Juli 2010 | MLM= Menipu Lewat menjual?
 

 

Pyramid … It’s A Networking Tomb

Artikel berjudul ‘MLM = Menipu Lewat Menjual?’ cukup banyak diminati dan mendapat beberapa tanggapan. Berikut dibawah ini diberikan diskusinya.

(Tanggapan-1) Sepertinya penulis dikecewakan oleh bisnis MLM ya? Soal apakah MLM menipu atau tidak perlulah ditulis oleh orang yang mendalami bisnis MLM secara detail. Ingat bahwa semua bisnis memperlukan kerja keras, bukan hanya sekedar bergabung. Dengan sebuah sistem kita bisa menggandakan waktu kita yang terbatas menjadi tidak terbatas inilah sistem MLM. Jangan mengambil kesimpulan berdasarkan apa yang dituliskan sebagian orang.

(Diskusi-1) Penulis memang belum pernah bergabung dengan MLM dan tidak pernah dikecewakan oleh MLM bisnis. Benar bahwa kita jangan mengambil kesimpulan berdasarkan apa yang dituliskan sebagian orang, karena itu peserta MLM jangan terjerat obsesi ‘sukses MLM’ karena adanya indoktrinasi dan bujuk-rayu melalui motivational training yang diikuti. Untuk menghindari stereotip demikian, sebagai penceramah yang sering ditanya soal MLM, penulis sejak belasan tahun lalu mendalami bisnis MLM secara detail, banyak bahan MLM (bukan sekedar brosur) dikumpulkan baik dari sumber MLM internasional maupun MLM nasional termasuk interaksi dengan beberapa tokoh MLM, dan juga mantan aktivis MLM dan juga konsultan/pengacara para korban MLM seperti Robert L. Fitzpatrick yang menulis buku FALSE PROFITS, Seeking Financial and Spiritual Deliverance in Multi-Level Marketing and Pyramid Schemes’ (Herald Press, Charlote, 1997. Lihat situs: www.falseprofits.com & http://pyramidschemealert.org/PSAMain/resources/tenlies).  Ada baiknya juga melihat sisi pelengkap informasi MLM dari situs-situs lainnya seperti:

http://pyramidschemealert.org

http://www.mlmwatch.org

http://www.vandruff.com/mlm

Tugas seorang Kristen adalah memberitakan firman Tuhan agar kita memiliki hikmat mengetahui tentang mana yang benar dan salah dan mendidik kita dalam kebenaran. (2Tim.3:15-17).

(T-2) Saya rasa kita tidak boleh menyamakan semua MLM seakan-akan menipu sebab ada MLM yang baik yang justru mendidik kita ‘Kalau bekerja dengan rajin akan mendapat banyak.’

(D-2) Kalau kita menilik ungkapan ‘Kalau bekerja dengan rajin akan mendapat banyak’ tentu semua setuju sebab ini berlaku untuk semua bidang profesi dan semua bentuk bisnis! Seorang pekerja keras dan rajin akan lebih cepat dipromosikan daripada yang tidak. Rasul Paulus memberi teladan pada kita, bahwa:

Sebab kamu masih ingat, saudara-saudara, akan usaha dan jerih lelah kami. Sementara kami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun juga di antara kamu, kami memberitakan Injil Allah kepada kamu.” (1Tes.2:9; 2Tes.3:7-9).

Yang menjadi soal adalah teladan Paulus adalah motivasinya bekerja adalah agar: (1) tidak membebani siapapun, dan (2) berita Injil sampai kepada banyak orang. Namun, hal ini tidak berlaku dalam MLM, sebab makin rajin ia bekerja, makin banyak downline terbentuk (agar makin banyak bonus) dan ini sama halnya dengan ‘mengorbankan lebih banyak lagi orang dan membebani sebanyak mungkin orang yang rugi demi keuntungan diri sendiri.’ Dalam pengantar Artikel ‘MLM = Menipu Lewat Menjual’ (lihat Artikel pada www.yabina.org) disebut bahwa: “Skema disamping memberi gambaran, bahwa seorang dengan downline 2 orang akan membentuk deret ukur 1 – 2 – 4 – 8 – 16 – 32 – 64 – 128 – 256 – 512 dan pada lapis ke-11 berjumlah 1.024 downline. Kalau downlinenya  4, angka itu sudah tercapai pada lapis ke-6, sedangkan lapis ke-11 akan berjumlah 1.048.576 downline, 1000 kali lebih banyak!” Konsekwensinya kalau seorang lebih rajin dan menghasilkan downline lebih banyak (agar lebih cepat mendapat untung) berarti korban yang terkubur akan jauh lebih banyak lagi dalam waktu yang lebih cepat. Misalkan rata-rata downline 10, maka angka terakhir tercapai pada lapis ke-4, dan lapis ke-9 akan jenuh (saturated) dengan jumlah 100.000.000 (dengan asumsi semua orang dewasa Indonesia ikut MLM dan MLMnya hanya satu). Dari satu orang perintis jaringan 10 dihasilkan pada lapis kesembilan saja korban yang terkubur sedikitnya sudah 100 juta plus puluhan juta lainnya sebagai korban obsesi cepat kaya dan bujuk-rayu para distributor agar berlomba-lomba semakin giat.” Semakin giat distributor downline Piramid akan semakin banyak tetapi bukan ke bawah melainkan menyamping, tapi kelompok yang sedikit (the few elite) akan lebih cepat berhasil dan ‘the fast majority’ akan lebih cepat terkubur dalam ‘jaringan kuburan umum’ itu. Lebih lanjut, seorang distributor yang rajin sekalipun ia kalah rajin dengan down-linernya, ia tetap memperoleh keuntungan memiliki down line yang jauh lebih banyak dari masing-masing bawahannya, dan kalau semua peserta sama rajinnya, tetap saja hukum piramid berlaku dimana yang sedikit yang berada pada lapis-lapis depan akan mendapat banyak dan yang banyak yang berada pada lapis-lapis belakang tetap harus menunggu sampai ia memiliki jumlah downline yang banyak juga (kesaksian para ‘success story’ menunjukkan keberhasilan tercapai bila telah dimiliki ribuan downline). Fakta menunjukkan bahwa dalam perusahaan-perusahaan MLM, angka persentasi drop-out (gugur) anggota sangat tinggi.

(T-3) Saya baru menerima e-mail berisi ajakan ‘berinvestasi secara berantai.’ Kelihatannya kok ada benarnya karena dilampirkan beberapa contoh rekening pengirimnya dan beberapa peserta lainnya yang mendapat uang besar dalam waktu singkat sehingga kebutuhannya terpenuhi.

(D-3) Bila kita jujur dan terbuka tentu dapat menunjukkan rekening ‘sebagian besar’ peserta yang ‘kaya mendadak’ tetapi itu tidak mungkin terjadi, sebab sistem Investasi Berantai semacam ini sama mengikuti hukum piramid dimana hanya sedikit lapis-lapis peserta teras yang untung besar (winner) karena berhasil mengubur sebagian besar lapis-lapis peserta pinggiran yang rugi (loser, uang yang terkubur dimiliki yang makmur). Biasanya contoh rekening/keberhasilan kelompok elit yang sangat sedikit itulah (kurang dari satu permil) yang ditonjolkan tetapi ‘jaringan kuburan yang banyak’ yang terjadi karena keuntungan sedikit orang itu tidak diungkapkan. Kita harus berhati-hati karena Money Game/Investasi Berantai/MLM yang menggunakan jaringan internet akan lebih cepat berkembang-biak karena distributor bukan saja akan menyebarkan jualannya ke 10 atau 100 orang tetapi ia bisa menyebarkan ke ratusan bahkan ribuan alamat email, apalagi kalau disebar-luaskan melalui milis dengan anggota ratusan maupun ribuan!

(T-4) Artikel cukup lengkap membahas sisi negatip MLM, namun sayang artikel tidak menyinggung sisi positip MLM, ada baiknya dalam artikel juga disertakan pendapat dari pihak MLM. Mengenai sisi negatip MLM bukankah bisa ditemukan dalam sistem bisnis lainnya seperti perusahaan umum dan franchise yang disebabkan oleh penyimpangan oknum-oknum di dalamnya?

(D-4) Sebenarnya artikel juga menyinggung sisi positip yang dipromosikan oleh MLM malah dijadikan judul tiap-tiap butir pembahasan. Tapi memang benar bahwa sisi negatip dibicarakan lebih lengkap, hal ini dimaksudkan untuk memberi perimbangan pada informasi dan promosi dari pihak MLM. Umumnya buku-buku dan para motivator MLM menutupi sisi negatip MLM, inilah sebabnya Fitzpatrick (lihat (D-1)) menyebutnya sebagai ‘big lies’ (tipuan/kebohongan besar) dalam artikelnya ‘The Ten Big Lies in Multi Level Marketinghttp://pyramidschemealert.org/PSAMain/resources/tenlies. Kasus Madoff baru menyadarkan orang setelah pasar melihat bahwa ternyata sistem investasi bisnisnya tidak lain adalah ‘Ponzi’ yang piramidal dimana para investor lapis-lapis duluan (yang sangat sedikit) memperoleh keuntungan besar dari investor lapis-lapis belakang (yang sangat banyak) yang merugi, orang baru disadarkan setelah bisnis ini mengalami kejenuhan dan bangkrut, padahal beberapa analis sudah memperkirakan kebangkrutan akan terjadi dalam sistem investasi yang menjanjikan capital gain (bunga) yang tinggi itu. Di Indonesia tidak banyak yang berani mengungkapkan sisi gelap MLM sehingga menyebabkan umat kristen dikaburkan mengenai kebenaran di balik MLM sehingga terkecoh setelah mengalami sendiri. Memang benar bahwa semua penyimpangan bisnis bisa dijumpai disemua bentuk bisnis, tetapi yang membedakan bisnis MLM dengan lainnya adalah bahwa sistem bisnis MLM itu pada dasarnya ‘cacat’ pada dirinya sendiri sama halnya dengan arisan berantai / money game yang diharamkan pemerintah karena skema piramidnya cacat (keuntungan sebagian kecil peserta lapis-lapis depan yang diambil dari kerugian sebagian besar peserta lapis-lapis belakang). Jadi bukan citranya saja tetapi realitasnya sistem bisnisnya cacat. Bacalah artikel ‘Bad Image or Bad Reality?’ dalam situs www.vandruff.com/mlm. ***


Salam kasih dari Yabina ministry www.yabina.org

 


Form untuk mengirim pertanyaan | Diskusi Sebelumnya