Ruang Tanya Jawab Januari 1999

Form untuk mengirim pertanyaan


(Tanya-1)
Saat ini saya mengalami frustrasi karena keadaan pribadi maupun usaha merasa terhambat dan sekalipun kita sudah bekerja dengan jujur dan tekun, mengapa kita harus mengalami kesusahan seperti penjarahan, penodongan, pembakaran dan lainnya? Mengapa Tuhan meninggalkan kita disaat begini? (IBR, Madiun).

(Jawab-1)
Saat ini semua orang mengalami masalah yang sama, itu tidak berarti bahwa Tuhan meninggalkan kita. Mungkin pengalaman yang menganggap bahwa kesusahan berlawanan dengan pemeliharaan Tuhan timbul karena terpengaruh ‘ajaran sukses’ yang banyak digembar-gemborkan oleh banyak penginjil masa kini yang beranggapan bahwa bila kita beriman kita akan diberkati alias hidup dalam kesejahteraan. Ajaran lain adalah ajaran ‘positive thinking’ yang beranggapan bahwa ‘kesusahan adalah awal dari sukses’ seakan-akan semua kesusahan akan segera berlalu bagi orang beriman. Kedua pandangan ini keliru sebab dalam Alkitab, penderitaan/kesusahan sekalipun ada yang disebabkan oleh dosa atau salah kita, tetapi banyak penderitaan/kesusahan terjadi karena keadaan, bahkan banyak kasus menunjukkan bahwa karena iman kita maka kita justru harus menghadapi penderitaan/kesusahan itu, malah ada kalanya penderitaan/kesusahan itu harus dialami terus sampai puncaknya seperti apa yang dialami oleh Yohanes Pembaptis yang dipenggal kepalanya, Yakobus yang menjadi martir disaat muda dan Stefanus yang mati dilempari batu. Yang penting adalah bahwa baik dalam suka maupun duka, kesejahteraan maupun penderitaan/kesusahan kita hadapi dengan iman dan syukur dan anggaplah semua itu sebagai kasih karunia (I-Pet.2:18-23) dan marilah kita mengucap syukur bahwa "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku" (Fil.4:13), dan hadapilah semua keadaan dengan iman, doa dan tetap melakukan kehendak Bapa.

(T-2)
Kalau nggak keliru, dalam MSA-48 (Masalah Cina, hlm.26) yang dimaksud dengan ‘bos real estat’ yang berkolusi dengan Cendana mengelola sumber air yang digugat rakyat dan juga digugat mereka yang lahannya secara tidak wajar dijadikan lapang Golf tentunya ‘Ciputra’. Dari yang saya kenal dan ketahui, dalam kedua kasus di atas ia dipaksa berkolusi dan saat ini ia sudah mengaku bertobat dan sering bersaksi di gereja-gereja. Mengapa kita ragukan? (ANT, Jakarta)

(J-2)
Memang ada benarnya. Hanya, soal pertobatan dan kesaksian bila benar harus ditunjukkan dengan buah-buahnya (Mat.7:15-23). Zakheus bertobat dan setengah dari hartanya dibagikan kepada orang miskin dan bila ia menipu orang akan dibayar empat kali lipat. Apakah yang sudah dilakukan oleh ‘bos real estat’ tersebut pada penduduk yang tergusur karena perilaku bisnis KKNnya? Bos tersebut adalah pemborong pertama yang mempraktekkan KKN dengan menggusur penduduk dengan pola ‘law enforcement’ demi kepentingan pejabat dan pemborong (kasus Pasar Senen). Prinsipnya baik yaitu demi kemajuan dan pembangunan modern maka rakyat harus menerima keputusan dari atas dan cukup diberi ganti rugi sesuai pertimbangan atas. Dalam prakteknya mode penggusuran ini selanjutnya menjadi ajang KKN besar-besaran yang sudah terbuka sekarang, itulah sebabnya pasar Senen adalah kawasan yang selalu dilanda kerusuhan sampai sekarang karena begitu banyaknya rakyat tersingkir. Bila Anda dekat dengan bos itu ada baiknya mengingatkan dia agar berbuah dalam pertobatannya sebelum kesaksiannya menjadi benar.

(T-3)
Saya senang bahwa MSA beritanya dapat diandalkan tetapi saya kecewa membaca MSA-47 (Krisis dan Reformasi, hlm.20) yang menyebut bahwa ‘Pejabat Kristen pemilik Kinasih tidak lepas dari KKN karena kedekatan kekeluargaan pemiliknya dengan keluarga Cendana.’ Saya kenal dengan Radius Prawiro yang disebutkan itu dan sudah menanyakan kepadanya dan jawabannya adalah bahwa berita itu ‘tidak benar.’ Semoga MSA dapat memperbaiki kesalahan itu. (SAH, Surabaya)

(J-3)
Berita itu disarikan dari berbagai sumber (Warta Ekonomi, Media Indonesia, Prospek, Indonesia Business Weekly, Direktori Konglomerat terbitan PDBI dan lainnya) dan selama ini belum pernah dibantah oleh yang bersangkutan. Mungkinkah orang yang puluhan tahun menjadi bendahara Orde Baru bebas dari KKN? Pada waktu Jaksa Agung menanyakan apakah pak Suharto benar memiliki uang simpanan pribadi di Bank jawabnya ‘tidak benar’, faktanya sekarang Jaksa Agung sendiri memberitakan begitu banyak simpanan yang bersangkutan di bank-bank Indonesia. Bila kenal ada baiknya mengingatkan yang bersangkutan agar cepat-cepat berlaku seperti Zakheus yang menggembalikan hartanya yang merugikan rakyat dan anak-anaknya melepaskan diri dari proyek-proyek KKN yang sudah terbukti menyengsarakan rakyat.

(T-4)
Sehabis membaca buku ‘Teologia Sukses’ dan ‘Toronto Blessing’ ada kesan bahwa YBA dalam tulisannya ‘anti Pentakosta dan Karismatik’, apakah aliran YBA? (IND, Surabaya).

(J-4)
Memang ada yang beranggapan demikian tetapi banyak gereja dan persekutuan Pentakosta/Karismatik mengundang YBA untuk berceramah membahas kedua topik di atas, itu artinya bahwa tidak semua mempunyai kesan demikian. Bila kita membaca buku yang juga ditulis penulis YBA seperti ‘Gereja Modern, mau kemana’ dan ‘Yesus Sejarah, siapakah aku ini?’ tentu bisa timbul kesan sebaliknya yaitu penulis anti gereja Ekumenis. Bila kita membaca secara lengkap tentu pembaca dapat melihat bahwa bila topik itu membahas salah satu praktek Pentakosta/Karismatik yang dibahas adalah penyimpangannya dari Alkitab yang patut dikritik dan bila topik itu membahas salah satu praktek gereja Ekumenis yang dibahas adalah penyimpangannya dari Alkitab yang patut dikritik pula. Masih banyak ajaran Pentakosta/Karismatik yang benar, demikian juga banyak ajaran gereja Ekumenis yang benar dan tidak bisa dikritik karena berdasarkan Alkitab, firman Allah. Aliran YBA adalah Kristen dan menjadi murid Kristus (Kis.11:26).

(T-5)
Membaca buku ‘Pelayanan Perkotaan’ (hlm.111-112) dan Renungan ‘Desentralisasi’ Januari 1999 di homepage, kelihatannya YBA kurang simpatik terhadap ‘Gerakan Jaringan Doa’. Saya melihat gerakan ini baik sekali karena menyatukan umat Kristen (RON, Jakarta)

(J-5)
Tidak semua Gerakan Doa baik dihadapan Allah, demikian juga dengan Jaringan Doa yang disebutkan. Jaringan Doa dimulai dengan niat yang baik untuk mempersatukan umat Kristen melalui kegiatan doa, tetapi sayang dalam perkembangannya jaringan doa ternyata tidak bisa dihindari telah menjadi corong ajaran yang perlu dipertanyakan kebenaranya dilihat dari sudut Alkitab. Banyak pengurus teras jaringan doa cenderung mempopulerkan ajaran ‘sukses, dimensi keempat, pengurapan, toronto blessing dan akhir zaman’ yang membingungkan umat dan banyak mendatangkan perpecahan, ini terlihat dari kenyataan bahwa banyak penginjil mancanegara yang diundang berceramah atau didukungnya mengajarkan hal-hal itu, karena itu dalam mengikuti gerakan doa semacam jaringan doa kita perlu berhati-hati untuk tidak terjerat pengajaran mengenai doa dan Tuhan yang kelihatannya seakan-akan benar tetapi keliru (Mat.7:21). Waspadalah akan ragi para pengajar yang diundang dan didukung jaringan doa tetapi bergabunglah dalam gerakan doa dengan anggota-anggota jaringan doa yang mempercayai ajaran yang lurus.

(T-6) Saya mulai ragu dengan Alkitab yang biasa kita jadikan dasar iman dan tingkah laku, soalnya banyak penginjil yang sekarang sangat menekankan ‘inerrancy’ tetapi hidupnya tidak benar dan mulai ada pendeta yang mengkotbahkan bahwa Alkitab bukan kitab Allah karena isinya penuh kesalahan. Kalau begitu buat apa kita mempercayainya? Lalu, apa sebenarnya ‘inerrancy’ itu? (RIC, Jakarta).

(J-6)
Inerrancy dari akar katanya diartikan bahwa ‘tidak ada salahnya’, istilah ini digunakan oleh penginjil tertentu untuk menunjukkan bahwa ‘Alkitab tidak ada salahnya sama sekali’, ‘setiap kata-kata Alkitab tidak bisa salah’ atau lebih lagi bahwa ‘setiap kata-kata Alkitab tidak bisa salah dalam pernyataannya akan soal-soal iman dan ilmu pengetahuan.’ Sebaliknya, memang ada penginjil tertentu yang beranggapan sebaliknya yang menyebut bahwa ‘karena Alkitab banyak salahnya maka ia bukan kitab Allah.’ Untuk membahas kontroversi itu kita perlu mengerti hakekat Alkitab itu sendiri sebagai ‘kitab yang ditulis manusia (yang terbatas) tetapi diilhamkan oleh Allah (yang tidak terbatas)’, dan bila kata-kata Allah (yang tidak terbatas) itu ditulis dalam Alkitab, itupun ditulis dalam keterbatasan sipenulis’, kenyataan ini bisa kita lihat dari adanya perbedaan-perbedaan dalam penulisan Alkitab sekalipun membahas peristiwa atau ucapan Yesus yang sama, dan kelainan-kelainan lain yang mungkin oleh penginjil tertentu dianggap sebagai ‘kesalahan’ (error), suatu istilah yang mungkin tidak diterima oleh penginjil lainnya. Pandangan yang menyebut Alkitab tanpa salah kata-katanya ada kelemahannya, sebab fakta menunjukkan bahwa Alkitab ditulis dan diterjemahkan turun-temurun oleh banyak manusia dan menghasilkan berbagai versi penerjemahan yang terbukti sudah menghasilkan begitu banyak penafsiran dan aliran gereja. Menyebut setiap kata-kata Alkitab sebagai sempurna berarti membatasi kebenaran Allah dalam kerangka kelemahan manusia yang terbatas, ini bisa berakibat bahwa kita memutlakkan sesuatu yang terbatas dan bisa mengorbankan ketidak terbatasan Allah hanya karena adanya eklemahan manusiawi penulisnya. Sebaliknya pandangan yang menyebut bahwa Alkitab bukan kitab Allah karena banyak salahnya juga didasarkan pandangan fundamentalisme yang sama. Keduanya kurang menghayati keterbatasan karya sastra. Yang jelas dibalik segala keterbatasan Alkitab, dalam sejarah Israel dan sejarah Gereja firman Allah sudah ribuan tahun diberitakan dan banyak menggerakkan dan memberikan pengharapan dan kasih orang-orang percaya, jadi kita harus terus bergumul untuk terus berdoa, belajar dan mencari tahu kebenaran firman Allah dibalik keterbatasan Alkitab dan penulisnya yang terikat bahasa, pengetahuan dan budaya masa lalu itu. Karena itu, janganlah kita ragu-ragu dan iman kita dipertaruhkan hanya karena keragu-raguan para teolog yang terbatas iman dan pengetahuannya itu karena "Semua yang hidup adalah seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering, dan bunga gugur, tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya." (I-Pet.1:24-25).

(T-7)
Saya sebagai anggota GKI merasa sedih melihat bahwa makin hari sinoda ini makin keluar dari Alkitab. Pernah sinoda ini menggelar seminar di Kinasik yang mempopulerkan bahwa ‘jalan semua agama adalah sama’ dan majalah Kairos dan Penyantun yang diterbitkannya mempopulerkan ajaran ‘Yesus Sejarah’ dan ‘universalisme’. Apakah kita dapat meyebut bahwa sinoda ini sekarang sudah sesat dan perlu kita tinggalkan sebagai anggota? Bagaimana tanggapan YBA? (TAN, Bandung).

(J-7)
Harus diakui bahwa memang ada beberapa pendeta dilingkungan sinoda GKI sekarang sudah tidak atau kurang mempercayai Alkitab dan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat manusia, tetapi itu tidak berarti bahwa sinoda ini secara keseluruhan sesat. Mayoritas pendeta-pendeta di lingkungan sinoda ini lebih-lebih jemaatnya masih konservatip dan percaya dan setia akan Alkitab dan Yesus Kristus. Makin bertambah pendetanya yang sekarang lulusan dari ‘Sekolah Alkitab pencinta Alkitab’ dan bahkan ada klasisnya (Priangan) yang mayoritas pendeta dan jemaatnya konservatip. Kemiringan ajaran beberapa pendetanya jangan mengakibatkan kita menolak yang baik, hindarilah ragi ajaran dan tulisan pendeta-pendeta demikian dan terimalah ajaran dan tulisan pendeta-pendeta yang menguatkan iman percaya kita, dan tetap bersaksilah dalam lingkungan sinoda GKI sambil tetap berhubungan dengan pendeta-penginjil yang masih tetap setia dan percaya.


Form untuk mengirim pertanyaan