Ruang Tanya Jawab - Juni 2004 

Form untuk mengirim pertanyaan


FILM-FILM TENTANG YESUS (2)
 

Sebagai kelanjutan Artikel (85) mengenai ‘Film-Film Tentang Yesus’, Diskusi (0405) dengan judul yang sama, Artikel (86) ‘Sadisme,’ dan Renungan (0411) ‘Lahir Baru’ dalam situs ini, telah masuk beberapa pertanyaan yang dibahas di bawah ini:

(Tanya-1) NONTON FILM.
Kalau film ‘The Passion’ bukan film baik, mengapa YABINA sendiri menontonnya sehingga banyak tahu isinya?

(Jawab-1) UNTUK mengetahui isinya, kita tidak harus menonton filmnya, karena di internet sudah tersedia banyak bahan mengenai film ‘The Passion,’ baik yang setuju maupun yang tidak setuju. Namun, memang untuk menghasilkan artikel yang baik sebaiknya mempelajari sumber aslinya. Ketika memperoleh DVD film ‘The Passion’ YABINA langsung melihatnya, tetapi baru berjalan beberapa waktu sudah ada niat di hati untuk menghentikan tayangan itu. Pergumulan itu dibawakan ke dalam doa mohon pimpinan Tuhan apakah sebaiknya dihancurkan saja DVD itu (YABINA sudah sering menghancurkan DVD yang berisi hard-porn dan sadisme), kemudian terasa bahwa dengan berat hati perlu menontonnya sampai habis tetapi dengan misi untuk mempelajari isinya dan berguna untuk bahan menasehati jemaat bila ternyata isinya tidak benar. Maka dengan pinsil dan kertas di tangan dan earphone di telinga, film ini diperhatikan dan diketahui dengan benar isinya karena kita dapat memperlambat atau mempercepat adegan yang diperlukan. Jadi, pembahasan YABINA atas film itu berdasarkan: (1) melihat sendiri; (2) membaca tanggapan pers Amerika (yang kristen maupun sekular, baik yang pro maupun yang anti); (3) mendiskusikannya dengan teman-teman; dan (4) menulis resensinya.

(T-2) THE PASSION DAN PERANG BUSH.
Mengapa kaum Evangelical Amerika dalam dukungannya kepada film ‘The Passion’ di analogikan dengan dukungan kepada ‘Perang Bush di Irak?’

(J-2) BUKAN suatu kebetulan kalau keduanya berjalan dalam waktu yang bersamaan. Ketika Bush melancarkan serangan ke Irak banyak tokoh Injili (tidak semuanya) mendukungnya secara spontan, bahkan ucapan Franklin Graham (anak & penerus Billy Graham) menyebut a.l. “Islam is a wicked and evil religion” menjadi inspirasi Bush untuk menuduh negara-negara tertentu sebagai “axis of evil” dan perangnya di Irak sebagai “Crusade.” Dalam kasus ini beberapa tokoh Injili menolak dan umumnya kalangan ekumenis menolak rencana Bush. Ketika film ‘The Passion’ digelar di kalangan para pendeta, Billy Graham sebagai mantan pendeta gedung putih langsung memberi dukungan dan berkomentar mengenai film ini sebagai “a lifetime of sermons in one movie” sehingga sebagai tokoh evangelicalisme di dunia maka komentarnya itu menjadi panutan jutaan jemaat kristen yang ramai-ramai ikut mempopulerkan film tersebut. Pendeta dan gereja ekumenis pada umumnya tidak mendukung film itu.

(T-3) TULISAN OPOSAN.
Mengapa YABINA menulis artikel-artikel yang bersifat oposisi terhadap film ‘The Passion,’ padahal kita tahu bahwa Billy Graham memujinya dan Paus Yohanes Paulus merestui film tersebut?

(J-3) YABINA bukan ingin menulis karya oposan (yang berarti menentang sesuatu) tetapi ingin menulis kebenaran. Semula ketika mulai menonton film itu belum ada sikap menerima atau menolak, tetapi ketika melihat isinya yang sadistik, kemudian membaca bahwa di kalangan pers di Amerika Serikat baik yang kristen maupun sekular, dibalik begitu banyaknya dukungan, ternyata yang menolak juga banyak (Paus sendiri kemudian melalui sekertarisnya menarik kembali restunya), maka YABINA berbeban untuk merangkum pengalaman menonton film tersebut dan menginformasikan pembaca mengenai bahaya mempunyai kebiasaan menonton film-film sadisme seperti itu apalagi kalau menganjurkannya untuk diputar di gereja, ini berarti ikut mendorong orang lain termasuk anak-anak melihat film sadisme dan terpengaruh.

(T-4) IBU MARX MENOLAK.
Saya membaca dalam milis bahwa Ibu Marx tidak menyetujui film tentang Yesus, apakah kita sama sekali tidak boleh membuat dan menonton film tentang Yesus?

(J-4) MENARIK membaca tanggapan-tanggapan sekitar komentar ibu Marx, banyak yang sependapat namun ada juga yang tidak sependapat, masing-masing tentu memiliki hak untuk itu. Yang menarik adalah bahwa dari para pendukung film itu banyak yang begitu saja memberi komentar reaktif tanpa mampu menghayati apa sebenarnya maksud terdalam tulisan Ibu Marx. Tulisan itu mengomentari artikel yang membahas film ‘The Passion of the Christ’ (Mel Gibson) dan dapat dimaklumi kalau ibu Marx tidak setuju orang memerankan Yesus semacam itu karena film itu diduniawikan dan didramatisir secara sadis. Bisa dimaklumi kekuatiran ibu Marx yang sebagai dosen etika selama puluhan tahun dan rohaniwan yang sudah lama makan asam garam pelayanan sangat concern dengan kesucian dan kebenaran Tuhan Yesus sehingga ia kurang cocok dengan usaha mem’film’kan Yesus dengan resiko distorsi figur Yesus yang adalah Tuhan dan Allah itu demi pemuasan nafsu manusiawi. Apakah bukan kitalah yang belum se’peka’ ibu Marx? Semoga pemikirannya bisa kita terima dengan lapang dada dan direnungkan dengan bijak. Untuk diskusi mengenai film tentang Yesus yang lainnya, bacalah Artikel (85) ‘Film-Film Tentang Yesus.’

(T-5) TIDAK SETUJU DIPUTAR DI GEREJA.
Saya juga membaca bahwa ibu Marx juga tidak setuju film tentang Yesus di putar di gereja?

(J-5) DISKUSI dengan ibu Marx berkaitan dengan film ‘The Passion’ yang penuh dramatisasi. Film ‘The Passion’ memang tidak patut di putar di gereja, karena:

(1) Gereja adalah tempat pemberitaan ‘kabar baik’ tentang Yesus dan kebangkitannya, dan bukan untuk memberitakan sensasi tentang Yesus. Dalam film ‘The Passion’ yang menceritakan peristiwa dari Taman Getsemane sampai kebangkitan Yesus itu, ketika Yesus berdoa kepada Bapa di taman itu, yang menjawab adalah Iblis, padahal Alkitab menyebut malaekat datang menguatkan Yesus, dan seterusnya dalam film itu Iblis berkali-kali ditampakkan. Sebagian besar film menampakkan penyiksaan kepada Yesus dengan sadis di luar berita Alkitab, dan diakhir film dari 2 jam penyiaran, Kebangkitan Yesus hanya ditampakkan selama 30 detik saja. Kita perlu menyadari bahwa Injil bukan ‘kabar baik’ mengenai kesengsaraan Yesus melainkan kabar baik tentang ‘Kebangkitan Yesus’ yang telah menang atas dosa dan kematian;

(2) Film ‘The Passion’ dinyatakan termasuk ‘R-rated’ (restricted dengan Parental Guidance/PG) oleh badan sensor di Amerika Serikat, karena itu adalah tidak bertanggung jawab kalau film itu diputar di gereja untuk jemaat umum, sebab itu berarti mendorong jemaat termasuk anak-anak di bawah umur untuk ikut melihat adegan sadisme yang bisa mempengaruhi jiwa mereka dan yang sebenarnya tidak patut mereka lihat.

(T-6) PENGALAMAN SADISME MEL GIBSON.
Bukankah baik kalau Mel Gibson menggunakan pengalaman sadismenya sebagai bintang film dan sutradara untuk menceritakan kesengsaraan Yesus sebagai seorang pengikut Yesus yang dipersiapkan selama 12 tahun? Bukankah Paulus yang tegar menggunakan pengalamannya masalalu memperkuat misi pekabaran Injilnya? Bukankah dalam Alkitab disebut bahwa pemungut cukai dan sundalpun akan mendahului masuk kerajaan surga (Mat.21:31)?

(J-6) Mel Gibson sekalipun disebut menyiapkan film ‘The Passion’ selama 12 tahun, dalam kurun waktu itu tidak menunjukkan pertobatan dari jalan sadismenya, ia masih terus mengobarkan pengaruh kekerasan & sadisme semula melalui film-filmnya seperti ‘Lethal Weapon’ (1992 & 98) dan ‘Braveheart’ (1995), baik sebagai pemain film maupun surtradara, dan dalam filmnya ‘Payback’ (1998) disebut: “Mel Gibson is a one man army of revenge and retribution.” Film ‘The Passion’ (2003) oleh Joshua Victor dari J-Jireh Cinemags disebut “Brutal,” oleh kritikus film Chicago Sun Times disebut: “The most violent film,” dan oleh badan sensor Amerika Serikat dikategorikan ‘R rated.’ Memang Tuhan bisa menggunakan orang sadis & jahat maupun pezinah untuk menyatakan kemuliaannya sebab pemungut cukai dan perempuan sundalpun dikatakan akan mendahului masuk kerajaan Allah (Mat.21:31). Perlu disadari bahwa konteks ayat itu berbicara mengenai anak sulung yang mengatakan mau tetapi tidak pergi yang dibandingkan anak bungsu yang semula menolak tetapi kemudian menyesal dan lalu pergi melakukan kehendak ayahnya. Ayat itu ditujukan Tuhan Yesus kepada para tua-tua Yahudi yang diibaratkan anak sulung yang kelihatannya beriman tetapi menolak, sedangkan pemungut cukai dan perempuan sundal sebagai anak bungsu menyesali perbuatannya dan mengikut Yesus. Kepada perempuan pezinah Yesus berkata: "Jangan berbuat dosa lagi" (Yoh.8:11). Rasul Paulus mengatakan bahwa orang pezinah dan semacamnya yang tidak bertobat tidak akan mendapat bagian dalam kerajaan Allah (1Kor.6:9-11;Gal.5:19-21). Bandingkanlah hal ini dengan pertobatan rasul Paulus yang tadinya seorang yang ganas (sadis) dan membunuh Stefanus, kemudian menyesal dan bertobat, sehingga dapat membedakan kehidupan lama sebagai perbuatan daging/nafsu sedangkan kehidupan baru sebagai kehidupan yang dipimpin oleh Roh (Gal.5:16-26).

"Aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu diluar iman. Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus. Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: "Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa." Dan di antara mereka akulah yang paling berdosa. Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabarannya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal." (1Tim.1:12-17)

(T-7) PENGORBANAN MEL GIBSON.
Bukankah Mel Gibson telah berkorban 25 juta dolar dari kantongnya sendiri untuk membuat film tentang Yesus yang kemungkinannya tidak laku?

(J-7) SEBENARNYA Mel Gibson tidak mengorbankan 25 juta dolar seperti yang terkesan, soalnya film ini ia tawarkan kepada para produser Hollywood dan tidak ada yang berminat karena film ini berbau agama. Setelah itu Mel membicarakannya dengan kalangan pendeta evangelical dan mendapat sambutan luas sehingga ia menyediakan 25 juta dolar sebagai investasi karena berprospek menguntungkan. Wakil perusahaan film Mel menyebut: “their promotion to the religious leaders as more in the interest of marketing than evangelism, a distinction evangelicals evidently no longer recognize.”

(T-8) MEMBANGUNKAN IMAN UMAT.
Gereja kami sudah memutar film ‘The Passion’ dan beberapa orang terlihat dikuatkan dan disadarkan imannya. Bagaimana?

(J-8) KITA harus prihatin kalau orang dikuatkan dan disadarkan imannya karena menonton film sadisme demikian. Dalam studi tentang sadisme, kecenderungan berperilaku sadis (sadisme) maupun senang mengidentifikasikan dengan korban sadisme (masochisme) terbilang ketidak wajaran psikologis. Kalau orang baru diperkuat dan disadarkan imannya melalui adegan sadisme lalu apa artinya KKR, kotbah mimbar, dan PA yang selama ini dilakukan, mengapa tidak berdampak begitu? Beberapa dasawarsa terakhir ini umat Kristen terlalu banyak dipengaruhi berita ‘Injil sensasi’ yang dikatakan menghasilkan pertobatan. Dulu ada buku ‘Wahyu Tuhan Yesus Tentang Neraka’ (Kathryn Baxter) dimana dikatakan banyak orang bertobat setelah melihat kengerian siksaan neraka, demikian juga ketika ada bala Toronto Blessing, dikatakan banyak orang bertobat setelah melihat banyak orang ‘dilawat Allah’, tertawa-tawa, mabuk dan berjatuhan. Sensasi Akhir Zaman juga dikatakan banyak menobatkan orang karena banyak orang menjadi sadar bahwa Akhir Zaman sudah dekat jadi perlu segera bertobat (padahal nubuatan itu bohong). Demikian juga akhir-akhir ini banyak berita ‘Injil sensasi’ yang non-biblical yang bersandarkan nubuatan yang katanya menguatkan dan menyadarkan iman. Mengapa kita lebih senang sesuatu yang sensasional sedangkan berita Injil yang benar sudah ada dalam Alkitab, dalam kotbah mimbar yang alkitabiah, maupun dalam pemahaman Alkitab?

Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng. Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu! (2Tim.4:3-5).

(T-9) LALU BAGAIMANA?
Di gereja kami sudah terlanjur diputar film ‘The Passion’, lalu bagaimana sebaiknya langkah kami selanjutnya?

(J-9) SUDAH saatnya gereja lebih memfokuskan pemberitaannya pada Injil yang Alkitabiah, dan memutar film-film yang membantu pemahaman mengenai berita Injil yang benar, seperti film ‘Jesus’ (Yesus didasarkan Injil Lukas, diproduksi Campus Crusade for Christ, di Indonesia diedarkan oleh LPMI), ‘The Gospel of John’ (Yesus didasarkan Injil Yohanes), dan film ‘Jesus, The New Way’ (diulas oleh N.T. Wright, seorang pendeta yang banyak menulis buku pembelaan tentang Yesus menghadapi kelompok ‘Yesus Sejarah.’)

“Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasehatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.” (2Rtim.4:2).

Kiranya diskusi ringkas ini membuat kita lebih berhati-hati dalam menonton film-film yang bertemakan kehidupan Yesus.  

Salam kasih dari Redaksi YABINA ministry

redaksi@yabina.org & www.yabina.org


Form untuk mengirim pertanyaan