Ruang Tanya jawab September 1999 

Form untuk mengirim pertanyaan


MENGINJILI ROH ORANG MATI?

Beberapa pertanyaan dan tanggapan telah diterima oleh YBA sehubungan dengan penerbitan Makalah Sahabat Awam no.51 berjudul 'Spiritisme dan Pengajaran Dunia Roh' (MSA-51) dan yang petikannya secara ringkas juga pernah dimuat dalam mimbar Diskusi (Ajaran Dunia Roh) dan Renungan (Inner Healing) pada website ini. Berikut diskusi mengenai pertanyaan/tanggapan yang masuk:

1 Halo YBA … masih ngecap kami sesat? Wah MSA anda no.51 telah menjadi batu sandungan banyak orang euj … hati-hati lho nanti anda mendukakan Roh Kudus (Mat.12:22-37;7:15-20). (Henky Christian, Revival Total Ministry)

Terima kasih untuk tanggapan Henky, baik juga kalau ada yang tersandung, sebab orang yang tersandung akan disentak dan disadarkan bahwa ada sesuatu di jalan yang dilaluinya. Itu bisa batu yang membuat jatuh tetapi bisa juga anak tangga yang membawa kita ke tempat tujuan yang lebih tinggi. YBA banyak menerima surat maupun e-mail yang berterima kasih atas penerbitan MSA-51 dan banyak yang memintanya lagi. Ada banyak gereja mengundang untuk menceramahkan isinya, dan bahkan ada gereja Pentakosta yang membagikan MSA-51 kepada peserta persidangan sinoda gereja itu. Akibatnya, dalam waktu dua bulan setelah terbit, MSA-51 sudah harus dicetak ulang untuk ketiga kalinya.

Hendaknya berhati-hati meng-atas-namakan Roh Kudus seakan-akan yang tidak menyetujui pelayanan RTM berarti menghujat Roh Kudus. Apakah RTM benar-benar bekerja dibawah pimpinan Roh Kudus seperti yang dijanjikan Yesus dalam Alkitab? Itu patut diragukan. RTM terlalu mudah mengklaim seakan-akan Roh Kudus menyuruh atau memberi tahu tetapi sering dalam literatur RTM kelihatan bahwa yang disebut sebagai RK itu semacam suara hati atau kekuatan yang ada dalam diri manusia itu sendiri, bahkan dalam seminar DOM di Wisma Bumi Asih Jaya Bandung bulan Agustus yang lalu RK dianggap sebagai perlengkapan saja (equipment) yang sudah dimiliki manusia. Hati-hati karena RTM menganut dan mempraktekkan ajaran Inner Healing yang sarat dipenuhi faham pantheisme, perdukunan, dan psikologi mistik Zen Buddhisme dari Carl Jung.

Agnes Sanford pelopor yang mempopulerkan Inner Healing ke dalam gereja Kristen memandang Roh Tuhan sekedar energi/kekuatan batin:

"Kita dijadikan, bukan dari materi yang keras tidak bisa ditembus, tetapi oleh energi. Zat kimiawi yang terpenting dalam tubuh - "debu tanah" - hidup oleh nafas Allah, oleh energi prima, kekuatan (force) asli yang kita sebut Tuhan." (The Healing Light, Logos, 1976, h.19).

Dalam buku 'Dictionary of Pentecostal and Charismatic Movements' pelayanan Agnes disebut:

"menjalankan kesembuhan ilahi mengikuti hukum-hukum alam dan berfikir positif (positive thinking)." (h.767)

Morton Kelsey pelopor Inner Healing lainnya, murid Carl Jung, menyebut bahwa karunia Allah (gift/kharismata) sama dengan kuasa-kuasa perdukunan yang disebutnya 'Psi' (Christian & the Supernatural, Augsburg, 1976, h.103-123), padahal Alkitab menyebutnya berbeda (Kuasa Musa >< sihir Mesir dan Kuasa Filipus >< sihir Simon). Dalam bukunya yang lain ia menyamakan Roh Kudus sebagai diri/self (Christo-Psychology, h.136-137). Dalam buku Dictionary yang sama pelayanan Kelsey disebut:

"meluaskan pandangan Agnostisisme melalui pengertian ahli jiwa C.G.Jung, yang teori-teorinya mengenai ke tidak sadaran digunakan sebagai model penafsiran." (h.516)

Dalam buku 'Memperkenalkan Psikologi Analitis' (Gramedia, 1989), Carl Jung disebut:

"melakukan riset empiris tentang gejala-gejala occult (gaib) dan spiritisme … disertasinya berjudul "Tentang Psikologi dan Patologi yang disebut Gejala Okultisme … simbolisme religius dan yoga dari Hinduisme dan Buddhisme Zen, mistik alkemis taoistis dan filsafat Konfucianisme dari Cina, akan memainkan peranan penting dalam penyelidikan psikologisnya." (h.6,19)

Dalam proses individuasi yang oleh Carl Jung disamakan dengan pemusatan pada 'Mandala' Hinduisme & Buddhisme, untuk menyatukan dan mencari 'emas kebijaksanaan,' disebut:

"Emas kebijaksanaan ini dibahasakan oleh Jung sebagai self, yang kemudian dalam tahap berikut dilihatnya sebagai imago Dei … self sebagai satu Gambaran Allah dalam manusia." (Ibid, h.14-15,147).

Terima kasih untuk ayat-ayat yang diberikan hanya jangan dipotong tetapi bacalah lanjutannya:

"Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! Akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi namaMu, dan mengusir setan demi namaMu, dan mengadakan banyak mujizat demi namaMu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari padaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan!" (Mat.7:21-23)

Kami mendoakan semoga Henky yang masih muda dapat kembali ke jalan Tuhan dan firmanNya, sebab bila tidak jangan-jangan orang tidak lagi memanggil dengan nama Henky Christian (murid Kristus - Kis.11:26) tetapi menggantinya menjadi Henky Jungian (murid Jung).

2 Antara Firman Tuhan atau dasar alkitabiah dan pengalaman harus ada keseimbangan … setiap doktrin atau ajaran tentang suatu kebenaran, harus disertai pengalaman yang nyata atau demonstrasi oleh kuasa Roh Kudus. Pengajaran yang tanpa disertai manifestasi Roh Kudus selalu akan menjadi ajaran kering dan mati yang membosankan karena tak riel dan tak dapat dipraktekkan oleh orang beriman. "Sebab Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa." (1.Kor.4:20) (Andereas Samudera, Dunia Orang Mati, RTM, 1998, h.15).

Kita harus berhati-hati untuk tidak begitu saja menyamakan 'pengalaman' dengan 'kuasa Allah' apalagi ditafsirkan dari ayat 1.Kor.4:20 yang dianggap seakan-akan 'perkataan' itu mewakili 'mereka yang hanya mengandalkan kata-kata Alkitab' (seperti teologi) dan 'kuasa' mewakili 'pengalaman-pengalaman RTM.' Penafsiran ayat itu jangan dilepaskan dari konteksnya, sebab ayat itu berkaitan dengan pembicaraan rasul Paulus dengan para filsuf yang membanggakan 'kata-kata hikmat' mereka.

Paulus berbicara mengenai 'pemberitaan salib' dan 'berita salib itu adalah kuasa Allah' (1.Kor.1:18). Jadi bukan diperlukan keseimbangan antara 'perkataan' dan 'tanda/kuasa' tetapi perkataan yang disertai kuasa Allah, artinya perkataan yang disertai dan semuanya berpusat 'Kristus sebagai kuasa dan hikmat Allah' (1.Kor.1:24). Paulus tidak sekedar bergantung perkataan tetapi pada Kristus (1.Kor.2:1-2), kuasa Roh dan kuasa Allah. Paulus selalu berorientasi pada firman Tuhan yang berkuasa bahkan dikatakan "Jangan melampaui yang ada tertulis" (1.Kor.4:6) dan Paulus memusatkan diri pada 'Kristus Yesus dan Injil' (1.Kor.4:15). Paulus mengatakan tidak ada gunanya 'perkataan hikmat' para filsuf tanpa kekuatan, sebab 'Kerajaan Allah terdiri dari kuasa' (1.Kor.4:19-20)

Memang tepat bahwa 'teologi/pengertian Alkitab' tanpa kuasa Allah tidak berguna demikian juga dengan kuasa tanda-tanda tanpa firman yang disertai 'kuasa Allah'. Yang menjadi masalah adalah tepatkah RTM mengklaim praktek pelayanannya sebagai 'kuasa Allah' dan apakah praktek yang dikatakan 'kuasa Allah' itu berpusat 'Injil Kristus?' Rupanya tidak. Ternyata praktek-praktek RTM dilandaskan konsep 'kuasa' kebatinan/perdukunan yang lebih mirip 'kuasa Allah/Besar'nya Simon si sihir daripada 'kuasa Allah/Roh Kudus' yang menolong Filipus dan Petrus (Kis.8:4-25), ini dapat dilihat dari pengajaran 'Word of Faith' (Kenneth Hagin) dan pelopor Inner Healing (Agnes Sanford & Morton Kelsey) yang menyamakan 'kuasa perdukunan' dengan 'karunia rohani', dan ajaran inilah yang menjadi dasar pelayanan 'kuasa' dari RTM. Kuasa apakah yang digunakan dalam inner healing dimana 'Yesus dijadikan wayang yang gerakannya diatur dalang si pendoa inner healing?' Kuasa ini adalah kuasa kekuatan diri/batin manusia! Agnes Sanford menganggap Tuhan sekedar energi prima atau 'the force' (bandingkan dengan the Force dalam serial Star Wars) dan Morton Kelsey menganggap 'diri' manusia adalah Roh Kudus, suatu konsep yang diambilnya dari Carl Jung yang beranggapan bahwa 'diri' manusia adalah 'bayangan Allah' yang disamakan dengan konsep mikro-kosmos 'Mandala' dalam Hinduisme/Buddhisme.

Benarkah pelayanan 'kuasa' RTM berpusatkan 'Injil Yesus Kristus?' Dalam buku 'Dunia Orang Mati' terlihat bahwa RTM lebih berdasar pengalaman pribadi dan tulisan-tulisan manusia dan apokrifa daripada firman Tuhan (Win Worley, Charles Doss, Marietta Davies, G.G.Ritchie, John G. Lake dll.) dan menganggap diri sama bahkan lebih dari Yesus (h.65-66) dan dalam inner healing 'Yesus dijadikan wayang yang dimainkan dalang pendoa'. Menginjili orang mati bukanlah perintah Yesus dan menjadi wewenang Yesus yang memiliki 'kunci kerajaan Sorga' (Wah.1:18), jadi menginjili orang mati sama halnya dengan 'mengambil alih peran Yesus tanpa disuruh.' Kerasukan roh orang mati dan menginjili roh itu juga tidak ada dasarnya dalam Alkitab. Praktek Inner Healing 'yang menghadirkan Yesus agar menyembuhkan pasien sesuai imajinasi pendoa yang oleh Agnes Sanford dianggap sebagai penebusan elas 'mengingkari dan melecehkan Injil Salib Yesus Kristus'!

3 Menurut Tuhan Yesus ketika Beliau berhadapan dengan orang Saduki yang mempertanyakan tentang kebangkitan (Mat.22:23-33 bandingkan dengan Mar.12:18-27), kekeliruan (error) itu justru terjadi karena manusia tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah. Kata-kata "Kitab Suci" dan "kuasa Allah" ini perlu kita beri garis bawah sebab keduanya dapat mewakili unsur "pemahaman" dan "pengalaman." (Joachim Huang, Makalah Seminar "Mungkinkah Penginjilan Di Dunia Orang Mati?", Agustus 1999, h.1,8,10)

Kembali kita perlu berhati-hati agar tidak menggunakan ayat-ayat Alkitab sekedar untuk menunjang 'pengalaman' padahal ayat itu mempunyai pengertian yang jauh lebih dalam. Perikop itu menceritakan tentang percakapan Yesus dengan orang Saduki (para rasionalis, sekularis & materialis pada zaman itu), golongan yang tidak mempercayai soal 'jiwa, kehidupan sesudah mati dan hubungannya dengan perilaku semasa hidup, dan lebih-lebih kebangkitan.' Kalau Yesus mengatakan 'mereka tidak mengerti Kitab Suci' itu dimaksudkan bahwa sekalipun mereka memegang kitab suci mereka tidak mempercayai dan mengerti apa yang tertulis di dalamnya. Disamping itu mereka menganggap kebangkitan tidak mungkin terjadi karena melawan hukum alam, tetapi Yesus menegaskan bahwa itu terjadi karena 'Kuasa Allah' yang tidak mereka mengerti, jadi 'Kitab Suci dan Kuasa Allah' menyatu dalam pengajaran kebangkitan. Rasanya terlalu jauh kalau kemudian ini ditafsirkan untuk menunjang 'pengalaman penginjilan orang mati', sebab pengalaman ini disamping tidak sesuai 'Kitab Suci' juga tidak ada kait-mengkaitnya dengan 'Kuasa Kebangkitan Allah.' Simon si sihir dianggap dan menganggap dirinya sebagai 'kuasa Allah' (Kis.8:10) padahal kuasa itu adalah 'kuasa/kekuatan kebatinan yang disebut sebagai Kuasa Besar.' Kita perlu berhati-hati untuk tidak meng-klaim 'kuasa batin' sebagai 'kuasa Allah' karena itu adalah ajaran 'New Age' yang memang diikuti oleh pelopor-pelopor Inner Healing (yang disebut terdahulu) yang ajarannya menyatu dengan pengajaran 'Dunia Orang Mati.'

Faktanya gereja-gereja yang mengkritik 'pengajaran DOM' adalah mereka-mereka yang bukan saja 'memahami' tetapi percaya 'Kitab Suci' dan 'Kuasa 'Kebangkitan' Allah'. Sebaliknya diragukan kalau 'pengalaman' pengajaran DOM benar-benar mengerti 'Kitab Suci' dan 'Kuasa 'Kebangkitan' Yesus' soalnya dalam 'Kitab Suci' jelas disebutkan bahwa penebusan dan Kebangkitan Yesus telah membebaskan kita dari dosa padahal dalam 'pengajaran RTM' hal itu secara implisit disangkal dan penebusan itu masih harus ditambah-tambahi dengan praktek 'Visualisasi Inner Healing' maupun 'Membakar patung dan boneka tumpas.'

4 Model penyelesaian yang hendak kami sodorkan sehubungan dengan menjawab pertanyaan tematik: "Mungkinkah Penginjilan di Dunia Orang Mati?" mengacu pada teladan Tuhan Yesus sendiri. Integrasi tuntas ini adalah firman menjadi daging sebagaimana Tuhan Yesus sendiri adalah Kalam yang menjelma menjadi manusia. Ini melebihi sekedar suatu analogi. Jadi, integrasi tuntas adalah mengikut Yesus secara literal dalam perkataan dan perbuatan. Dalam satu kata, integrasi tuntas juga bersifat inkarnasional. Kebenaran Allah hidup melalui kita sedemikian rupa sehingga kita hidup seperti Yesus hidup. Inilah proses integrasi sepanjang umur yang tak pernah berhenti sampai kekekalan nanti. (Joachim Huang, Ibid, h.9)

Ucapan 'Hidup seperti Yesus hidup' menunjukkan dengan jelas adanya pengaruh pandangan para pelopor Inner Healing yang sudah menggarami 'pengajaran Dunia Roh' dimana manusia mengidentikkan dirinya sendiri sebagai 'Yesus' pandangan New Age yang tidak menjadikan Tuhan Yesus sebagai Tuhan yang lebih dari manusia tetapi 'diri sendiri disamakan dengan Tuhan Yesus' (bandingkan buku Dunia Orang Mati, h.65-66). Apakah penginjilan di dunia orang mati teladan Yesus? Jelas tidak, sebab Yesus melakukannya ketika Ia dalam keadaan Roh dan Ia tidak pernah menyuruh murid-muridnya melakukannya dan Kitab Suci tidak pernah menunjukkan adanya fakta itu dalam kehidupan para nabi dan Rasul bahkan banyak ayat menunjukkan bahwa praktek 'berhubungan dengan arwah' adalah dosa di hadapan Tuhan! Yesus melakukan itu karena Ia memiliki kunci alam maut (Wah.1:18) dan kunci itu tidak pernah diberikan kepada manusia. Jelas pengajaran ini bukan pengajaran Kitab Suci tetapi 'pengajaran New Age yang dimasukkan ke dalam Kitab Suci.' Ingat bahwa Yesus ketika menyuruh murid-muridnya mengatakan "Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman" menunjukkan keterbatasan manusia sehingga disertai Yesus dan dianugerahi 'Roh Penolong' untuk menolong manusia, jadi bukan bahwa 'manusia dirinya sendiri sudah menjadi Yesus dan Roh Kudus' (Ini konsep New Age/kebatinan).

5 Lalu bagaimana dengan Yohanes 5:25-29? Bukankah "semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suaraNya … dan bahwa orang mati bisa mendengar Injil … Sejak kapan mereka (orang mati) boleh mendengar suara Anak Manusia? Sejak Tuhan Yesus berkata demikian hingga sekarang ini, mereka telah boleh mendengar berita Injil keselamatan mereka!" (Andereas Samudera, op cit, h.53-54).

Memang bila kita membaca ayat-ayat itu secara sederhana maka akan timbul kesimpulan bahwa yang dimaksudkan adalah orang mati dalam kuburan, ini sama kelirunya dengan anggapan bahwa orang mati itu mati rohani. Kembali perlu diingatkan bahwa ayat-ayat Alkitab tidak berdiri sendiri tetapi ia terkait konteks perikopnya. Apa yang disebut dalam potongan ayat di atas berkaitan dengan 'Kesaksian Yesus tentang diri-Nya' (Yoh.5:19-47) dimana 'Ia mengatakan bahwa Ia diberi kuasa membangkitkan orang mati seperti kuasa Allah dalam membangkitkan' (ay.21). Pertama ayat-ayat 24-25 menunjuk pada 'kematian rohani' sebab ay.25 berkaitan dengan ay.24 dan soal itu terjadi saat Yesus berfirman. Kedua, bahwa orang-orang mati dalam kuburan akan mendengar suara-Nya (ay.28) dan ini baru akan terjadi karena 'saatnya akan tiba' (ay.28). Jadi dalam konteks ini 'Yesus berbicara mengenai kuasa kebangkitan dan penghakiman' yang akan diberlakukan kepada pertama 'orang hidup yang mati' (yang mendengar dan tidak percaya) dan itu terjadi pada saat Yesus berkata, dan kedua yang akan diberlakukan kepada 'orang mati dalam kuburan' baik yang sudah mendengar & percaya firman Tuhan atau 'yang telah berbuat baik' untuk masuk ke dalam kehidupan kekal maupun yang tidak percaya firman Tuhan atau 'yang telah berbuat jahat' untuk dihukum (ay.29). Ucapan Yesus "biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka" (Mat.8:22) menunjuk dua kata 'mati' yang berbeda artinya, yang pertama 'mati rohani' (tidak mengikut Yesus) dan kedua 'mati dikubur.'

Perhatikan bahwa dalam ay.29 disebutkan bahwa mereka "telah" berbuat baik atau berbuat jahat, hal-hal yang hanya bisa dilakukan pada waktu mereka hidup di dunia sehingga orang mati dikuburan di-injili pun tidak akan mengubah status itu. Ini menunjuk kepada saat Yesus turun ke alam maut dalam peristiwa kematianNya di kayu salib (1.Pet.3:19-20) dan ini bukan dimaksud bahwa Yesus baru akan memberitakan Injil disana tetapi bahwa Yesus melaksanakan berita 'kebangkitan dan penghakiman' kepada mereka dan 'memisahkan yang berbuat baik dan jahat untuk dibangkitkan dan dihakimi. Tidak ada kesan dalam perikop itu bahwa 'orang mati' perlu dan masih bisa diinjili!

6 Bukankah pengalaman pribadi dengan Roh Kudus itu berguna dalam pelayanan seperti halnya Petrus yang kurang berpengajaran?

Pengalaman memang perlu sebab seorang yang 'percaya' perlu mempunyai 'pengalaman pertobatan dan kelahiran baru' dan 'melakukan pelayanan dengan kuasa' yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Kita harus sadar bahwa Alkitab adalah kumpulan tulisan pengalaman-pengalaman orang-orang beriman yang sudah teruji zaman dan Teologia dihasilkan orang-orang yang bergumul dengan pengalaman rohani sepanjang sejarah dan dikaruniai hikmat Allah. Alkitab dipelihara Roh Kudus dan sudah teruji waktu beberapa milenium!

Bahwa ada orang yang belajar Alkitab maupun teologia tanpa iman dan kuasa Allah memang patut disayangkan (Yoh.5:37-40), tetapi janganlah kita mengabaikan pelajaran Alkitab dan Teologi karena membanggakan 'kuasa' yang belum teruji zaman, apalagi menjadikan sebuah doktrin yang belum teruji melalui persidangan gerejawi tetapi merupakan hasil 'pengalaman pribadi' seseorang yang kemudian dikultuskan. Lebih menyedihkan bila 'ternyata yang dianggap kuasa itu sendiri juga tidak teruji oleh kacamata Kitab Suci.' Andereas Samudera berdasarkan pengalamannya dan penafsiran Wah.20 secara harfiah diluar konteks, menyebut bahwa "sampai sekarang neraka masih belum ada isinya" (kaset 'Pelayanan Kerasulan dan Kenabian') padahal pengalaman 'Kathryn Baxter' dalam bukunya 'Wahyu Tuhan Yesus tentang Neraka' menyebut neraka sudah banyak isinya. Pengalaman-pengalaman pribadi banyak penginjil tentang akhir zaman yang di-klaim 'diwahyukan Tuhan Yesus' yang menyebut Yesus datang kembali pada tahun 1844 (Adventis), 1914 (Saksi Yehuwa), 1977 (Children of God), 1988 (Jeff Hammond), 1992 (Jonggi Cho), dan 1998 (Lembu Merah - Peter Tjondro) semuanya ternyata bohong dan tidak benar. Karena itu pengalaman harus diuji oleh Kitab Suci.

Kita harus belajar dari sikap Petrus yang memang 'orang biasa yang tidak terpelajar' (Kis.4:13) tetapi ia berpusatkan Injil Kristus dan memberitakan bahwa "dalam Yesus ada kebangkitan dari antara orang mati" (Kis.4:2) , dan dengan rendah hati ia mendengarkan rekan sekerjanya rasul Petrus dengan mengatakan kepada para pengikutnya:

"Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya. Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutar balikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain." (2.Pet.3:15-16).

A m i n !

Catatan: Menyambut banyaknya sambutan akan forum diskusi/tanya-jawab YBA tentang masalah teologia maupun umum, sejak Januari 1999 terbuka forum diskusi yang dapat diikuti oleh setiap netter. Dari sekian banyak pertanyaan/tanggapan yang masuk, setiap bulan akan dipilih beberapa pertanyaan/tanggapan yang dianggap penting untuk dirilis secara berselang-seling dengan renungan bulan yang sama. Identitas para netter akan ditulis dengan singkatan tiga huruf disusul dengan kota dimana ia berdomisili. Setiap topik diskusi dapat ditanggapi lagi bila belum terasa cukup. Pertanyaan/tanggapan dikirimkan ke alamat YBA


Form untuk mengirim pertanyaan