Artikel 7_ 2005                 


THE DA VINCI CODE
 

Buku dengan judul di atas adalah buku terpopuler saat ini. Terjemahan bahasa Indonesia (2004) tiap bulan dicetak ulang dan pada bulan Januari 2005 sudah cetakan ke-8, inipun diterjemahkan dari cetakan bahasa Inggeris yang ke-45 yang dicetak sejak tahun 2003. Buku ini berturut-turut menjadi buku best seller versi The New York Times dan sekarang sudah dicetak lebih dari 17 juta.

Mengapa buku ini laris manis? Kelihatannya pembagian atas 105 bab + epilog itu sangat memudahkan pembaca membaca buku setebal 631 halaman itu, dan isinya memang menarik karena menyajikan sebuah novel yang sekaligus bersifat thriller, teka-teki, detektif, konspirasi, dan skandal. Lebih dari itu subjudul buku itu berbunyi: ‘Memukau nalar Mengguncang Iman!’ dan ‘Misteri Berbahaya di Balik Karya Leonardo Da Vinci.’

Siapa yang tidak kenal ‘The Last Supper’ dan ‘Mona Liza’ lukisan Leonardo Da Vinci? Ada rahasia apa diungkapkan lukisan itu, dan apakah yang ‘Memukau Nalar Mengguncang Iman?’ Daya tarik itulah yang membuat buku ini populer, apalagi adanya sikap reaktif tokoh-tokoh Kristen terutama Sekertaris Paus yang melarang toko buku Katolik menjualnya, buku ini menjadi buku yang dicari.

Ceritanya tentang seorang kurator museum ‘Louvre’ di Paris, Jacques Sauniere, yang terbunuh dan meninggalkan kode lukisan Vitruvian Man dan coretan di lantai deretan angka 13-3-2-21-1-1-8-5 dan kalimat O, Draconian Devil! Oh, lame saint! Orang jadi tertarik teka-teki kalimat itu apalagi ada baris ke-4nya: P.S. Cari Robert Langdon. Sebelum mati Sauniere ingin bertemu Robert Langdon, ahli simbologi Harvard yang sedang berceramah di kota itu. Langdon diajak polisi ke TKP dan dibantu Sophie Neveu, kriptolog, yang ternyata cucu Sauniere.

Kode angka itu deretan fibonacci 1-1-2-3-5-8-13-21 (angka berikutnya = jumlah dua angka sebelumnya) dan kalimat itu anagram Leonardo Da Vinci! The Mona Lisa! Dan P.S. bukan singkatan Sophie Neuveu tetapi Priore de Sion (Biarawan Sion), sebuah kumpulan rahasia yang diikuti tokoh-tokoh seperti Sir Isaac Newton, Leonardo Da Vindi, Victor Hugo, dan Sauniere. Deretan angka dan kalimat sandi itulah yang dijadikan daya tarik pembaca.

Lukisan Vitruvian Man memang kesukaan Sophie, dan untuk menarik perhatiannya sekaligus mengarah pada pentakel, dewi perempuan, demikian juga lukisan Mona Lisa, yang juga dianggap menunjuk lambang androgini perpaduan dewa Amon dan dewi Isis, ternyata telah ditulisi dengan spidol stylus yang bisa dibaca dalam cahaya lampu dan berbunyi So Dark The Con Of Man. Ini juga anagram Madonna Of The Rocks, lukisan lain yang berada di seberang Mona Liza. Di belakang lukisan itu ditemukan kunci berbentuk salib dengan tulisan 24 Rue Harco. Alamat itu adalah Bank Penyimpanan Zurich.

Di locker bank yang dibuka dengan kode anagram deret fibonacci itu ditemukan kotak kayu bergambar mawar yang didalamnya ada cryptex, silinder pualam, terdiri lima cakram dengan deretan abjad setiap cakramnya, dan untuk membukanya dibutuhkan kode 5 huruf. Karena mereka tidak mengerti maka mereka menuju rumah Sir Leigh Teabing, bangsawan Inggeris yang telah lama menyelidiki rahasia The Holy Grail

Teabing menjelaskan bahwa ‘Grail’ bukan cawan perjamuan tetapi rahim perempuan, mawar juga berarti wanita, dan menurutnya itu menunjuk Maria Magdalena yang menikah dengan Yesus dan keturunannya dilindungi kerahasiannya oleh Biarawan Sion yang membentuk tentara Templar untuk mengamankan mayat Maria di bawah Bait Allah Salomo. Teabing menyebutkan bahwa Konsili Nicea (325) dengan voting mengangkat Yesus sebagai Tuhan dan menentukan Kanon Alkitab. Maria Magdalena dengan keturunannya jadinya tidak boleh ada untuk melindungi kepercayaan gereja.

Lukisan Last Supper Leonardo ditafsirkan baru dengan menyebut murid di sebelah kanan Yesus adalah Maria Magdalena, isteri Yesus, ia adalah ‘rasul kepada rasul’, ia primat gereja bukan Petrus. Dalam lukisan itu digambarkan Petrus marah kepada Maria hingga mau menggorok leher Maria dengan tangannya. Cawan perjamuan melambangkan rahim wanita yaitu Maria Magdalena.

Vatikan ingin memusnakan rahasia itu melalui organisasi Opus Dei yang dengan perantaraan Uskup Aringarosa mengikuti petunjuk Guru, menyuruh Silas membunuh anggota biarawan Sion yang tidak mau menunjukkan dimana rahasia itu berada.

Silas ke rumah Teabing ingin merampas cryptex dan tidak berhasil dan karena rumah itu dikepung polisi, Teabing dkk. kabur lewat pintu belakang ke bandara dan terbang ke London, karena ditemukan kode baru tentang makam para Templar. Mereka mencarinya di Gereja Temple, Templar dianggap memuja dewa Baphomet yang bila dimengerti melalui sandi atbash menjadi SOFIA, kode pembuka cryptex. Dalam cryptex ditemuakan cryptex kedua yang lebih kecil dan papirus bertuliskan kode yang mengarah ke kuburan Sir Isaac Newton.

Klimaksnya terjadi di Westminster Abbey tempat makam Newton, dimana ternyata Teabing adalah si Guru, dalang yang juga mengatur Opus Dei, ia berebut cryptex dengan Langdon yang dimenangi Langdon yang kemudian tahu kode cryptex kedua yaitu APPLE. Papirus dalam cryptex kedua mengarahkan ke Kapel Roslin yang diplesetkan Rosslyn, Rose-Line, dan Line of Rose, garis keturunan Maria Magdalena. Roslin yang berada di Skotlandia ternyata dijaga oleh nenek dan adik Sophie, dan mereka adalah keturunan darah Maria Magdalena dan Yesus. Itulah rahasia Grail yang dijaga Biarawan Sion dan Di cari-cari Opus Dei.

Sebenarnya bagi yang terbiasa membaca bisa melihatnya sebagai fiksi apalagi Dan Brown penulisnya mengaku itu novel fiksi, dan di Epilog buku disebut semua itu hanya mimpi Langdon yang tidur selama 2 hari di kamar hotel Ritz di Paris. Tetapi yang menarik menjadi polemik adalah ucapan Langdon dalam ‘FAKTA’ di awal buku: ‘Semua deskripsi karya seni, arsitektur, dokumen, dan ritus dalam novel ini adalah akurat.’ Yang menjadi masalah, batas antara yang fiksi dan fakta adalah abu-abu sehingga banyak pembaca awam yang senang sensasi menganggap yang fiksi sebagai fakta.

Museum Louvre adalah fakta, tetapi peran Sauniere, Langdon, Sophie, Aringarosa, Silas, dan Tebaing adalah fiksi. Leonardo dan lukisannya Manusia Vitruvian, Mona Lisa, dan Last Supper adalah fakta, tetapi menyebut lukisan-lukisan itu mengandung rahasia perempuan suci adalah fiksi. Lukisan Last Supper jelas merupakan gambaran Leonardo yang merinci peran murid-murid Yesus dengan mimik masing-masing. Di kanan kiri Yesus yang duduk terdekat adalah murid Yohanes dan Yakobus menggambarkan permintaan ibu mereka (Mat.20:20-21). Yohanes (dan Petrus) disuruh Yesus menyiapkan perjamuan, maka kalau tempatnya diganti Maria Magdalena dan ia tidak ada tentu fiksi.

Injil Gnostik Maria yang dianggap berisi ucapan-ucapan Yesus adalah fakta, tetapi menyebut Injil Maria bukti kerasulan utama Maria Magdalena adalah fiksi. Aliran Gnostik berkembang abad-2 dan 3, dan penemuan Injil Maria di Nag Hamadi (1945) berasal dari abad-4. Aliran ini tidak mengaku Yesus sebagai Tuhan dan manusia bisa menyelamatkan diri dengan kekuatan sendiri.

Konsili Nicea memang fakta, tetapi menyebut konsili itu memutuskan ke’Tuhan’an Yesus dan Kanonisasi Alkitab adalah fiksi. Yesus sebagai Tuhan sudah disebut Perjanjian Baru yang ditulis pada abad-1 (Yoh.1:1;20:28;Ibr.1:8), dan Kanon Alkitab sudah diakui umat Kristen sejak abad-2 (termasuk diterjemahkan Peshita pada abad yang sama) dan Konsili Laodicea (363) meneguhkan kanon PB yang sudah diakui mayoritas umat Kristen sebelumnya. Konsili Nicea khusus diadakan untuk membantah ajaran Arius yang menganggap ‘Yesus hanya manusia lebih rendah dari Allah,’ suatu ajaran yang melawan kepercayaan umat Kristen yang sudah berjalan selama 3 abad sebelumnya.

The Holy Grail adalah legenda kalangan ksatria meja bundar Raja Arthur. Raja Arthur adalah fakta, namun legenda grail adalah fiksi, dan legenda Grail juga hanya menyebutnya sebagai cawan berkhasiat yang fiksi apalagi kalau sekarang di fiksikan lebih lanjut sebagai lambang rahim Maria Magdalena yang menurunkan anak bagi Yesus.

Demikian juga The Templars memang fakta yang dibentuk seusai perang Salib-I (1095-99) yang ditujukan untuk melindungi para peziarah yang ke Yerusalem, dan karena praktek perbankannya yang maju, membuat iri Raja Philip IV dan Paus Clement V (1307), sehingga dituduh bidat dan dibubarkan. Tetapi, menyebut The Templars sebagai menyimpan petimati Maria Magdalena yang ditemukan di  bawah Bait Allah Salomo jelas fiksi karena bagaimana bisa menjadi rahasia dan bagaimana tempat yang sehari-harian digunakan untuk ibadat Yahudi bisa digunakan mengubur orang Kristen?

Opus Dei memang fakta sejak tahun 1928 bahkan diangkat setara keuskupan (1982), tetapi menuduhnya sebagai mempraktekkan praktek ‘menyakiti tubuh’, ‘merendahkan wanita’, dan ‘terlibat skandal keuangan Vatikan’, kelihatannya bermisi tendensius untuk menjelek-jelekkan gereja Katolik Roma. Entah pengalaman tarumatis apa dialami Dan Brown sehingga sakit hatinya terhadap gereja itu dituangkan dengan menulis novel fiksi demikain.

Umat Kristen tidak perlu bereaksi berlebihan menghadapi novel fiksi impian tokoh fiktif Robert Langdon yang ditulis Dan Brown itu. Melarang justru makin melariskan buku itu. Cukuplah umat Kristen meluruskan yang fiksi dengan mengemukan faktanya kepada mereka yang bertanya.

Amin.

Salam kasih dari Redaksi www.yabina.org

Catatan: Mereka yang membutuhkan untuk pelayanan dapat meminta MSAmaya-78 berjudul sama melalui subscribe-MSAmaya@yabina.org. Pada akhir April 2005 terbit buku ‘KODE DA VINCI, Fakta di sela-sela Fiksi’ (Mitra Pustaka).


[ YBA Home Page | Artikel sebelumnya]