Ruang Tanya jawab Maret 1999 

Form untuk mengirim pertanyaan


YESUS Satu-Satunya Jalan?

-

Forum diskusi yang dibuka YBA ternyata mendapat respon menggembirakan dan banyak pertanyaan diajukan. Dalam beberapa bulan terakhir ini banyak pertanyaan diajukan pembaca baik dari dalam negeri maupun mancanegara tentang soal-soal yang menyangkut antara lain mengenai ‘benarkah Yesus jalan satu-satunya?’, ‘inklusif dan eksklusif’, ‘keselamatan dalam agama-agama lain’, ‘kawin campur’ dan banyak lainnya. Karena itu, bulan ini diangkat tema ‘Yesus Satu-Satunya Jalan?’ sebagai topik diskusi. Berhubung pertanyaan-pertanyaan yang diajukan umumnya menyinggung beberapa soal sekaligus dan bertumpang tindih dengan lainnya, maka nomor-nomor diskusi ini tidak mencantumkan secara specifik nama si penanya untuk setiap nomor.

(Tanya-1) AYAT-AYAT EKSKLUSIF. Saya bingung mendengar kotbah-kotbah masakini, sebab ada yang begitu tegas menyebut Yesus satu-satunya jalan keselamatan sedang sekarang mulai ada yang menyebut bahwa Yesus bukan satu-satunya jalan karena ada jalan keselamatan pula dalam agama-agama lain. Bukankah Alkitab menyebut dalam ayat Yohanes 14:6 dan Kisah 4:12 bahwa ‘Yesuslah satu-satunya jalan?’

(Jawab-1) Kita tidak perlu bingung menghadapi situasi demikian, soalnya tidak semua orang Kristen bisa disuruh mempercayai hal yang sama. Memang kekristenan tradisional selama 20 abad mempercayai ‘Yesus sebagai satu-satunya jalan’, tetapi dalam duaratus tahun terakhir sejalan dengan bangunnya rasionalisme yang meresapi dunia teologia dengan berkembangnya faham liberalisme, di kalangan sebagian teolog terjadi reduksi kekristenan melalui studi ‘yesus sejarah’ yang menjadikan Yesus hanya sekedar manusia biasa dan sebagai salah-satu penunjuk jalan agama saja, bahkan melalui ‘Jesus Seminar’ (1985) dipopulerkan faham yang bukan saja ‘menjadikan Yesus sebagai manusia biasa tetapi malah sering merendahkan oknum Yesus sebagai anak haram yang menjadi patriot abad pertama yang frustrasi dan gagal, kawin cerai dan mati di salib dan mayatnya dimakan anjing.’ Mengenai ayat-ayat yang disebut diatas, kita harus sadar bahwa kepercayaan kristen soal ‘Yesus sebagai Satu-Satunya Jalan’ bukan sekedar tafsiran harfiah mengenai kedua ayat tersebut. Sudah sejak buku pertama (Kejadian) sampai kitab terakhir (Wahyu) dalam kanon Alkitab, drama penebusan manusia sebagai karya Allah memenuhi Alkitab, jadi keyakinan gereja mengenai Yesus sebagai satu-satunya jalan bukan sekedar buah penafsiran ayat-ayat PB tertentu tetapi merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah kerajaan Allah. Yang kita mengerti dari seluruh Alkitab (PL+PB).

(T-2) EKSKLUSIFISME vs INKLUSIFISME. Saya pernah mendengarkan ceramah pdt. Ioanes Rakhmat yang menyebutkan bahwa mereka yang mempercayai ‘yesus sebagai satu-satunya jalan’ itu merasa dirinya superior dan eksklusif yang belum apa-apa (a-priori) sudah mengklaim sebagai pemeluk satu-satunya filosofi yang paling ‘perfect’ dan ‘valid’ dan adalah nafsu kedagingan yang memandang agama sendiri paling benar dan agama orang lain tidak benar, nafsu untuk menguasai dan merebut, yang tidak mau mendengarkan dengan simpatik pihak lain yang berbeda dan justru menimbulkan pertengkaran antar manusia. Sebaliknya kita harus membuka diri dan bersikap ‘inklusif’ yang memandang agama-agama lain juga menawarkan jalan keselamatan pula, karena dengan sikap demikianlah kita bisa bergaul dengan lebih sejuk, merdeka, rukun dan penuh kebenaran, kerahiman dan wibawa dengan para pengikut agama lain. Karena itu ia mengajak umat Kristen untuk melakukan ‘passing over’ dengan mempercayai kepercayaan orang-orang lain juga. Bagaimana dengan ini?

(J-2) Cara berfikir di atas adalah cara berfikir ‘syibolet’ (Hakim 12:5-6) yang mempertentangkan secara hitam putih keyakinan eksklusifisme dan inklusifisme, yang menyamakan keyakinan Yesus Satu-Satunya Jalan sejalan dengan sikap tertutup, kedagingan dan tidak bisa bergaul, dan sebaliknya sikap terbuka dan bisa bergaul sebagai ciri-ciri sikap inklusif yang beranggapan Yesus hanya salah satu jalan. Soal eksklusifisme ajaran harus dibedakan dengan eksklusifisme pergaulan karena keduanya berbeda dasar (meta basis), yang satu menyangkut ajaran (apa yang dipercaya) dan yang satu menyangkut perilaku (apa yang dilakukan), keduanya bisa berkaitan bisa juga tidak (percaya tetapi tidak melakukan, Matius 7:21). Dengan ucapannya itu, penceramah yang di sebut di atas sebenarnya eksklusif karena mencap pihak lain yang tidak sesuai dengan pendapatnya sebagai eksklusif. Kita harus sadar bahwa bisa saja seseorang beriman eksklusif tetapi berperilaku inklusif, sebaliknya bisa juga seseorang beriman inklusif tetapi berperilaku eksklusif. Iones Rakhmat sendiri dalam ceramahnya di atas dan tulisan-tulisannya menunjukkan sikap eksklusif yang ‘alergi’ terhadap kelompok kristen yang ‘evangelical’ lebih-lebih yang ‘reformed injili’ (entah trauma apa yang dialaminya di Jakarta). Kita bisa mengamati bagaimana sikap banyak eksponen ajaran inklusif dalam kenyataannya. James Barr penulis buku ‘Fundamentalisme’ tulisannya sarat dengan sikap eksklusif yang mencap para ‘conservative evangelical’. Wesley Ariarajah dalam buku-buku inklusifnya mengaku bahwa sekali waktu ia dikunjungi seorang penginjil dan mengajaknya mengikuti KKR, ia marah dan menutup pintu dari tamunya. Ketika di Princeton penulis mengikuti kuliah umum dipimpin tokoh dialog katolik Raymundo Panikar, pada waktu membuka kuliahnya ia sudah langsung mengkritik pedas para fundamentalis Kristen. TH Sumartana, tokoh dialog agama Indonesia, ketika ribut dengan pimpinan UKSW menolak berjabat tangan dengan rektor UKSW dalam pertemuan rekonsialisasi. Entah apa yang dimaksudkan dengan ‘passing over’ di atas, sebab bila dengan kelompok di dalam kekristenan sendiri tidak bisa dilakukan ‘passing over’ bagaimana dengan kelompok lain? Ingat bahwa dalam setiap agama ada kelompok mesianis, fanatis, dan fundamentalismenya masing-masing.

Namun, harus diakui bahwa memang salah kalau ada orang injili yang beriman ‘eksklusif’ dalam perilakunya juga ‘eksklusif’, itu bisa dilihat antara lain dari praktek-praktek penginjilan yang dilakukan dan juga dari tulisan-tulisan di internet yang menghujat para pengajar ‘inklusif’. Kedua hukum Allah sekaligus mengajarkan kepada kita ajaran yang eksklusif (kasihilah Tuhan Allahmu) dan sekaligus inklusif (kasihilah sesamamu). Jadi ada juga benarnya kritikan yang menyalahkan para penginjil eksklusif yang dalam perilakunya tidak kasih dan arogan. Paulus mengatakan kepada Timotius ‘ikutlah teladanku’ seperti aku ‘mengikut teladan Kristus’ (eksklusif), dan dalam surat Filipi ia mengambarkan teladan Yesus sebagai ‘mengosongkan diri, mengambil rupa sebagai hamba, dan menjadi seorang manusia yang merendahkan diri dan taat sampai mati’ (inklusif). Marilah kita percaya, bertobat dan melakukan kehendak Bapa sebelum mendoakan dan bersaksi dengan perilaku sukacita (bukan kemarahan) dan rendah hati (bukan arogansi) akan kabar baik yang telah kita terima (Roma 10:15b) kepada saudara-saudara kita Rakhmat, Barr, Panikar, Ariarajah, dan Sumartama agar mereka menemukan ‘inklusifisme’ yang mereka cari-cari dan dapat melakukan ‘passing over’ dengan saudara-saudaranya se agama yang masih menjadi ganjalan di hati mereka (Galatia 5).

(T-3) EVOLUSI AGAMA. Bukankah semua agama berasal dari sumber ‘Yang Satu’ yang disebut sebagai ‘Hakikat Tertinggi’ (Sommum Bonum) dan ‘Realitas Hakiki’ (Paul Tillich) yang asal-muasalnya berasal dari Parsi dan kemudian berkembang dalam bentuk agama-agama ‘pantheistic’ yang berevolusi menjadi ‘animistik’, ‘politheistik’ dan kemudian menjadi ‘monotheistik’? Jadi sekalipun tujuan akhir manusia dipahami berbeda-beda oleh banyak tradisi filosofis keagamaan dalam dunia ini, semuanya toh menuju ‘Yang Satu’ itu. Mengapa kita harus melebihkan satu agama dari lainnya?

(J-3) Memang studi ‘sejarah agama’ (yang nota bene diresapi filosofi evolusi sejarah) mempunyai anggapan bahwa asal muasal manusia dan agamanya setua konsentrasi manusia purba di sekitar Mesopotamia, ini didasarkan asumsi bahwa budaya tertua ada di sana. Dari keyakinan evolusi sejarah maka dihasilkan kesimpulan ‘evolusi agama’ yang beranggapan bahwa manusia purba menyembah alam melalui proses proyeksi figur ayah ke kosmos (pantheisme) yang kemudian berevolusi menuju kristalisasi roh-roh pada benda-benda (animisme) dan kemudian mengkristal lagi dalam antropomorfisme ‘politheisme’ sebelum menuju evolusi yang sempurna menuju ‘monotheisme’. Bila ini benar memang dapat diterima bahwa semua agama sebenarnya menyembah ‘Yang Satu’ itu hanya berbeda-beda dalam pengungkapannya dan berbeda dalam proses tahapan evolusinya. Tetapi perlu disadari bahwa pandangan ini adalah salah satu versi pemikiran. Versi ‘sejarah agama’ yang lain menunjukkan bahwa pada awalnya sudah ada keyakinan ‘monotheisme’ kuat dalam budaya primitip karena dari penelitian banyak suku-suku terasing yang primitip sekalipun terlihat ada bekas-bekas keyakinan akan ‘Sang Hyang Agung’ yang kemudian bercampur baur dengan keyakinan ritual praktis dalam bentuk-bentuk animisme dan politheisme yang dianut sekarang. Alkitab menggambarkan ‘sejarah agama’ sesuai pandangan kedua, dimana semula ada monoheisme yang kuat, tetapi dalam perkembangannya manusia merosot ke dalam kepercayaan penyembahan berhala (politheistik) (Di akhir abad ke-XX disamping adanya monotheisme yang kuat kembali marak berkembangnya penyembahan politheisme dan pantheisme dalam gerakan ‘New Age’). Para nabi dan kemudian Yesus mengembalikan kepercayaan itu pada Allah yang Esa (Ibrani 1:1-4), dan dari terang pernyataan Alkitab itu kita dapat melihat bahwa agama-agama lain sebagai ‘kerinduan manusia untuk kembali kepada penciptanya’ tetapi dosa telah mengaburkannya, karena itu penginjilan harus diartikan sebagai rasa sukacita seseorang yang telah menemukan ‘mutiara yang terhilang’ dan ‘ingin menceritakan kepada orang lain’ jadi harus dihindarkan usaha proselitasi. Jadi yang menjadi masalah disini adalah kita ‘percaya kepada sejarah agama yang mana’, saat ini kita tidak dapat membuktikan ‘yang mana yang benar’, soalnya hal-hal itu berada di luar jangkauan pengertian manusia. Tidaklah salah kalau seorang Kristen beriman eksklusif, sebab mereka yang inklusifpun ‘beriman’ kepada ajaran evolusi agama yang ujung-ujungnya eksklusif juga’. Bahwa ada perilaku penginjil yang fanatik dan arogan tidak mengubah hakekat kekristenan yang seharusnya kasih. Drama Paskah Yesus menunjukkan bahwa ada berbagai macam perilaku muridnya tetapi misi Yesus di kayu salib tetap berkibar sepanjang masa. Petrus ‘main pedang’ mencopot telinga oposan Yesus, Yudas menjual Yesus demi uang, dan Thomas meragukan kebangkitannya, tetapi Injil ‘eksklusif’ yang kasih ‘inklusif’ tetap diberitakan sepanjang masa.

(T-4) REDUKSI AGAMA. Bukankah yang penting dalam agama adalah bahwa agama itu mengajarkan kebaikan dan kasih, dan para pengikutnya menjadi manusia yang menampakkan kerahiman ilahi kepada kemanusiaan yang azasi? Yang mempertemukan salib Yesus dengan peristiwa ‘foundational’ lainnya dalam agama-agama bukanlah kejadian-kejadian faktual historisnya, melainkan interpretasi soteriologisnya, bahwa di dalam dan melalui beragam peristiwa dasariah dalam buana agama-agama itu kerahiman dan kerahmanian Allah telah dinyatakan untuk dunia insani ini, dan bahwa agama-agama semuanya memberitakan hal yang sejalan dan sejiwa bahwa Hakikat Tertinggi itu rahmani dan rahimi bagi dunia ini. Kita bisa makin dekat pada Yesus dan juga pada buana agama-agama bukan?

(J-4) Pandangan yang mau mengambil intisari agama-agama sebagai mengajarkan ‘cinta-kasih’ dapat disebut sebagai ‘reduksi agama’, agama yang komplex dicoba dikompres sedemikian rupa menjadi sekedar agama etis. Bila kita menghayati agama-agama dengan seksama, tentu penyimpulan demikian terlalu gegabah sebab agama-agama yang umurnya ribuan itu punya hakekat yang sangat kompleks dan berbeda. Memang pandangan agama etis yang dipopulerkan Ritchl, Harnack dan lainnya itu mencoba menggali kebaikan agama Kristen khususnya agar menjadi agama kasih tetapi resikonya yaitu mengabaikan bahkan membuang aspek-aspek transcendental yang perlu dipercaya. Drama kejatuhan manusia dalam dosa dan keselamatan diabaikan dan direduksikan, dan lari kepada kepercayaan diri yang berlebihan, yang memandang bahwa keberdosaan manusia, atau keterbatasan manusia, adalah hal wajar sebagai bagian dari kodrat manusia yang berfungsi positif edukatif untuk makin mendewasakan manusia melalui pelbagai pengalaman kegagalan dan kejatuhan. Peran Roh Kudus jelas diabaikan padahal Roh Kebenaran ini memberikan kebenaran dan nutrisi pada umat Kristen. Reduksi agama-agama ini tentu merupakan ‘fatamorgana’ atau ‘utopia’ yang baik dalam cita-cita tetapi kabur melaksanakannya karena memang esensi bersama agama-agama itu artifisial. Kita tahu bahwa ada agama-agama yang mempertentangkan kebaikan dan kejahatan secara kekal sehingga terjadi perang yang tidak ada habis-habisnya seperti pada perang kurusetra dan cerita silat Cina. Yang lain menyebut bahwa pedang ditangan kanan dan kitab suci di tangan kiri. Bagaimana kita begitu optimis mau mereduksikan agama-agama itu menjadi sekedar agama etis yang mencerminkan Allah yang rahmani dan rahimi? Allah yang mana? Rahimi dan Rahmani yang bagaimana? Dan Kebaikan yang bagaimana? Sebab ada agama yang mengajarkan bahwa manusia itu adalah Allah, Agama Church of Satan mengajarkan setan sebagai Tuhan dan ‘The Bible of Satan’ mengajarkan hal yang sebaliknya dari ke-10 hukum Allah termasuk membunuh dan berjinah. Memang pengakuan para penginjil pluralis adalah bahwa mereka ‘bisa lebih dekat kepada Yesus’, tetapi Yesus yang mana dan bagaimana? Apakah itu Yesus yang didefinisikan ‘Jesus Seminar’?

Kekristenan yang sekedar bersifat ‘etis’ cenderung lari kepada sikap ‘tidak etis’ dengan ‘etika situasinya’ seperti kebebasan hubungan seksual ‘asal dilandasi cinta’, homoseksual bukan apa-apa asal didasari cinta, obortus dan eutanasia bisa tidak apa-apa asalkan menuju cinta pada kesejahteraan yang hidup, bahkan KKN pun bisa dihalalkan asal memenuhi kriteria kebaikan untuk kepentingan bersama. Cinta dan kebaikan yang bagaimana?

Memang harus diakui bahwa sekalipun orang Kristen mengakui hukum Kasih, banyak umat Kristen belum hidup dalam kasih, karena itu umat Kristen yang percaya akan sendi-sendi iman Kristen yang konservatif tentu harus menunjukkan kebenaran agamanya dengan kehidupan yang kasih sebagai kesaksian hidupnya, bukan saja sebagai kesaksian hidup pribadi tetapi sebagai kesaksian hidup bermasyarakat.

(T-5) KAWIN CAMPUR. Dari keyakinan akan adanya kenyataan pluralitas agama dimana agama-agama membawakan jalan kebenaran yang menuju ‘Yang Satu’ itu bukankah baik kalau kita menganjurkan ‘kawin-campur’, sebab bila masing-masing pihak sudah committed akan menikah untuk apa kita larang, apalagi kita hidup di Indonesia dimana umat Kristen menjadi minoritas? Kalau cinta unggul dalam perkawinan rumah tangga itu tentu lebih besar kemungkinan sejahtera, kawin campur membuka kesempatan menjadi kekasih dan saksi Yesus kepada pasangan dan anak-anak, dan bisa menjadi pasangan untuk ‘passing-over’ sementara ke dalam tradisi keagamaan lain untuk memperkaya pemahaman iman Kristen sendiri demi kepentingan lebih besar untuk dunia agama-agama.

(J-5) Memang harus diakui bahwa dalam alam Indonesia dimana umat Kristen menjadi minoritas tentu banyak kasus terjadinya ‘kawin-campur’, tetapi harus dibedakan antara menganjurkan kawin campur dengan kawin-campur yang telah terjadi sebelum seseorang menjadi percaya (ini yang disinggung Paulus). Perkawinan dan kehidupan berkeluarga mencakup aspek biologis, sosiologis dan spiritual. Dari terang ini kita harus menjadikan Tuhan sebagai Tuhan atas suatu perkawinan. Konsep Tuhan yang berbeda menghasilkan etika perkawinan yang berbeda. Ada agama yang menjadikan wanita sekedar sebagai warganegara kelas dua yang menjadikan wanita ‘inferior’ ibarat Yin yang lebih rendah dari Yang, ada pula yang menghalalkan mengawini empat isteri, tentu ini berbeda dengan keyakinan bahwa ‘yang dijodohkan Allah jangan diceraikan manusia, dan isteri satu sebagai mitra dan penolong bagi si suami’. Perkawinan juga mempunyai dimensi kekekalan dan tujuan hidup bersama yang bukan sekedar hidup biologis dan sosial di dunia ini tetapi juga kehidupan spiritual yang punya dimensi imanen dan transenden. Lebih lanjut jangan mengharap bahwa perkawinan campur mudah membawa pada kesatuan cinta kasih, sebaliknya di dunia dimana fundamentalisme makin semarak dan fanatisme agama makin menjadi-jadi, halangan makin banyak, sebab pengaruh keluarga masing-masing, pendidikan anak, dan keyakinan anak bukan perkara mudah karena bagi masyarakat Indonesia dimana orang tua masih dominan dalam percaturan kehidupan keluarga soal kawin-campur bukanlah masalah sederhana. Agama Kristen mengajar suami isteri untuk saling mengasihi termasuk anjuran Paulus bahwa mereka yang beriman dapat menjadi anugerah bagi pasangan yang tidak seiman, tetapi ada agama yang menuntut bahwa pasangan harus pindah agama dan kalau anaknya pindah agama ‘bisa dibunuh hukumnya’. Dalam kasus perkawinan di Kalimantan Barat dan Peristiwa Ambon kita melihat bahwa kawin-campur tidaklah membawa kebaikan, bahkan mereka yang kawin-campur menjadi korban karena dianggap berpihak pada lawan. Sebaliknya memang benar bahwa umat Kristen tidak perlu melarang, memusuhi atau mengusir mereka yang sudah atau ingin kawin-campur, tetapi umat Kristen harus menumbuhkan keluarga yang seiman dan sepanggilan, menjadi Kristen yang benar dan membentuk keluarga Kristen yang penuh kebenaran dan kasih sebagai kesaksian hidup bagi sekelilingnya yang mungkin mayoritas berbeda agamanya. Memang di kalangan Kristen khususnya yang intelektual makin banyak kawin-campur, tetapi dalam semua kasus itu yang mayoritas terjadi adalah bahwa yang Kristen akan pindah agama atau akhirnya tidak akan menginjakkan kakinya ke gereja lagi.

(T-6) INJIL YANG EKSKLUSIF DAN PENGINJILAN YANG INKLUSIF. Bagaimana kita dapat tetap menjadi ‘eksklusif dalam beragama’ tetapi ‘bersikap inklusif dalam bergaul’? Bukankah umat Kristen sering menganggap diri orang-orang ‘terang’ dan agama lain sebagai orang-orang ‘kegelapan’, dan diri sendiri sebagai orang ‘selamat’ dan agama lain sebagai orang ‘terhilang’ sehingga mereka menggebu-gebu dalam ber-PI?

(J-6) Klaim bahwa kepercayaan sendiri adalah benar dan agama lain tidak benar adalah hal yang wajar-wajar saja dalam setiap agama. Ada agama yang menganggap bahwa seseorang harus mengalami pencerahan, dan ada yang beranggapan bahwa yang tidak seagama itu kafir, sampai disini masalahnya adalah wajar. Yang menjadi masalah adalah bahwa keyakinan ‘eksklusif’ itu sering diiringi dengan sikap ‘eksklusif’ pula seperti memusuhi atau bahkan menghalalkan orang agama lain untuk dianak-tirikan atau dibasmi. Umat Kristen harus mempunyai kepercayaan yang teguh kepada Allah dan mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri, sesama manusia dan bukannya hanya sesama yang seagama. PI harus dinyatakan sebagai kesaksian bahwa seseorang yang telah merasakan anugerah yang begitu indah tidak bisa egois dengan tidak membaginya kepada orang lain, karena itu PI tidak boleh dengan sikap memaksa. Ada contoh mengenai seorang pembantu rumah tangga yang yang berbibir sumbing berat oleh majikannya yang Kristen dikasihi dan bahkan dioperasikan dengan transfusi darah dari si ibu rumah tangga. Kasih merupakan bagian tidak terpisahkan dari kehidupan keluarga itu sekalipun belum pernah dilakukan PI verbal kepada pembantunya. Enam tahun kemudian tiba-tiba si pembantu ingin ‘ikut Tuhannya si-ibu’. Setelah dibaptis pembantu itu berapi-api membagikan kesukacitaannya kepada keluarga dan tetangga-tetangganya di kampung. Indah bukan? Bahwa seseorang yang telah menemukan mutiara yang terhilang boleh membagikan kepada orang lain yang dianggapnya masih kehilangan mutiara tersebut. Juga adalah wajar kalau orang beragama lain juga melakukan PI menurut caranya. Tugas umat Kristen adalah terus bertumbuh menjadi dewasa sehingga cara-cara PI-nya makin penuh kasih dan kebenaran dan menghindari pemaksaan Injil atau pengkristenan dengan roti, atau menjelek-jelekkan orang beragama lain, karena hukum yang terutama adalah kasih dan mengasihi sesama harus dinyatakan dalam ber-PI seutuhnya.

(T-7) KASUS AMBON DAN KERUKUNAN ANTAR AGAMA. Apakah peristiwa kekacauan sosial-politik bukannya semata-mata terjadi karena kegalakan fundamentalisme agama tertentu yang diperalat dan memperalat kekuatan politik, ataukah juga karena kita telah salah menyampaikan pesan-pesan kepada masyarakat non Kristen tentang ‘self-image’ kita yang kita agung-agungkan?

(J-7) Kita perlu berhati-hati bila ingin menganalisis ‘perang-kampung’ di Ambon, soalnya masalahnya sebenarnya hanya sedikit yang disebabkan karena masalah ‘eksklusifme’ ajaran agama. Potensi konflik sudah ada sejak kekristenan memasuki kawasan Ambon dimana beberapa abad yang lalu kelompok yang beragama Kristen berbunuhan dengan kelompok yang beragama Katolik bukan karena agama mereka tetapi karena kepentingan politik Belanda dan Portugis saat itu. Adanya RMS dan potensi gejolak juga sudah ditanamkan Belanda dengan politik ‘devide et impera’nya sehingga ‘ambon manise’ yang beragama Kristen dianggap sebagai warga negara kelas dua di bandingkan dengan mereka yang tinggal di Buton dan sekitarnya yang beragama Islam yang dianggap Belanda sebagai warga negara kelas tiga lebih-lebih dengan datangnya para pendatang dari Sulawesi Selatan. Pada masa kemerdekaan kebijakan transmigrasi menambah parah perbedaan itu dengan datangnya transmigran ke sana. Jadi, masalah perbedaan agama tidak berpotensi sebagai pencetus kerusuhan bahkan sebaliknya telah menjadi perekat dengan adanya tradisi ‘pela-gandong’ yang sudah ratusan tahun lamanya. Yang kemudian menjadi potensi konflik paling besar adalah konflik pribumi-pendatang dimana pembagian kekuasaan dan kue ekonomi antara pribumi dan pendatang ini (ini diakui oleh para raja dari kepulauan Maluku yang hadir dalam dialog TV belum lama ini) tidak adil dan menimbulkan keiri-hatian, apalagi ada perbedaan mencolok status ekonomi pendatang yang rata-rata dibawah status ekonomi pribumi atau sebaliknya. Soal perbedaan agama memang menjadi salah satu unsur pemecah belah, tetapi itu bukan urusan ‘eksklusifisme’ agama melainkan soal warisan Belanda & Portugis yang menanamkan perbedaan dan kebencian SARA sebagai kendaraan politis. Yang menjadi masalah disini bukannya karena mereka yang terlibat beragama ‘kristen’ tetapi karena mereka banyak yang ‘belum beragama Kristen’ dan masih menganut tradisi nenek-moyang, praktek perdukunan dengan ‘opo-opo’ nya, berjudi, mabuk-mabuk dan premanisme, sekalipun mereka ber’label’ Kristen. Dari kasus Ambon, Kupang dan Ketapang memang kita perlu mawas diri dan belajar, bahwa PI tidak cukup hanya menjadikan manusia menjadi warga gereja tetapi harus membawa mereka menjadi percaya, bertobat, dan melakukan kehendak Allah dalam kasih. Sama salahnya orang yang hanya ber ‘PI’ demi keselamatan jiwa saja (evangelisasi - lebih-lebih kalau demi mengisi bangku gereja saja) dan yang hanya demi ‘konkretisasi Injil’, ‘inkarnasi Injil’, atau ‘sekedar ‘mengamalkan Injil’, sebab yang utama adalah ‘membuat orang percaya (akan nilai-nilai eksklusif), bertobat, dan mengamalkan Injil (secara inklusif)’ karena keduanya merupakan kesatuan yang tidak boleh dipisahkan dalam ‘Amanat Agung’ dalam Matius 28:19-20! A m i n.

Catatan: Menyambut banyaknya sambutan akan forum diskusi/tanya-jawab YBA tentang masalah teologia maupun umum, sejak Januari 1999 terbuka forum diskusi yang dapat diikuti oleh setiap netter. Dari sekian banyak pertanyaan/tanggapan yang masuk, setiap bulan akan dipilih beberapa pertanyaan/tanggapan yang dianggap penting untuk dirilis secara berselang-seling dengan renungan bulan yang sama. Identitas para netter akan ditulis dengan singkatan tiga huruf disusul dengan kota dimana ia berdomisili. Setiap topik diskusi dapat ditanggapi lagi bila belum terasa cukup. Pertanyaan/tanggapan dikirimkan ke alamat YBA


Form untuk mengirim pertanyaan