Ruang Tanya Jawab - Januari 2005

Form untuk mengirim pertanyaan


SATU ALLAH BANYAK AJARAN

Beberapa tanggapan yang diterima dari pengagung nama Yahweh sehubungan dengan artikel ‘Satu Allah Tiga Agama’ didiskusikan sebagai berikut:

(Tanggapan–1) Yahweh merupakan Nama Diri Tuhan (Kel.3:15), jadi tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa manapun, terjemahan ke dalam bahasa setempat adalah salah.

(Jawab–1) Perlu disadari bahwa nama Yahweh baru disampaikan kepada Musa (Kel.6:1-2) bukan dalam Kel.3:15, sebelumnya El digunakan sebagai nama diri bahkan setelah ada nama Yahweh pun, nama El masih tetap digunakan. Dalam penggunaannya di PL, Dalam kitab Ayub, El digunakan sebagai nama diri sebanyak 50 kali, dalam Mazmur 43-83 El disebut sebagai nama diri 15 kali, malah dalam Mazmur 78 El disebut 6 kali sebagai nama diri untuk menyebut Yahweh, Sesudah pembuangan ketika nama Yahweh haram untuk diucapkan salah, nama diri El banyak digunakan dalam kaitan dengan keesaan (Yes.40:18;43:10-12;45:12). El sebagai nama diri (Kej.33:20;46:3;Kej.17:1 band. Kel.6:2) diidentikkan dengan Yahweh (Kel.32:27;Yos.8:30). Fakta menunjukkan bahwa Imam Besar Eliezer sendiri mengirimkan 72 tua-tua Israel ke Alexandria untuk menerjemahkan Tenakh ke dalam bahasa Yunani (Septuaginta/LXX) dimana Yahweh diterjemahkan menjadi Kurios/Kyrios.

(T–2) Walaupun Imam Besar memerintahkan penerjemahan Tenakh ke Septuaginta, harus disadari bahwa dia itu bukan Tuhan yang bebas mengubah Nama Yahweh menjadi Kurios dan El/Elohim menjadi Theos, Imam Harun sendiri pernah berbuat salah karena menganggap patung lembu sebagai Yahweh. Sebagai orang beriman, seharusnya yang menjadi acuan kebenaran bukanlah manusia melainkan Firman Tuhan. Bukankah Tuhan sang pemilik nama tidak menghendaki namaNya disebut dengan sembarangan?

(J–2) Berbeda dengan Harun yang disalahkan Yahweh (Kel.32:7-10), Yesus tidak menyalahkan Imam Eliezer, bahkan Yesus tidak menyebut Yahweh melainkan terjemahan LXX yaitu Kurios (misalnya ketika mengutip kitab Yes.61:1-2;58:6 dalam Luk.4:18-19), demikian juga tidak ada indikasi dalam PB bahwa Allah Bapa menolak Septuaginta. Perilaku Yesus yang membaca terjemahan nama Yahweh tidak disalahkan Yahweh sendiri, bahkan Bapa menyebut Yesus: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” (Mat.3:17).

(T–3) Terjemahan Septuaginta yang dipakai sampai sekarang adalah Septuaginta versi Alexandrine (Septuaginta yang dikeluarkan di Alexandria) dimana pada era tersebut adalah setelah bangsa Israel dipulihkan dari Babel, sehingga nama Yahweh sudah dihilangkan dan diganti dengan Kurios, padahal Septuaginta yang 400 tahun sebelum versi Alexandrine, tidak mengganti nama Yahweh. Potongan Septuaginta yang berasal dari abad 1 Masehi yang berisi Kitab Zakharia 8: 19-21 dan 9: 4 telah diketemukan dan disimpan di Museum Israel Yerusalem. Dalam potongan tersebut tertulis nama YHWH masih dalam bentuk Paleo Hebrew, namun dalam naskah Septuaginta Alexandrine yang 400 tahun kemudian, nama itu memang sudah diganti dengan KC dan KY (Kyrios = Tuhan).

(J–3)  Menarik mengamati tanggapan ini karena ini mengutip argumentasi Saksi-Saksi Yehuwa dalam literatur mereka (NAMA ILAHI Yang Akan Kekal Selama-lamanya, h.26). Kutipan ini malah membongkar kepalsuan argumentasi tersebut, sebab gambar itu menunjukkan bahwa tetragramaton kuno yang ada dalam salinan LXX itu disisipkan ke dalam naskah itu dengan menghapus kata ‘kurios/kurie’. Tetragramaton disitu ditulis berbeda dengan gaya tulis bahasa Yunaninya, kepekatan tintanya berbeda, dan fontnya lebih kecil dan ditulis dengan huruf miring, lagipula dalam bahasa Yunani waktu itu, huruf-huruf ditulis berjejer tanpa spasi kata dari kiri ke kanan, padahal selipan tetragramaton Ibrani ditulis dari kanan ke kiri seakan-akan terpenggal dari kalimat Yunaninya. Bila ada kata Ibrani disisipkan dalam Septuaginta, tentunya kata Ibrani itu ditulis dengan aksara Yunani bukan tetragramaton, bandingkan ini dengan suku kata ‘yah’ (digramaton) pada kata Haleluya (Why.19) yang diulis dalam bahasa Yunani bukan Ibrani. Jelas tatragramaton di situ adalah perbuatan pengagung nama Yahweh yang mengganti kata kurios/kurie dengan tetragramaton. Yesus dan para penulis Alkitab waktu mengutip kitab Yesaya dan lainnya dari LXX mengucapkan kata Kurios/Kurie.

(T–4) Kitab Matius 1:17 menyebut nama yang ada berjumlah 14 keturunan, Kalau dihitung dengan baik, nama yang ada hanya ada 13 keturunan. Dalam Inskripsi Du Tillet Hebrew, terdapat satu nama yang tercecer, yaitu Nama Avner yang seharusnya tertulis di ayat 13 yaitu Abihud / Avikhud memperanakkan Avner / Abner kemudian Avner memperanakkan Elyakim, baru Elyakim memperanakkan Azur / Azor. Hal itu dapat dibaca dalam Kitab Suci “Hebraic Roots Version New Testament” dimana kalau ditelusuri sejarah silsilahnya memang tepat. Ini bukti bahwa PB Aslinya bahasa Ibrani. Kata Haleluya (Why.19:1,3,4,6) yang berarti Pujilah Yah(weh), menunjukkan bahwa kata itu berasal dari huruf Ibrani yang sudah mengandung huruf hidup, itu berarti bahwa bahasa asli Perjanjian Baru adalah bahasa Ibrani.

(J–4) Argumentasi diatas bukan bukti bahwa Perjanjian Baru ditulis aslinya dalam bahasa Ibrani dan tidak pernah ada naskah bahasa Ibrani PB. Satu-satunya kata Ibrani dalam PB yang asli adalah seruan umum pemujaan ‘Haleluya’ (Why.19), ini juga tidak membuktikan bahwa bahasa asli PB adalah Ibrani, sebab kata itu ditulis dalam bahasa Yunani termasuk kata ‘Yah’ (bukan digramaton ‘Jod He’, dalam Septuaginta pun a.l. Mzm.106:1 juga ditulis ‘Allelouia’ dengan huruf Yunani). Sebenarnya para pengagung nama Yahweh tidak usah bersusah-susah mencari dalih untuk membuktikan bahwa naskah asli PB adalah bahasa Ibrani, daripada berteori mengenai naskah Ibrani yang tidak ada, cukup ditunjukkan naskah atau salinan naskah Ibrani kalau ada. Bahasa Ibrani adalah bahasa mati pada abad pertama (tidak diucapkan dalam percakapan karena hanya terdiri huruf mati) dan hanya menjadi tulisan suci di Bait El/Allah, dalam sinagoge dan masyarakat umum yang digunakan adalah bahasa Yunani dan bahasa ibu Aram yang disebut dialek ibrani (hebraic dialekto) atau lidah orang ibrani (hebraisti). Baru pada tahun 500 keluarga Massoret mulai menuliskan Tenakh dengan tanda baca dan vokal.

(T–5) Di Indonesia terjemahan LAI salah karena Nama Diri Yahweh diterjemahkan menjadi TUHAN dan ALLAH ( huruf kapital semua ), seperti dalam Yesaya 42:8 dan Yeremia 32:17.

(J–5) Terjemahan Yahweh sebagai TUHAN adalah perjanjian mengikuti kebiasaan bahasa Inggeris LORD untuk membedakan dengan terjemahan Adonai Tuhan (Lord) dan tuan (lord). Yahweh dan Adonai diterjemahkan LXX menjadi Kurios sebagai hasil perjanjian 72 tua-tua dengan para ilmuwan Yunani. Secara umum El/Elohim/Eloah ditulis sebagai Allah mengikuti jejak orang Kristen Arab dan yang dibakukan di Indonesia. Bila ada kasus kata Ibrani Adonai Yahweh, maka untuk tidak mengulang kata ‘Tuhan TUHAN,’ ditulis Tuhan ALLAH (capital). Karena nama El (yang dalam dialek Arab = Allah) identik dengan Yahweh sebagai nama diri pribadi yang sama, maka penggantian itu tidak menjadi masalah.

(T–6) Yang menghendaki untuk NamaNya tidak diganti itu Tuhan Yahweh sendiri! Justru yang menghendaki agar Nama Yahweh diterjemahkan dengan TUHAN atau ALLAH adalah kelompok Kristen yang Anti Nama Yahweh (Kel.20:7;Ul.5: 11).

(J–6) Kristen yang menggunakan terjemahan TUHAN tidak anti Yahweh, namun kalau Imam Besar Eliezer dan Yesus sendiri merestui menerjemahan nama Yahweh dan tidak ditolak Bapa di sorga, dan Roh Kudus justru merestui dan memberi kuasa penggunaan terjemahan termasuk ke orang Arab (Kis.2:7-11) dimana Petrus berkotbah mengenai ‘firman Allah’ dan ‘hari Tuhan’ (kuriake hemera, Kis.2:16,20), demikian juga orang Arab Kristen dan selama empat abad kekristenan di Indonesia menggunakannya, tidak ada bukti Bapa di sorga marah dan telah menghasilkan banyak perngorbanan martir dan banyak pertobatan ke dalam kehidupan baru, mengapa kita terpengaruh provokasi fanatisme fundamentalis Yahudi orthodox yang menafsir Kitab Suci secara harfiah?

(T–7) Masalah “Allah” sebagai Dewa Air atau Dewa bulan, tidak perlu dibesar-besarkan, tujuannya untuk membuat fitnah agar orang Muslim memusuhi Pengagung Yahweh. Yang disebut Dewa Air atau Dewa Bulan itu Allah Pra Islam dan ada banyak buku-buku referensi mengenai masalah tersebut yang dibuat oleh para theolog Islam sendiri dan hal itu tidak masalah karena berdasarkan data Arkheologi memang demikian.

(J–7) Yang membesarkan ‘Allah’ sebagai dewa Air/Bulan adalah pengangung nama Yahweh sendiri melalui traktat dr. Suradi dan ini membuat marah kelompok Islam tertentu sehingga dikeluarkan fakta mati untuknya. Benar para theolog Islam menyebut bahwa nama Allah sebagai dewa air/bulan merosot pada masa jahiliah tetapi bila dibaca konteksnya, Islam ingin mengembalikan kepada arti aslinya sebagai Allah monotheisme Abraham yang dipercaya kaum Hanif (suku Ibrahimiyah dan Ismaelliyah). Ingat bahwa nama “allah’ sudah digunakan oleh orang Arab Kristen dan Arab Yahudi jauh sebelum masa jahiliah, Peshita (Alkitab Aram Siria) sendiri sudah menggunakan nama Alaha sejak abad kedua, jauh sebelum masa jahiliah dan AlQuran.

(T–8) Kekristenan yang menyebut Allah bermasalah dengan umat Islam sebab mempersekutukan Allah. Inilah yang membuat Umat Islam marah sebab mereka jadi memiliki pemahaman bahwa Allah itu beranak karena ada istilah Allah Bapa, Allah Anak, Allah Roh yang dalam Kitab Suci tidak ada.

(J–8) Sayang pengagum nama Yahweh dalam fanatismenya memiliki pemahaman sempit yang tidak bisa membedakan antara Allah sebagai nama sesembahan dan pengajaran/aqidah mengenai sesembahan itu. Pengorbanan Anak Abraham/Ibrahim (Idul Adha) ditulis baik di Tenakh (Yahudi), PL+PB (Kristen), maupun Al-Quran (Islam). Ketiganya menyebut El/Theos/Allah yang sama dan Abraham/Ibrahim yang sama pula, namun pengajaran ketiganya berbeda karena kitab suci yang dipercaya masing-masing (aqidah) berbeda. Dalam Kitab Suci PB banyak disebut Yesus sebagai Anak Allah, bahkan Bapa memanggil Yesus sebagai Anak, karena itu orang Yahudi membencinya dan ingin membunuhnya (Yoh.10:32-36). Yesus sendiri menyuruh membaptis dalam nama “Bapa, Anak dan Roh Kudus” (Mat.28:19) pada abad satu.

(T–9) Mengapa EL sering diterjemahkan sebagai Tuhan (God) seperti dalam kalimat 'EL (Tuhan) ELOHEY (Tuhannya) YISRA'EL (Israel) ?

(J–9) El tidak diterjemahkan Tuhan melainkan ‘Allah.’ El Elohe Yisrael diterjemahkan ‘Allah Israel adalah Allah’ (Kej.33:20) dan Yahweh Elohe Yisrael diterjemahkan ‘TUHAN, Allah Israel’ (Kel.32:27;Yos.8:30). El digunakan sebagai nama diri maupun sebutan, dalam bahasa Arab istilah itu sebagai nama diri diberi kata sandang ‘Al’ (Al-ilah) dan pada penggunaan pada peshita (Aram Siria), kata sandang ‘ha’ diletakkan di belakang kata bersangkutan (Alaha). Sekalipun dalam bahasa Ibrani kata sandang ‘ha’ diletakkan di depan, sekalipun sesekali digunakan penggunaan kata sandang ‘ha’ untuk menyebut nama Tuhan tidak lazim.

(T–10) Apa yang digunakan orang Kristen Arab, bukan tolok ukur kebenaran, karena itu kembali kepada Firman itu sendiri. Untuk mencari kebenaran, acuannya Firman Tuhan bukan kitab terjemahan, sebab Kitab terjemahan semuanya tergantung dari penterjemahnya.

(J–10) Inilah masalah para pengagung nama Yahweh di Indonesia, yaitu merasa “lebih Arab dari orang Arab” dan “lebih Yahudi daripada orang Yahudi.” Septuaginta adalah terjemahan Tenakh (+Apokrifa), Tuhan Yesus & para penulis Alkitab menggunakan dan mengutipnya. Perjanjian Baru aslinya ditulis dalam bahasa Yunani (koine) dan bukan terjemahan. Firman Tuhan yang asli itu yang mana? Soalnya para nabi umumnya tidak menulis sebagai mesin ketik Tuhan melainkan menulis apa yang diwahyukan, berarti mereka sebenarnya sudah menafsirkan wahyu Tuhan. Kristen percaya bahwa Roh Kudus Allah yang mengilhamkannya (1Tim.3:15-17) sekalipun ditulis oleh manusia.

(T–14) Nurcholish Majid adalah penganut Islam Liberal yang tidak sepaham dengan Islam yang lain! Menurut orang Islam yang lain nama Allah adalah milik orang Islam.

(J–14) Kita jangan melihat Nurcholish Majid karena di’cap’ liberal yang pasti salah, dalam hal pengetahuan tentang nama Allah ia benar dengan menyebut bahwa dalam Al-Quran sendiri “Nabi Muhammad menyebut nama Allah dipakai bersama dengan orang Yahudi dan Nasrani” (a.l. QS.2:30;2:136;22:40). Kalau Muhammad sendiri tidak mempermasalahkan penggunaan nama Allah oleh orang Yahudi dan Nasrani karena menyadari mereka sudah jauh lebih lama menggunakannya dan akan ditolong oleh Allah, Di negara-negara berbahasa Arab orang Arab beragama Islam maupun orang Arab beragama Yahudi/Kristen tidak meributkannya, mengapa orang Indonesia yang bukan berdarah Arab maupun Yahudi meributkannya? Memang di Malaysia pada tahun 1980-an ada kelompok fundamentalis Islam di negara bagian tertentu yang menolak penggunaan nama ‘Allah’ dalam Alkitab Kristen dan melarang import Alkitab Indonesia terbitan LAI yang kala itu dipakai orang-orang Kristen di Malaysia, namun sekarang umat Islam di Malaysia sudah mengalami pendewasaan dan Alkitab LAI sudah boleh diimpor kembali ke Malaysia dan bahkan sekarang di Malaysia sudah terbit Alkitab Bahasa Melayu (BM) yang menggunakan nama ‘Allah’ juga. Haleluyah!

Kiranya diskusi kali ini menjawab beberapa tanggapan di atas.

Salam kasih dari Redaksi YABINA ministry

redaksi@yabina.org & www.yabina.org


Form untuk mengirim pertanyaan