Ruang Tanya Jawab - Juli 2004 

Form untuk mengirim pertanyaan


HAL BERDOA DAN NUBUATAN
 

Akhir-akhir ini ada kebaktian Kharismatik yang menekankan sikap-sikap ibadat tertentu termasuk sikap dalam berdoa. Beberapa pertanyaan sekitar itu dibahas dalam diskusi kali ini:

(Tanya-1) DOA DALAM PERSEKUTUAN.
K
etika saya mengikuti Persekutuan Doa di kantor, pendeta dalam kotbahnya mengatakan bahwa cara/sikap doa kristen yang selama ini dikenal pada umumnya yaitu dengan cara mempertemukan kedua telapan tangan/menggenggam (bhs jawa ngapurancang) dan dengan menutup mata adalah tidak alkitabiah, yang benar adalah dengan cara menengadahkan tangan sebagaimana yang dilakukan oleh sdr-sdr kita muslim, untuk meyakinkan bapak pendeta tersebut mengutip dari 1 Tim.2:8 dan Yes.1:15. Bagaimana?

(Jawab-1) KELIHATANNYA, pendeta itu menekankan konsep penyembahan Yudaik yang kental sehingga ingin membawa kekristenan kepada Yudaisme. Perlu disadari bahwa 1Tim.2:8 dan Yes.1:15 bukan menekankan sikap berdoanya tetapi motivasi yang salah dan benar dalam berdoa. Dalam Alkitab banyak disebut kegiatan berdoa tetapi tidak ada yang menyebutkan mengenai bagaimana sikap berdoa itu seharusnya. Dalam Matius 6:5-15, Yesus mengajarkan mativasi dan isi doa yang benar dan bukan bagaimana sikap dalam berdoa sekalipun disitu disebutkan agar berdoa dalam kamar tertutup yang tentu maksudnya agar berkonsentrasi dan tidak terganggu kesibukan disekeliling pendoa. Berdoa adalah suatu dialog dengan Tuhan, karena itu asalkan kita memiliki sikap berdoa yang benar (apakah dengan menengadahkan tangan, dengan mengepalkan kedua tangan, atau lainnya), asalkan dengan sikap hormat, tentu berkenan kepada Tuhan.

(T-2) BERDOA DI PERJANJIAN LAMA.
Bukankah Perjanjian Lama menyebut tentang sikap berdoa dengan menengadahkan tangan seperti dalam 1Raj.8:22,38,54?

(J-2) AYAT-AYAT dari 1Raj.8 yang disebutkan tidak mengajar tentang bagaimana sikap berdoa tetapi menunjukkan sikap doa seorang raja (Salomo) yang memimpin ibadat didepan mezbah bakaran korban. Dalam konsep Perjanjian Lama, Tuhan ada di surga di atas dan umat di bawah sehingga dapat dimaklumi kalau mereka menengadahkan tangan kepada yang di atas, sedangkan dalam konsep Perjanjian Baru, Allah ada di dalam kita (1Kor.6:19-20), kerajaan Allah ada di antara kita, sehingga berdoa bukan menuju arah atas tetapi berkonsentrasi agar terjadi pertemuan dengan Tuhan yang di surga dan yang mendiami kita. Kita perlu menyadari bahwa doa Salomo (PL) adalah doa berdiri dalam memimpin upacara, bandingkan hal ini dimana dalam (PB) banyak disebut mengenai doa dengan berlutut.

(T-3) BINGUNG DENGAN SIKAP DOA.
T
erus terang hal sikap berdoa membuat bingung dan sering mengganggu konsentrasi setiap kali saya berdoa di rumah, sampai dengan sekarang dalam Persekutuan Doa di kantor kami kalau saya perhatikan jemaat anggota persekutuan cara berdoanya jadi macam-macam ada yang menengadahkan tangan ada yang seperti biasa. Mohon YABINA bisa memberikan penjelasan mengenai hal dimaksud kalau bisa dari sisi sejarah misalnya bagaimana sikap doa jemaat mula-mula dan juga didukung dengan ayat-ayat dalam Alkitab tentu.

(J-3) BERDOA bisa menurut kebiasaan kita tanpa harus memilih salah satu sebagai yang benar dan yang lain salah. Kalau seseorang menekankan doa sebagai benar dari sikap doanya, jelas itu keliru. Waktu Yesus di salib, ia tidak bisa berdoa dengan menengadahkan tangan, demikian juga dengan penjahat disampingnya. Yesus di taman Getsemane berdoa dengan berlutut/sujud/merebahkan diri ke tanah (Lukas 22:41; Matius 26:39; Markus 14:35), Yesus tentu dalam sikap demikian tidak menengadahkan tangan bukan? Kelihatannya, Yesus berdoa seperti lukisan ‘Tangan Berdoa’ yang sering kita lihat, yang dibelakangnya menunjukkan motivasi doa yang indah yang menghasilkan jawaban Tuhan yang berkuasa atas hidup pendoa. Janganlah kita terpengaruh oleh ajaran yang ingin membuat Taurat baru bagi umat Kristen seperti dengan mengajarkan sikap doa yang barus begini atau begitu.

(T-4) PERJAMUAN KUDUS.
Selama ini saya mengikuti ibadah di GPIB atau GKI yang memiliki prosesi ibadah yang kurang lebih hampir sama, tetapi ada saat-saat dimana saya juga mengikuti ibadah penyegaran iman di Tiberias. Di
gereja Tiberias perjamuan kudus bisa diadakan kapan saja, sedangkan di gereja2 seperti GPIB perjamuan kudus dilakukan hanya 4 kali dalam setahun, yang jadi pertanyaan saya apa yang mendasari pelaksanaan perjamuan kudus dan siapa saja yang berhak memimpin perjamuan kudus tersebut.

(J-4) TIDAK ada aturan pasti mengenai beberapa kali diadakan Perjamuan Kudus sebab yang penting bukan berapa kalinya, yang ada adalah kesepakatan persidangan para pimpinan gereja dan perjamuan kudus dipimpin oleh seorang pendeta dibantu majelis jemaat. Di GKI & GPIB, perjamuan kudus diadakan 4 kali setahun dan hanya bersifat lambang agar situasinya lebih khusus. Perjamuan Kudus di Tiberias berbeda konsepnya dengan di GPIB atau GKI sebab sudah diberi kandungan magis dimana roti dan anggur dianggap benar-benar tubuh dan darah Yesus (seperti konsep Ekaristi Roma Katolik) dan dipercaya memiliki kekuatan magis yang menyembuhkan. Alkitab menyebut perjamuan kudus adalah kenangan untuk memperingati kematian Tuhan (1 Korintus 11:24-25). Kalau Yesus berkata ‘Inilah tubuhku  ... inilah darahku’ (Matius 26:26-28), itu tidak berarti bahwa yang diminum itu tubuh dan darah Yesus, sebab waktu mengucapkan itu, Yesus memegang roti dan anggur yang dianggap sebagai lambang tubuh dan darahnya dan bukan dengan cara memotong tubuhnya atau mengiris telunjuknya agar darahnya mengucur ke cawan perjamuan.

(T-5) NUBUATAN.
Saya ingin menanyakan mengenai karunia2 seperti bernubuat dan menyembuhkan orang sakit. Bagimanakah kita BERSIKAP terhadap orang2 dengan karunia2 tersebut diatas agar kita tahu bahwa karunia yang mereka miliki adalah benar dan berasal dari Allah, terkhusus buat mereka yang mempunyai karunia nubuatan, bagaimana kita menyikapi nubuatan, maksud saya disaat mereka bernubuat untuk suatu hal yang akan terjadi diwaktu yg akan datang bagaimana seharusnya kita bersikap dengan nubuatan tersebut?

(J-5) MEMANG saat ini karunia-karunia demikian masih ada dikaruniakan kepada hamba-hamba Tuhan tertentu, namun di kalangan Kharismatik banyak sekali pemalsuannya. Karunia kesembuhan yang benar adalah karunia yang memohon kesembuhan kepada Allah dan menyerahkan hasilnya kepada kuasa Allah, yaitu apakah Allah menyembuhkan atau tidak adalah di dalam kuasa Allah. Rasul Paulus sendiri sebagai tokoh iman berdoa tiga kali untuk penyakitnya (Galatia 4:13) dan ia tidak disembuhkan (2 Korintus 12:7-10) agar ‘kuasa Tuhan makin sempurna). Karunia kesembuhan yang palsu adalah mengkaitkan kesembuhan dengan iman, yaitu beriman pasti sembuh dan tidak sembuh berarti iman kita kurang atau tidak beriman dsb.nya. Karunia nubuatan juga sama, namun belakangan ini kita melihat nubuatan-nubuatan umumnya palsu, lihat saja nubuatan Akhir Zaman dan nubuatan tentang PDS dsb.nya. Ketika berkampanye untuk PDS, Pendeta Pariaji dari Tiberias mengatakan bahwa ketika ia berada di Amerika ia melihat visiun dan menubuatkan bahwa Royandi Hutasoit akan menjadi RI-1. Kenyataannya semuanya bohong, pemberi nubuatankah yang salah atau bahwa itu nubuatan palsu? Nasehat kami, hindarilah pengaruh ibadat yang lebih menekankan hal-hal demikian daripada firman Tuhan sendiri yang sudah lengkap dikaruniakan kepada kita.

(T-6) I-KAN-UNTUK-YBA.
Saya masih sering menerima
artikel dari
i-kan-untuk-yba@xc.org atau dari yba@melsa.net.id secara berulang-ulang yang dikirim kepada saya.
Apa karena ulah Virus ?

(J-6) SETELAH serangan virus Mydoom pada akhir Desember 2003, pada awal Januari 2004 milis i-kan-untuk-yba@xc.org ditutup dan diganti dengan Cyber-Pulpit@yabina.org, demikian juga server @melsa.net.id sudah tidak dipakai lagi dan sekarang YABINA menggunakan server di USA untuk @yabina.org. Kalau ada artikel atau email masuk berulang-ulang, itu kerjaan virus/worm my doom atau lainnya yang memang mencuri file milis dan mengirimkan email secara acak. Harap kalau menerima seperti itu di‘delete’ saja dan tidak dibuka. YABINA sendiri sering menerima junk-mail semacam itu  yang mengataskan ...@melsa.net.id; ...@xc.org; bahkan …@yabina.org dengan menggunakan berbagai nama initial (…).

Kiranya diskusi ringkas ini membuat kita lebih berhati-hati dalam menerima kotbah-kotbah yang menekankan sikap doa, nubuatan maupun kesembuhan, dan menerima junk mail yang tidak bermanfaat.  

Salam kasih dari Redaksi YABINA ministry

redaksi@yabina.org & www.yabina.org


Form untuk mengirim pertanyaan