Diskusi Agustus_ 2008

Form untuk mengirim pertanyaan



GERAKAN NAMA SUCI
 

 

Artikel Gerakan Nama Suci (sebelumnya diberi judul Pemuja Nama Yahweh) mendapat beberapa tanggapan. Berikut diskusinya (beberapa tanggapan yang mirip digabung untuk menghindari pengulangan materi diskusi):

(Tanggapan–1)  Saya menerima nama ‘Yahweh’ tetapi bukan dari golongan ‘Pemuja Nama Yahweh’ dan baru mengetahui ada kelompok dengan nama itu. Rasanya labelisasi judul ‘Pemuja Nama Yahweh’ bersifat memojokkan golongan yang menerima nama ‘Yahweh.’

(Diskusi–1) Judul ‘Pemuja Nama Yahweh’ berasal dari kalangan yang kembali menerima nama ‘Yahweh.’  Sedini tahun 2002, telah terbit ‘Kitab Suci Umat Perjanjian Tuhan’ yang diterbitkan oleh ‘Jaringan Gereja-Gereja Pengagung Nama Yahweh’ yang dalam Prakatanya menyebut:

“Ketika Tuhan memperkenalkan diri-Nya kepada Musa, Ia menyebut nama diri-Nya sebagai: YAHWEH. Itulah nama pribadi-Nya dan sebutan-Nya turun-temurun (Kel 3:13-15). Ia ingin dengan nama itu kita umat-Nya memanggil, memuja dan mengagungkan-Nya.”

 Jadi, komunitas tertentu yang mengaku mewakili Jaringan Gereja-Gereja komunitas itu menyebut diri sebagai ‘Pemuja dan Pengagung Nama Yahweh.’ Namun, berhubung nama ‘Pengagung Nama Yahweh’ sudah digunakan oleh kelompok itu secara eksklusif, maka judul yang digunakan adalah ‘Pemuja Nama Yahweh.’ Jadi judul itu diambil dari sebutan kalangan itu sendiri dan bukan labelisasi yang dibuat oleh Yabina.

Dengan adanya pengikut nama ‘Yahweh’ yang tidak mau digolongkan ‘Pemuja Nama Yahweh’ menunjukkan bahwa kelompok-kelompok dalam Gerakan Nama Suci ternyata beragam dan tergantung mereka dipengaruhi kelompok yang mana dan sudah seberapa jauh perkembangan doktrin yang mereka anut, namun semuanya memiliki kesamaan yaitu ‘Memuja dan Mengagungkan Nama Yahweh’? Dalam situs Yabina (www.yabina.org), untuk lebih memperluas jangkauannya, judul itu diganti menjadi ‘Gerakan Nama Suci’ (Sacred Name Movement), nama yang lebih umum yang digunakan untuk menyebut komunitas yang kembali Memuja dan Menganggungkan Nama ‘Yahweh’ yang timbul sejak tahun 1930-an di Amerika Serikat dan yang pengaruhnya masuk ke Indonesia sejak tiga dasawarsa yang lalu.

(T–2) Nama pribadi (proper name) dari Tuhannya Abraham, Ishak dan Yakub adalah YAHWEH (Kel. 3:13-15). Elohim dan Adonai adalah generic name dan Yahweh mengatakan bahwa nama-Nya adalah untuk selama-lamanya, ini dilanjutkan dengan nama Yesus yang adalah Yehoshua, artinya, ‘Yahweh yang menyelamatkan’ yang menunjukkan sikap yang konsisten dalam rencana penebusannya dengan nama itu. Dalam Kej. 1 ketika Tuhan menciptakan langit dan bumi kata yang dipakai seluruhnya adalah ‘Elohim,’ nama yang dipakai juga oleh bangsa-bangsa lain untuk menamai pencipta langit dan bumi,  namun pada Kej. 2:4,5,7,8,9 ada konstruksi baru dalam penyebutannya, yaitu ‘Yahweh Elohim.’ Dalam pasal 2, Musa menjelaskan kepada orang Israel bahwa nama pencipta itu adalah ‘Yahweh.’ Dengan nama ‘Yahweh’ inilah Tuhan telah mengikat Perjanjian-Nya yang kekal kepada para patriakh (band. Kej. 12:1,26:2,32:9).

(D–2) Dalam Kel. 3:13-15, nama YAHWEH belum disebut dan baru pada Kel. 6:1-2 nama itu disebutkan. Kel. 3:13-15 justru menunjukkan bahwa nama ‘YAHWEH’ bukanlah nama diri dalam pengertian mutlak karena berasal dari kata ‘hayah’ yang artinya ‘Ia ADA.’ Perlu disadari bahwa nama ‘Yahweh’ baru muncul pada masa Keluaran (6:1-2). Sebelumnya nama yang dikenal adalah yang berakar nama ‘El’ (El/Elohim/Eloah) dan nama itulah yang ada dalam sumber-sumber kitab Kejadian, baru pada saat Musa menuliskannya, karena ia sudah mengenal nama Yahweh, nama Yahweh oleh sumber Yahwist banyak digunakan untuk mengganti nama ‘El’ tertentu dalam kitab Kejadian. Dalam artikel lainnya di situs ini hal ini dijelaskan selengkapnya.

Perlu disadari bahwa kalau nama ‘Yahweh’ bukan mutlak nama diri, demikian juga ‘El/Elohim/Eloah’ tidak mutlak nama generik. Dalam Kej. 1:1, Elohim menunjukkan ‘nama diri,’ dan dalam Kej.33:20 disebut ‘El, elohe Yisrael’ dimana disini ‘El’ adalah nama diri (proper name) yang sinonim dengan nama diri Yahweh yang diperkenalkan kepada Musa yang dalam Kel. 32:27 disebut ‘Yahweh, elohe Yisrael’ (band. Yos. 8:30). Dalam Kej. 46:3 disebut ‘ha El, elohe abika’ (Allah Ayahmu) yang menyiratkan sebagai nama generik (proper name). Dari contoh ini kita mengetahui bahwa penggunaan baik El maupun Yahweh sebagai nama diri diidentikkan dan ‘El’ maupun ‘ha El’ sering dipertukarkan, jadi tidak ketat pengaturannya dan tidak terikat gramatika yang dikembangkan dimasa modern.

Sekalipun disebut bahwa dengan nama Yahweh Tuhan mengikat perjanjian-Nya yang kekal dengan para patriakh, pada masa pembuangan banyak nama Yahweh diganti dengan El sebagai nama diri. Dan sejak masa para nabi terutama sejak pembuangan, karena nama diri Yahweh dianggap terlalu suci untuk disebutkan maka nama itu disebut ‘Adonai’ atau ‘Ha-Syem.’ Nama Tuhan yang terutama ada dua, yaitu yang berakar nama ‘El’ dan ‘Yahweh, nama Yesus juga ada dua, yaitu ‘Imanuel’ (El beserta kita, Mat. 1:23) dan ‘Yesus/Yehoshua (Yahweh yang menyelamatkan, Mat. 1:21).’

(T3) Dalam artikel Pemuja Nama Yahweh ada informasi mengenai bagaimana LAI dimeja-hijaukan oleh pemuja Yahweh. Saya sendiri juga tidak setuju karena hal itu memalukan umat Kristen saja. Tetapi disisi lain  LAI pun perlu mengintrospeksi diri. Apakah dengan mengganti nama Yahweh menjadi TUHAN, dan Elohim menjadi Allah, dapat benar secara teologis? Bukankah disebut bahwa “dalam nama Yahweh ada keselamatan?” (Yl. 2:32).

(D–3) Menarik untuk mengetahui bahwa dalam Gerakan Nama Suci rupanya ada yang radikal, dan ada yang moderat yang menyalahkan yang radikal itu. Ini kembali menunjukkan bahwa gerakan ini tidak solid melainkan beragam. Mengenai mengganti nama Yahweh menjadi TUHAN, LAI punya alasan teologis yang kuat yang sudah berjalan selama tiga milenium lamanya. Lebih dari 2 milenium yang lalu, Yahudi ortodoks mengganti ‘Yahweh’ dengan menyebutnya ‘Adonai’ atau ‘Ha-Syem,’ dan pada waktu pembuangan di Babel banyak yang diganti dengan nama ‘El.’ Terjemahan Tanakh ke dalam bahasa Yunani ‘Septuaginta’ mengganti nama ‘Yahweh’ menjadi ‘Kurios,’ dalam Perjanjian Baru (Yunani Koine) nama Yahweh disebut ‘Kurios,’ dan pada hari Pentakosta, Roh Kudus memberi mujizat bahwa para Rasul berbicara dalam bahasa pendengar termasuk Arab (Kis. 2:11) dan bukan dalam bahasa Ibrani/Aram para Rasul. Selanjutnya dalam sejarah gereja nama Yahweh diterjemahkan kedalam berbagai bahasa sebagai Marya (Aram), Ar-Rabb (Arab), LORD (Inggeris), dan TUHAN (Indonesia). Pribadi YHWH adalah mahakuasa dan mahabesar, tidak ada nama yang bisa mengungkapkan keseluruhan kebesaran-Nya.

Benar bahwa dalam nama Yahweh ada keselamatan (Yl. 2:32), tetapi dalam Perjanjian Baru disebut pula bahwa “keselamatan ada dalam nama Kurios’ (Kis. 2:21; Rm. 10:13) atau bahwa “keselamatan ada hanya dalam nama Yesus” (Kis.4:11-12). Jadi yang dimaksudkan tentu bukan bahwa keselamatan ada dalam huruf-huruf nama Y-H-W-H, huruf-huruf K-U-R-I-O-S, atau huruf-huruf I-E-S-O-U-S, tetapi maksudnya dalam nama pribadi dibalik huruf-huruf nama itu! Kalau YHWH yang empunya nama tidak mempersoalkan penerjemahan nama-Nya menjadi Adonai, Kurios, Marya, Ar-Rabb, LORD atau TUHAN, mengapa kita mempersoalkannya? Demikian juga penerjemahan ‘Elohim’ (Ibrani) sebagai ‘Allah’ (Arab) juga bukan masalah, karena jauh sebelum ada agama Islam orang Kristen berbahasa Aram dan Arab sudah menyebut ‘El/Elohim/Eloah’ dengan elah/alaha’ (Aram) dan ‘ilah/Allah’ (Arab). Baik orang Yahudi, Kristen, maupun Islam yang berbahasa Arab sejak dahulu sampai sekarang menyebut nama ‘Allah’ yang sama untuk menunjuk Tuhan semitik.

Menarik untuk dimengerti bahwa Alkitab berbahasa Arab menerjemahkan ‘El/Elohim/Eloah/Theos’ dengan ‘Allah,’ dan sebaliknya, Al-Quran diterjemahkan ke dalam bahasa Ibrani dimana nama ‘Allah’ diterjemahkan ‘Elohim,’ tidak ada orang Yahudi yang berkeberatan dengan ini karena mereka menyadari bahwa pengertiannya sama. Marilah kita menerima kenyataan sejarah ini dengan hati terbuka.

(T–4) Dalam artikel ditulis kutipan QS. 22:40 untuk menunjukkan bahwa Allah-nya umat Muslim sama dengan Yahweh, Elohim Israel yang adalah Tuhan kita, maka saya dengan tegas mengingatkan bahwa ini kesalahan serius. Saya tidak percaya bahwa Allah-nya umat Muslim sama dengan Yahweh, dengan alasan: (1) Jibril dan Muhammad di dalam Quran tidak pernah memperkenalkan nama Yahweh kepada suku Quraisy; (2) Quran berkata: “Tiada Tuhan selain Allah”; (3) Jika Allah = Yahweh, tidak mungkin oknum yang sama ini begitu berbeda pandangannya dan dikapNya terhadap Yesus Kristus Tuhan kita.

(D4) Bila artikel dibaca dengan benar, tidak pernah disebutkan bahwa Allah Muslim sama dengan Yahweh. Pengutipan ayat Al-Quran QS. 22:40 untuk menunjukkan bahwa ‘nama Allah’ sudah digunakan bersama pada masa Muhammad oleh orang Yahudi, Nasrani, dan Islam yang berbahasa Arab. Apakah ‘Allah’ sama dengan ‘Yahweh’? Untuk menghindarkan kesalah-pahaman lebih lanjut, lebih baik membandingkan ‘Allah Arab Islam’ dengan ‘Allah Arab Kristen.’ Ada kesamaannya, yaitu bahwa nama ‘Allah’ Arab yang adalah padanan ‘El/Elohim/Eloah’ Ibrani atau ‘Theos’ yunani disebut Allah, ini menunjuk pada ‘Pencipta alam semesta agama Semitik’ dan ‘sesembahan Abraham,’ bapa orang beriman itu. Dalam artikel lainnya di situs ini disebutkan dengan jelas, sekalipun ada kesamaannya sebagai nama pencipta sesembahan Abraham, pengajaran/akidah mengenai nama yang sama itu berbeda karena kitab suci masing-masing agama semitik itu berbeda.

Hal yang terjadi dengan Kristen dan Islam juga terjadi dengan Kristen dan Yahudi, dan kita tidak perlu menolak bahwa Yahweh Yahudi itu tidak sama dengan Kurios Kristen hanya karena PB menerima Yesus sebagai Mesias dan Yahudi (PL) tidak! Benar, dalam al-Quran nama Allah terdapat pada syahadat Islam yang yang berbunyi “la ilaha illa Allah (QS. 47:19), dalam Alkitab Yunani Koine ada ayat sama berbunyi: “oudeis theos eimee heis” yang diterjemahkan ke dalam Alkitab Arab sebagai “la ilaha illa Allah” (LAI: “tidak ada Allah lain dari pada Allah yang Esa,” 1 Kor. 8:4), ini sama dengan dalam Al-Quran, dan perlu dimengerti bahwa ayat PB itu diucapkan secara lisan lebih dahulu oleh orang Kristen Arab sebelum disebut oleh orang Arab Islam. Mengenai soal apakah ‘El’ (yang dalam bahasa Arab = Allah) merupakan padanan ‘Yahweh’ (yang dalam bahasa Arab disebut Ar-Rabb) sudah dijelaskan di bagian sebelumnya.

(T5) Yesus menyebut orang Yahudi yang tidak menerima-Nya sebagai Messias sebagai ‘bapamu Iblis’ (Yoh. 8:41-45). Jika Tuhan Yesus sendiri berkata bahwa Bapa dari orang Yahudi adalah Iblis, sebab mereka menolak Yesus, bahkan berusaha keras membunuhNya, masihkan dapat disebut bahwa ‘Allah’nya orang Muslim itu sama dengan ‘Yahweh’?

(D5) Perikop percakapan Yesus dan orang-orang Yahudi dalam Yohanes pasal 8:37-47, merupakan contoh yang tepat sekali! Orang-orang Yahudi menyebut Tuhan mereka dengan nama ‘Yahweh/Kurios’ namun kepada yang tidak mau menerima Yesus sebagai Messias, Yesus mengatakan kepada mereka ‘bapamu Iblis.’ Maka kalau Yahweh/Kurios orang-orang Yahudi yang tidak menerima Yesus sebagai Messias disebut ‘bapamu Iblis’ ini tentu tidak berarti bahwa nama ‘Yahweh’ harus ditolak karena dianggap ‘Iblis’! Yang perlu diluruskan adalah pengajaran/aqidah mengenai nama Yahweh itu agar mereka membuka diri terhadap Messias yang sekarang sudah hadir dalam diri Yesus (Yehoshua, Yahweh yang menyelamatkan).

Sama halnya dengan diatas, nama ‘Allah’ sudah diikuti oleh keturunan Abraham yang berbahasa Arab untuk menyebut ‘El/Elohim/Eloah’ dan dikalangan bangsa Arab diteruskan oleh kaum ‘Hanif.’ Pada masa awal gereja, nama Allah dimengerti oleh orang Arab yang menjadi Kristen sebagai menunjuk Bapa Yesus yang Messias, dan pada masa jahiliah pra-Islam nama Allah itu dimengerti merosot oleh orang Arab non-Kristen dan ditujukan untuk menyebut berhala kafir. Disini, tentu bukan nama ‘Allah’ (yang menunjuk Tuhan semitik) yang harus ditolak, tetapi pengajaran/akidah yang salah mengenai ‘Allah’ itu. Tugas umat Kristen adalah memberitakan ‘Allah’ semitik itu kepada orang beragama Yahudi dan Arab Islam sesuai dengan pengajaran/aqidah Alkitab Perjanjian Lama dan Baru, bahwa ‘Yesuslah Messias’ yang adalah juruselamat umat manusia, dan bahwa Ialah Immanuel, El (Allah dalam bahasa Arab) yang menjadi manusia.


  

Salam kasih dari Sekertari www.yabina.org


 


Form untuk mengirim pertanyaan | Diskusi Sebelumnya