar-komentarnya umumnya dangkal dan bersifat generalisasi yang tidak bisa membedakan kasus perorangan dengan praktek umum, karena itu kita tidak perlu merisaukannya. Namun, dibalik komentarnya yang sinis mengenai ajaran ‘Yesus adalah Tuhan’, kritik IH akan kekristenan sekalipun terlalu digeneralisasikan memang perlu mendapat perhatian, misalnya dalam beberapa hal berikut:
Pembagian sembako yang dilakukan oleh gereja Kristen dituduhnya sebagai kristenisasi. Memang harus diakui bahwa ada gereja-gereja tertentu yang melakukan hal itu tetapi persentasinya kecil. Mayoraitas orang Kristen memang karena kasihnya kepada Tuhan dan sesama akan menolong sesamanya apapun agama mereka. Kalau semua kasih orang Kristen dicap sebagai kristenisasi, siapakah pihak yang mengkritik untuk menggantikan peran badan-badan Kristen yang telah menolong umat yang miskin? Adalah salah kalau umat Kristen menyatakan kasihnya dengan pamrih dengan tujuan mengkristenkan, tetapi janganlah karena takut dituduh kristenisasi lalu umat Kristen menjadi mandul dalam hal kasih.
IH mengkritik kristenisasi melalui bantuan ‘khitanan masal,’ memang benar kalau hal itu dilakukan untuk tujuan kristenisasi, namun kalaupun ada gereja yang melalukan itu, justru bukankah itu membanu islamisasi anak-anak mengingat bahwa umat Kristen tidak menjalankan sunat? Lagipula persentasinya kecil adanya gereja yang membantu khitanan masal dibandingkan yang tidak, kecuali kalau diminta sebagai sponsor?
Kristik IH terhadap buku karya Robert Morey berjudul ‘Islamic Invasion’ boleh-boleh saja karena Morey memang tergolong Kristen fundamentalist yang bukunya lebih bersifat sensasi dan provokasi daripada mengungkapkan kebenaran. Menuduh kekristenan seluruhnya menjadikan buku ‘Islamic Invasion’ sebagai buku pegangan pendeta-pendeta di seluruh Indonesia rasanya terlalu bombastis, karena hanya minoritas Kristen yang ikut memprogandakan buku Morey (lihat artikel ‘Islamic Invasion’ dalam www.yabina.org).
Marilah kita mendoakan agar Irene Handono mengenal lebih dekat Yesus yang adalah Tuhan agar ia dapat mengalami damai dan sejahtera Allah dengan benar dan tidak sampai mengidap hati yang penuh kebencian dan bahkan menaburkan kebencian itu di kalangan umat yang lugu. Demikian juga kita harus mendoakan umat agama lain yang masuk Kristen agar mereka tidak menjelek-jelekkan agamanya semula karena luapan syukurnya menjadi Kristen melainkan hidup dalam kasih Allah.
Kiranya damai sejahtera Allah menyertai kita.Salam kasih dari Redaksi YABINA ministry www.yabina.org