Ruang Tanya Jawab Desember 1999 

Form untuk mengirim pertanyaan


PERAYAAN NATAL

                "Selamat Hari Natal 1999" diucapkan kepada para pembaca situs Yayasan Bina Awam khususnya yang menjadi anggota i-kan-untuk-yba@xc.org

Sehubungan dengan masa perayaan Natal, banyak pertanyaan sekitar Natal ditanyakan oleh anggota pembaca situs www.melsa.net.id/~yba atau www.in-christ.net/yba kepada Redaksi YBA seperti misalnya 'Apakah arti Natal itu?' dan 'Apakah kita perlu merayakan Natal dengan meriah?' atau pula 'Benarkah Natal adalah perayaan Dewa Matahari?'

                Untuk menjawab hal-hal di atas, forum Tanya Jawab / Diskusi bulan Desember 1999 ini mengetengahkan masalah soal Natal sebagai berikut:

MERAYAKAN NATAL

(T-1) Apakah sebenarnya arti perkataan Natal itu?

                (J-1) Sebenarnya dari arti katanya, "Natal" hanya berarti "kelahiran" (Dies Natalis = hari kelahiran alias hari ulang tahun). Tetapi, perayaan Natal yang dilakukan umat Kristen mempunyai arti lebih dalam yaitu merayakan "hari kelahiran Yesus" dan maknanya yang lebih dalam lagi adalah kehadiran Shalom Allah dalam bentuk kelahiran Yesus Kristus sebagai Juruselamat yang mendatangkan damai sejahtera di bumi. Kehidupan Yesus sebagai Tuhan yang menjadi manusia yang menyertai kita (Immanuel) tidak dapat dilepaskan dari saat kelahiran, pembaptisan, pelayanan, penyaliban, kebangkitan, sampai kenaikanNya ke surga. Sekalipun demikian, sebagai perayaan, memang Natal berkembang dalam tradisi gereja dan bukan merupakan ajaran yang Tuhan Yesus berikan kepada manusia dan harus diakui bahwa jemaat perdana memang tidak terkesan merayakan Natal.

                Memang sebagai pesta pada hari tertentu, jemaat perdana tidak merayakan Natal, soalnya jemaat perdana begitu terpukau oleh kehadiran Yesus dan penyertaan Kuasa Roh Kudus sehingga saat itu kelahirannya tidak dikenang secara khusus.

Kehidupan jemaat pasca Kenaikan Ke Surga lebih didominasikan oleh peringatan mingguan dari kebangkitan Yesus pada hari pertama tiap minggu dan bahkan peringatan akan perjamuan malam dilakukan setiap hari (Kisah 2:46)! Tetapi perlu disadari bahwa bagi jemaat perdana kelahiran Yesus sudah menjadi keyakinan kuat sebagai pemenuhan nubuatan para Nabi tentang Messias yang lahir dari anak dara (Kejadian 3:16; Yesaya 7:14; 9:5,6; 11:1; Mikha 5:1-4). Sekalipun demikian, jemaat yang sesudah itu tentu tidak salah kalau mengenang Natal itu karena hal itu perlu.

(T-2)  Kapan tepatnya tahun kelahiran Yesus? Dan benarkah perayaan Natal adalah perayaan Dewa Matahari?

(J-2) Tepatnya menurut penelitian sejarah, Yesus lahir pada tahun 4-BC (jadi bukan tahun 0) karena sensus penduduk yang dilakukan oleh kaisar Agustus terjadi di tahun itu. Menurut catatan Alkitab memang Natal tidak dirayakan oleh jemaat mula-mula sekalipun ditulis di Injil Matius dan Lukas. Tetapi berangsur-angsur di gereja Timur dan kemudian di gereja Barat, pada abad ke-3 kelahiran Yesus dirayakan pada malam tanggal 5 Januari dan tanggal 6 Januari digunakan untuk mengenang saat pembaptisannya.

Data tertulis yang memuat liturgi perayaan kelahiran Kristus itu dapat dilihat dalam papirus pada abad ke-IV.  Pada tahun AD-274 di Roma tanggal 25 Desember dimulai perayaan kelahiran matahari karena diakhir musim salju tanggal itu matahari mulai kembali penampakan sinarnya dengan kuat, karena itu bagi orang Romawi kuno, hari itu dirayakan sebagai hari Matahari.

                Ketika agama Kristen dijadikan agama negara di kerajaan Romawi, ternyata sukar  bagi orang Roma yang kemudian menjadi Kristen meninggalkan perayaan itu, karena itu para pemimpin gereja waktu itu mengalihkan perhatian mereka akan perayaan itu menjadi perayaan Matahari Kebenaran yang kemudian menggantinya menjadi Natal dan meresmikannya di Roma tahun 336, dan menjadikan tanggal 25 Desember sebagai hari peringatan kelahiran Kristus. Hal ini diperkenalkan oleh Kaisar Konstantin yang memilih tanggal itu sebagai pengganti tanggal 5-6 Januari. Perayaan Natal kemudian di lakukan di Anthiokia pada tahun 375 dan pada tahun 380 dirayakan di Konstantinopel, dan tahun 430 di Alexandria dan kemudian di tempat-tempat lain dimana kekristenan sudah menanamkan akarnya.

                Dari data sejarah itu dapatlah diketahui bahwa Natal bukanlah dimulai sebagai hari matahari karena semula diadakan pada tanggal 5-6 Januari, tetapi yang benar adalah usaha dari pemimpin gereja Barat (Roma) untuk mengubah tanggal itu menjadi tanggal 25 Desember untuk mengalihkan perhatian umat Kristen dari kepercayaan lama menuju kelahiran Kristus. Pada saat yang sama orang-orang kafir yang tidak bertobat masih tetap merayakan tanggal 25 Desember sebagai hari Matahari, dan selanjutnya praktek perayaan Natal umat Kristen tidak ada sangkut pautnya dengan perayaan Matahari sekalipun harus diakui bahwa di kalangan orang Kristen Roma waktu itu tentu masih ada yang merayakannya keduanya bersamaan secara sinkretistik. Orang-orang Kristen kemudian apalagi yang tidak terikat budaya Roma tidak ada yang punya kesan tentang perayaan Matahari.

(P-3)  Bolehkah kita tidak merayakan hari Natal?

                (J-3) Bila ada yang tidak merayakan Natal sebagai pesta tentu baik-baik saja, tetapi janganlah hal itu menghilangkan kesempatan untuk mengenang kelahiran Yesus, karena keyakinan akan Yesus tidak dapat dilepaskan dari kelahiranNya sebagai pemenuhan nubuatan para Nabi, Allah yang menjadi manusia Yesus, Kelahiran Dara, dan makna peristiwa di Betlehem dimana damai hadir di bumi yang dirasakan baik oleh yang kaya maupun oleh yang miskin dan peristiwa ini cukup jelas terekam dalam kitab Injil (Mat.1:18-2:12 dan Luk.1-2).

                Yesus yang lahir di kandang yang hina perlu dijadikan contoh kerendah-hatian Kristiani yang melayani dan tidak minta dilayani. Paskah tanpa Natal tidak ada artinya, karena kita tidak mengerti dimensi ilahi dari Paskah itu bila kita tidak mengerti makna Natal. Bila tidak setuju dengan tanggal 25 Desember dapat saja perayaan itu diadakan pada hari-hari lain, tetapi untuk menghindarkan kekacauan dimana kalau setiap gereja memilih tanggalnya secara bebas, bisa jadi tiap hari sepanjang tahun kita diundang merayakan Natal, karena itu ada baiknya dibatasi pada bulan Desember atau Januari agar terjadi keseragaman. Cuaca di Betlehem pada bulan-bulan ini sesuai dengan cuaca yang digambarkan dalam Alkitab.

(P-4)  Bagaimana dengan aliran Saksi Yehuwa yang tidak merayakan Natal?

                (J-4) Kita mengetahui bahwa Aliran Saksi Yehuwa dalam literatur mereka bukan saja tidak merayakan Natal tetapi sangat membencinya, soalnya mereka tidak dapat menerima kenyataan bahwa "Allah menjadi daging dan beserta kita dalam Yesus Kristus". Merayakan Natal berarti menerima "Yesus sebagai Kristus dan Tuhan"! Damai Sejahtera Natal diperlukan oleh semua denominasi dan lebih-lebih bagi Saksi Yehuwa, Immanuel! Merayakan esensi Natal dengan mengucap syukur lebih diperkenan Allah daripada membenci Natal dengan tidak ada damai dihati!

                Perayaan Natal yang dirayakan untuk mengenang esensinya, sebenarnya telah terbukti dapat menyatukan banyak denominasi gereja, bahkan banyak gereja yang tidak pernah bertemu justru bertemu saat perayaan Natal bersama. Yang menjadi masalah adalah apakah perayaan Natal itu membawa orang kembali kepada Shalom untuk menyatukan gereja-gereja di dalam Tuhan Yesus atau hanya sekedar pesta rutin yang diadakan secara tahunan.

(P-5)  Banyak perayaan Natal dilakukan dengan berpesta-pora, benarkah praktek demikian?

(J-5) Memang harus diakui bahwa ada gereja-gereja tertentu yang menjadikan momentum Natal untuk jor-joran dan pesta-pesta menunjukkan kemeriahannya yang berlawanan dengan semangat Betlehem, dalam hal ini tentu perayaan demikian lebih merupakan ketidak taatan yang lebih mendukakan daripada menyenangkan Tuhan? Memang fakta di dunia sudah menunjukkan bahwa Natal sudah tidak lagi menjadi perajaan Kristen tetapi perayaan International. Di Mal-Mal mapun Tempat-tempat hiburan, Natal juga dirayakan berpasangan dengan Tahun Baru sebagai acara hiburan tanpa pengertian akan Tuhan Yesus Kristus. Di Jepang yang penduduk Kristennya Cuma 0,7 persen, Natal dirayakan dengan meriah di Tokyo, baik dipertokoan mewah di Ginza maupun di kawasan hitam di Sinjuku.

                Makna Natal adalah kesederhanaan, yang "low cost" tetapi "high reach", artinya Natal merupakan kejadian dimana Tuhan yang kaya merelakan diri menjadi manusia miskin, tinggal dikandang binatang, tetapi menghasilkan rasa damai bagi banyak orang, bagi gembala sampai orang Majus. Makna inilah yang harus dihayati dan di amalkan, karena itu kita perlu menyadari apakah perayaan-perayaan Natal yang berupa pesta mahal ini menjalankan misi Tuhan yang "low cost but high reach" atau hanya merupakan semangat cinta diri dan gengsi untuk kesenangan pribadi dan kelompok sendiri.

(P-6)  Bagaimana dengan acara-acara Natal yang biasa di siarkan di stasiun-stasiun TV di Indonesia?

                Ada acara-acara yang baik, misalnya pemutaran film Yesus menurut  Injil Lukas. Acara demikian dapat membuka tabir perayaan Natal yang sudah tertutup dengan komersialisasi dan tahyul itu dan membawa pemirsa menuju kehidupan Yesus yang seutuhnya,  Yesus yang bukan kita rayakan kelahirannya saja tetapi Yesus yang bergumul dalam pelayanan dan pengajarannya, dan Yesus yang bergumul dengan rencana penebusan Allah melalui pengorbanannya di kayu salib.

                Memang disayangkan bahwa acara semacam itu hanya sedikit dan kebanyakan diisi dengan acara selebriti yang mengetengahkan bintang-bintang film, sinetron maupun penyanyi yang beragama 'kristen' bahkan yang tidak beragama 'kristen.' Acara natal sering hanya menjadi pesta yang sepi nilai, dalam hal ini ada baiknya kita menghindarinya.

                Ada film-film Barat sekitar Natal yang baik seperti drama-drama hidup dimana keluarga yang pecah yang di malam Natal bisa menyatu kembali, tetapi kebanyakan berisi film-film yang lebih mempopulerkan santa claus daripada Yesus, dan ini bukan Natal! Santa Claus atau Sinterklaas adalah cerita mengenai seorang pastor yang begitu dermawan dan sering datang kerumah-rumah berkereta salju yang ditarik binatang untuk membagikan hadiah-hadiah dan biasanya dirayakan pada tanggal 5 Desember. Kenyataannya, cerita ini kemudian menjadi legenda yang dibumbui tahyul seperti bahwa kereta itu bisa terbang diatas pohon-pohon cemara dan ditarik oleh kijang, bahkan dibeberapa film santa claus itu digambarkan sebagai malaikat yang bisa menghilang. Gambaran-gambaran demikian tentu dapat mengaburkan arti Natal yang sebenarnya.

(P-7)  Lalu bagaimanakah sepatutnya kita merayakan Natal?

                (J-7) Semangat 'Shalom' Natal (Luk.2:14) dapat diterjemahkan dengan cara meningkatkan pelayanan kasih dan menghadirkan keadilan dan kebenaran Allah sebagai puncak akhir tahun, artinya pelayanan kasih sebagai pengejawantahan iman Kristen harus dilakukan setiap saat dan saat Natal bisa lebih ditingkatkan. Misalnya pembagian hadiah untuk anak-anak Sekolah Minggu bisa digantikan dengan mengajar anak-anak untuk membawa hadiah sendiri untuk bisa diberikan kepada mereka yang membutuhkan, karena "terlebih berkat memberi daripada menerima", demikian juga tukar menukar hadiah di kalangan pemuda/dewasa bisa digantikan dengan mengumpulkan hadiah untuk dibagikan kepada mereka yang membutuhkan. Dari pada diisi pesta hiburan dengan hadiah-hadiah dan konsumsi yang menggunakan uang jemaat, lebih baik jemaat didorong untuk mengingat kembali kesederhanaan Natal dan menjadikan kelebihan uangnya untuk membagikan sukacita dan damai Allah kepada sesama kita yang membutuhkan. Ini perlu diberi contoh oleh Pendeta dan Majelis Jemaat sendiri. Setidaknya dengan tidak merayakan Natal secara pesta kita tidak menunjukkan kehidupan yang eksklusip, elitis dan mencolok ditengah kemiskinan yang lagi disorot secara nasional. Ingat ucapan 'Soli Deo Gloria' yang artinya 'kemuliaan hanya bagi Allah' dan ada ayat berbunyi 'dilihatnya kebajikanmu dan dipermuliakan Bapa di sorga'!

                Bila kita menghayati makna Natal dan misi Kristus dengan benar, kita dapat mengambil banyak langkah menuju perbaikan diri individu dan masyarakat. Dengan menjalankan moralitas yang sesuai kehendak Allah dalam Alkitab kita menghadirkan Natal dalam kehidupan moral masyarakat; menggunakan dana Natal yang besar itu untuk modal-modal usaha kecil dapat menolong membuka lapangan kerja yang baru dan menanggulangi kemiskinan. Dalam situasi masyarakat yang sebagian besar masih menderita, kehidupan dan perayaan bermewah-mewah merupakan ketidak adilan dan ketidak benaran yang harus ditiadakan sebab kenyataannya perayaan pesta Natal sering justru mengaburkan makna esensi Natal yang sebenarnya. Kita perlu mengembalikan harapan kita sejalan dengan harapan Yesus Kristus agar gereja-gereja maupun orang-orang Kristen menjauhi penyalah gunaan perayaan Natal dan menyadari kembali makna Natal yang benar yaitu menghadirkan "Shalom" Allah untuk bisa dirasakan oleh semua orang dan menghayati apa yang dikatakan Firman Tuhan mengenai Natal, karena "Allah telah melawat umatNya sebagai manusia Yesus Kristus".

"Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasehat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya.  Kecemburuan TUHAN semesta alam akan melakukan hal ini." (Yesaya 9:5-6).

"Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah. Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh pengenalan dan takut akan TUHAN; ya, kesenangannya ialah takut akan TUHAN. Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang. Tetapi ia akan menghakimi orang-orang lemah dengan keadilan, dan akan menjatuhkan keputusan terhadap orang-orang yang tertindas di negeri dengan kejujuran; ia akan menghajar bumi dengan perkataannya seperti dengan tongkat, dan dengan nafas mulutnya ia akan membunuh orang fasik. Ia tidak akan menyimpang dari kebenaran dan kesetiaan, seperti ikat pinggang terikat pada pinggang." (Yesaya 11:1-5).

"Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hambaNya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan namaNya adalah kudus. Dan rahmatNya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasaNya dengan perbuatan tanganNya dan mencerai-beraikan orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa." (Lukas 1:46-53).

A m I n.

Catatan: Menyambut banyaknya sambutan akan forum diskusi/tanya-jawab YBA tentang masalah teologia maupun umum, sejak Januari 1999 terbuka forum diskusi yang dapat diikuti oleh setiap netter. Dari sekian banyak pertanyaan/tanggapan yang masuk, setiap bulan akan dipilih beberapa pertanyaan/tanggapan yang dianggap penting untuk dirilis secara berselang-seling dengan renungan bulan yang sama. Identitas para netter akan ditulis dengan singkatan tiga huruf disusul dengan kota dimana ia berdomisili. Setiap topik diskusi dapat ditanggapi lagi bila belum terasa cukup. Pertanyaan/tanggapan dikirimkan ke alamat YBA


Form untuk mengirim pertanyaan