Ruang Tanya Jawab - Nopember 2004 

Form untuk mengirim pertanyaan


SATU ALLAH TIGA AGAMA

Beberapa pertanyaan yang diterima dalam sebulan terakhir ini didiskusikan sebagai berikut:

(Tanya–1)
Sehubungan dengan artikel berjudul ‘Satu Allah Tiga Agama,’ bukankah kalau Allahnya Sama pengajarannya juga harusnya sama, karena itu karena ajaran agama Islam berbeda dengan Kristen, tentu Allahnya beda pula.

(Jawab–1)
Kita harus menyadari bahwa antara ‘Allah’ dan ‘Agama’ itu berbeda ranahnya. Disatu segi Allah sebagai ranah historis yang menunjuk pada oknum sesembahan tertentu, disegi lain Agama adalah ranah dogmatis dengan ajaran/aqidah-nya. Ranah historis bisa ditelusuri dari sejarah Archaelogis dan juga dari data sejarah yang diceritakan kitab-suci ketiga agama samawi itu, sedangkan ranah dogmatis adalah ajaran/aqidah yang dipercayai oleh pemeluknya. Baik Yahudi, Kristen, maupun Islam berbicara mengenai daerah geografis dan historis para patriakh, nenek-moyang suku-suku, maupun sesembahan yang sama yang disebut sebagai ‘El’ dalam dialek Ibrani, dan ‘Allah’ dalam dialek Arab, keduanya berasal dari ‘Il’ Semitik yang menjadi nenek moyang rumpun Semitik bangsa Yahudi maupun Arab dan menghasilkan tiga agama Samawi (agama Wahyu). El/Allah sebagai ranah historis jelas adalah pribadi yang satu yang sama-sama dibicarakan dan menjadi obyek sesembahan ketiga agama itu, namun ranah dogmatis, karena sifatnya penafsiran manusia akan yang dianggapnya wahyu Allah bisa saja berbeda. Agama Yahudi menerima Tenakh (diterima Kristen sebagai PL), agama Kristen mempercayai PL + PB (penggenapan PL dalam Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat). PB tidak dipercayai oleh agama Yahudi sebagai wahyu. Agama Islam menerima PL + PB sebagai kitab-kitab para Nabi terdahulu, namun tidak menerima sepenuhnya karena dianggap sudah dipalsukan, dan mempercayai sebagai wahyu terakhir dalam Al-Quran, yang terakhir ini tidak diterima oleh agama Yahudi & Kristen.

(T–2)
Bukankah kalau Allahnya sama, mestinya wahyu yang diberikan sama bukan?

(J–2)  
Bila kita melihat dari sudut Allah, Wahyu yang diberikan oleh Allah tentu sama. Yang menjadi masalah, kita belum bisa bertanya kepada Allah mengenai mana yang Wahyu dan mana yang tidak. ‘Wahyu’ itu sudah menurun dalam bentuk ‘Kitab Suci’ yang sekalipun oleh para pengikutnya dipercaya berasal dari Allah, kenyataannya merupakan kompilasi dari manusia (sekalipun diakui diwahyukan Allah), sehingga jelas saling berbeda satu dengan lainnya. Sebagai contoh dalam ranah historis ketiga agama Samawi berbicara mengenai Wahyu yang diberikan oleh ‘El/Allah’ kepada ‘Abraham/Ibrahim’. Ketiga agama Samawi mengakui dan mempercayai ranah historis itu, namun ketika berbicara mengenai siapa yang dipersembahkan oleh Abraham/Ibrahim itu terdapat perbedaan. Tenakh Yahudi berbicara mengenai Ishak yang dikorbankan dan ini dipercayai oleh Kristen, sedangkan Al-Quran Islam tidak menyebut secara eksplisit tentang siapa yang dikorbankan, namun tradisi menyebut Ismaellah yang dikorbankan. Di sini bisa dilihat bahwa yang dipercayai sebagai wahyu dalam kitab suci oleh ketiga agama Samawi itu berbeda, sekalipun data kedua kitab suci itu sama sampai dengan Abraham/Ibrahim dan menunjuk pada El/Allah yang sama pula.

(T–3)
Pada waktu Yesus berdialog dengan orang Yahudi, Yesus menyebut bahwa Allah-Nya dan Allah Yahudi berbeda, bahkan dikatakan bahwa: “Iblislah yang menjadi Bapamu” (Yoh.8:44).
Injil Yohanes kelihatannya menggugat atau menyangkali pemahaman seperti itu. "Siapa menerima Yesus menerima Allah, siapa menyembah Yesus menyembah Allah, sebaliknya yang tidak menyembah Yesus juga tidak menyembah Allah", demikian Injil Yohanes.   

(J–3)
Perlu disadari bahwa kalau Yesus menyebut ‘Iblislah yang menjadi Bapamu,’ tentulah yang dimaksudkan adalah konsep ajaran Yahudi mengenai Allah yang sama itu berbeda (menurut Yesus) sehingga dianggap sebagai ‘Iblis’.
Kita jangan mempersempit pengertian mengenai Theologi maupun Kristologi
dalam kitab Yohanes, soalnya Yohanes memiliki dua pengertian mengenai hal itu, yaitu 'Theos' dalam ranah historis dan Theos dalam ranah dogmatis (ajaran/aqidah). Benar, bahwa dalam Yoh.8 :44, Yesus mengkritik Theologi Yahudi yang menolak Kristologi PB, tapi ini adalah ranah dogmatis dan bukan ranah historis.
Untuk memperjelas, marilah kita melihat konteks Yoh.8 :44, terutama ayat-ayat 48-59. Disitu setidaknya ada tiga hal yang bisa kita pelajari :

(1) Kalau Yesus pergi dan berbicara ke dalam Bait Allah (8 :59) tentu ia tidak bermaksud datang ke rumah Iblis bukan? Sebab, kalau rumah Iblis tentu Yesus tidak perlu susah-susah menyucikannya bukan? (Yoh.2 :13-22). Jadi Yesus mengakui bahwa secara historis, Allah Yahudi sama dengan Bapa Yesus karena mereka pergi ke rumah Allah (Beth El) yang sama, lalu bagaimana faham dogmatisnya ? ;

(2) Yesus menunjuk kepada Bapa sebagai sosok yang sama yang oleh orang Yahudi disebut 'Dia adalah Allah kami' (4 :54, ini ranah historis). Yang membedakan disini adalah ranah dogmatisnya yaitu 'Allah yang Sama' itu menurut Yesus menyatakan Diri dalam diri-Nya (inilah dogmatik Kristen), tetapi orang Yahudi menolak bahwa Allah yang sama-sama dibicarakan itu adalah Allah yang menyatakan diri dalam Yesus. Karena tidak percaya maka Yesus mengkritik orang Yahudi bahwa 'Iblislah yang menjadi Bapa kamu' (yang
dikritik adalah faham dogmatik Yahudi mengenai Allah yang sama itu yang keliru). Harus disadari bahwa pernyataan Yesus ini adalah pernyataan dogmatis (kita anggap benar karena kita menganggap PB adalah wahyu Allah) dan tentu berbeda dengan pernyataan Yahudi (yang menganggap PL-lah yang benar dan tidak mengakui PB, termasuk klaim Yesus, sebagai benar). Ingat, bahwa dalam konteks ayat itu orang Yahudi juga menyebut sebutan dogmatis bahwa 'Yesus kerasukan setan ' (4 :48,52) ; dan

(3) Dalam perikop itu baik Yesus maupun orang Yahudi secara historis mengakui Abraham dan Allah (dengan Bait Allah)-nya yang sama, tetapi bukan dalam ranah dogmatis, karena menurut dogmatik Yahudi, Yesus jauh lebih muda dari Abraham (8 :37,57), padahal menurut dogmatik Yesus, Yesus adalah
identik dengan Bapa  yang menyatakan Diri sebagai 'Ego Eimi' (8 :58, band. terjemahan Kel.3 :14 Septuaginta yang juga menggunakan frase 'Ego Eimi' padahal dalam masa PB Yesus maupun orang Yahudi umumnya menggunakan Septuaginta, sedangkan fragmen Tenakh hanya menjadi tulisan suci
para Rabi di Beth El).

(T–4)
Dalam Renungan berjudul ‘Saling Bersalaman,’ disebut bahwa orang Islam adalah ‘saudara.’ Atau ‘saudara sepupu.’ Kalau dilihat dari keturunan Abraham, mungkin begitu, tetapi bila dilihat dari sisi Tuhan Yesus, bukankah disebutkan bahwa hanya ‘Dalam Yesus Kita Bersaudara?’

(J–4)
Memang dalam Alkitab kita dapat melihat bahwa panggilan 'saudara' bisa memiliki beberapa arti, yaitu: (1) 'saudara kandung' (Mat.12:47) atau setidaknya saudara jauh atau sepupu. Ungkapan "mereka adalah saudara sepupu" memang tepatnya ditujukan kepada bangsa Israel dan Arab yang memiliki nenek moyang yang sama, atau tepatnya keturunan Ishak dengan keturunan Ismael, dan ungkapan itu kemudian bersifat simbolis bahwa penganut agama Yahudi dan Kristen, sebenarnya sepupu penganut agama Arab, yaitu Islam; (2) Yesus mengatakan bahwa 'saudara' adalah mereka yang beriman atau lebih tepatnya mereka 'Yang melakukan kehendak Allah.' (Mat.12:50); dan (3) Penggunaan lain bisa untuk menunjukkan sikap keramah-tamahan yang kasih, Petrus dalam kotbahnya di hari Pentakosta menyebut pendengarnya sebagai ‘Saudara-saudara’ padahal pendengarnya ada yang belum bertobat dan diselamatkan (Kis.2:29-40). Ananias juga menyebut Paulus 'saudaraku' sebelum ia bertobat dan dibaptis (Kis.22:13,16).

(T–5)
Kalau Sesembahan Yahudi, Kristen, dan Islam sama, apakah itu berarti bahwa sesembahan semua agama itu juga sama seperti yang diajarkan dalam inklusivisme?

(J–5)
Mungkin secara teoritis, menurut dogmatika Kristen, Pada penciptaan langit dan bumi hanya ada satu Tuhan yaitu ‘El/Allah’ (Kej.1:1), dan dalam peristiwa di babel (Kej.11) keyakinan akan ‘El’ itu ikut menyebar di kalangan manusia yang tercerai-berai, mereka masih memiliki ingatan akan sesuatu ‘di atas umat manusia’. Pada keturunan Sem (rumpun Semitik) kelihatannya wahyu mengenai pencipta itu terpelihara dan kita mengenal tiga agama Semitik yang memiliki historitas yang sama, jadi menyembah Allah yang sama. Namun secara praktis ketiganya kemudian menjadi agama yang mempercayai wahyu/kitab-suci yang berbeda-beda namun masih memiliki akar yang bisa ditelusuri sebagai sama. Berbeda dengan agama-agama lain yang non-semitik/samawi yang sekalipun secara teoritis mungkin berasal dari ‘El/Allah’ yang satu itu, namun sudah jauh dan memiliki Tuhan yang berbeda. Setidaknya dalam perbandingan agama dikenal tiga kategori sesembahan, yaitu: (1) Theisme, yang mempercayai Tuhan yang berpribadi (Agama Semitik/Samawi termasuk di sini); (2) Monisme, yang mempercayai Tuhan adalah keberadaan non-pribadi dan sekedar kekuatan (seperti dalam Agama Hindu-Upanishad, Taoisme, dan New Age); dan (3) Non-Theisme, yang mempercayai Tuhan sekedar ‘An-Atta’ atau ‘ketiadaan.’ (seperti dalam Agama Buddha). Jelas ketiga kategori itu sudah berbeda, karena itu nama ‘Tuhan’nya juga berbeda. Lebih jelas terlihat kalau kita memasukkan kategori ke-(4) Diabolisme/Demonisme, yang mempercayai Setan adalah sesembahan (agama Satanisme), ini jelas bukan saja berbeda namun menjadi antitema dari tehisme (band.Kej.3). Dalam konsep ‘inklusivisme’ obyek sesembahan itu kemudian berkembang menuju ‘Yang SATU’, yang jelas ini termasuk Monisme. ‘Yang Satu dalam theisme agama Samawi adalah pribadi, sedangkan ‘Yang SATU’ dalam monisme adalah kekuatan. Namun, kalau kita menolak kesamaan sesembahan Monisme, Non-Theisme, dan Diabolisme, ini tidak berarti bahwa kita juga harus menolak kesamaan ketiga agama Samawi karena mereka bisa ditelusuri berasal dari ‘Il’ Semitik, yang membedakan ketiganya adalah ajaran/akidah dogmatisnya, yaitu ada kesamaan namun ada juga perbedaannya.

Kiranya diskusi kali ini menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan oleh peserta.
 

Salam kasih dari Redaksi YABINA ministry

redaksi@yabina.org & www.yabina.org


Form untuk mengirim pertanyaan