Ruang Tanya Jawab - Desember 2004 

Form untuk mengirim pertanyaan


SATU ALLAH & TRITUNGGAL

Beberapa pertanyaan yang diterima dalam sebulan terakhir ini didiskusikan sebagai berikut:

(Tanya–1)
Kalau Allahnya sama sekalipun pengajarannya tidak sama, bukankah ada juga keselamatan dalam agama Islam?

(Jawab–1)
Dalam ranah histori, Agama Yahudi, Kristen, dan Islam, mengarahkan penyembahan mereka pada El/Allah yang sama, namun dalam ranah dogmatik/aqidah, pengajaran masing-masing (termasuk soal keselamatan) berbeda tergantung kepercayaan mereka yang didasarkan Kitab Suci (Tenakh/PL+PB/Al-Quran) yang mereka percayai masing-masing sebagai wahyu. Yang menjadi masalah adalah apakah ketiga wahyu yang dipercayai oleh masing-masing itu sama berasal dari Allah yang sama itu. Menurut orang Yahudi, PB dan Alquran bukan wahyu Allah, dan menurut Kristen Al-Quran bukan wahyu Allah. Menurut Islam, PL+PB adalah wahyu Allah seperti dalam kutipan berikut:

"Kami telah beriman kepada Allah dan (Kitab) yang diturunkan kepada kami dan apa2 yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak2nya, (begitu juga kepada kitab) yang diturunkan kepada Musa dan 'Isa, dan apa-apa yang diturunkan kepada nabi2 dari Tuhan mereka, tiadalah kami perbedakan seorang juga diantara mereka itu dan kami patuh kepada Allah". (Mahmud Yunus, Tafsir Quran Karim, QS.2:136).

Namun, Islam menganggap bahwa baik PL maupun PB sudah dipalsukan sehingga diragukan kebenarannya. Dalam hal ini, tentu kita belum bisa bertanya kepada El/Allah mengenai mana wahyu yang benar-benar berasal dari-Nya. Dalam hal keselamatan, berdasarkan Al-Quran, orang Islam percaya bahwa hanya mereka yang diselamatkan, yaitu yang mengaku dua kalimat syahadat: ‘Tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad rasul Allah.’ Bagi umat Kristen tentu ‘hanya ada satu jalan keselamatan yaitu melalui ‘Tuhan Yesus Kristus’ (Yoh.3:16).

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh.3:16).

Baik agama Yahudi maupun Islam tidak mempercayai Yesus sebagai Anak Allah yang dikaruniakan itu, karena itu adalah tugas umat Kristen bersaksi kepada para penganut agama Yahudi maupun Islam mengenai Yesus sebagai Anak Allah yang adalah ‘Tuhan dan Juruselamat manusia.’

(T–2)
Kalau Allahnya sama sekalipun pengajarannya tidak sama, bukankah tidak salahnya kalau kita beribadat hari Minggu di gereja, hari Jumat di Mesjid, dan hari Sabtu di Sinagoge?

(J–2)  
Secara teoritis dan pribadi, bagi umat Kristen tidak salahnya kalau ia misalnya berdoa di Sinagoge atau Mesjid sekedar sebagai tempat, karena umat Kristen bisa berdoa dimana-mana, namun kalau untuk beribadat tentu tidak benar, karena dalam ibadat kita mengikuti ritual pengajaran/aqidah yang kita tidak percayai sebagai wahyu El/Allah. Namun, sebagai pengamat, tanpa mengikuti ritualnya, tidak ada salahnya kalau sekali waktu umat Kristen mengamati ibadat orang Yahudi dan Islam di Sinagoge maupun Mesjid untuk memperkaya khasanah perbandingan agamanya.

(T–3)
Mengenai Allah Tritunggal, bagaimana kalau dikatakan bahwa ajaran itu dipengaruhi ajaran Tritheis (Brahma-Syiwa-Wisnu) dalam agama Hindu mengingat Hinduisme sudah ada jauh sebelum Yudaisme?
  

(J–3)
Memang harus diakui bahwa sejarah agama Hindu (juga agama Mesir dan Babel) sudah terlihat jejaknya satu milenium sebelum kita melihat jejak agama Yudaisme, namun Yudaisme tidak mempercayai kepercayaan yang bermula dari Yudaisme melainkan dimulai dari penciptaan alam semesta dan penciptaan manusia. Menurut kepercayaan ‘evolusi agama,’ dipercaya bahwa agama itu berasal dari perkembangan kepercayaan yang masih primitif (animisme, manisme & magisme) yang kemudian berkembang ke dalam politheisme dan puncaknya monotheisme, dengan asumsi demikian, dipercayai bahwa agama Hindu lebih menunjukkan tahap-tahap awal dari perkembangan agama sedangkan Yudaisme tahap lebih lanjut. Evolusi agama banyak kelemahannya karena kita melihat bahwa perkembangan agama tidak harus berasal dari yang primitip kemudian ke yang modern, soalnya penelitian agama-agama menemukan bahwa dalam agama yang disebut primitip pun, jejak-jejak monotheisme juga ada, sedangkan dalam manusia modern sekarang ada kegairahan kembali ke agama animisme terutama mistik (monisme). Dalam sejarah agama Israel kita dapat melihat bahwa Yudaisme sekalipun mempercayai El/Yahweh yang monotheis, dalam praktek umat Israel sering terpengaruh agama-agama sekeliling baik dari Kanaan, Mesir maupun Babel. Kita dapat melihat umat Israel sering terpengaruh berhala seperti Baal maupun Anak lembu (Kel.32:1-6;1Raj.12:28). Kelihatannya, agama-agama sekeliling Mesopotamia masih memiliki kenangan akan ‘Tuhan’ sumber yang sama di Mesopotamia pada awal sejarah, dan kalau dalam agama-agama lain Wahyu Allah terputus atau tidak berlanjut dengan wahyu baru, umat Yahudi & Kristen percaya bahwa Tuhan El/Allah memelihara wahyunya terus dan umat Kristen mempercayai penggenapannya dalam kehadiran Immanuel, Anak Manusia.

(T–4)
Sehubungan dengan nama ‘Yesus’, bukankah Yoh.17:12 menyebut bahwa nama Bapa itu ‘Yesus’ karena Nama itulah yang diberikan kepada anak-Nya?

(J–4)
Ayat Yoh.17:12 tidak menyebut bahwa ‘nama’ disitu adalah ‘Yesus,’ jadi ayat itu harus dimengerti secata kontekstual. Yang benar adalah nama Bapa di surga diberikan kepada Yesus. Siapakah nama Bapa di sorga? Bila kita melihat PL, nama itu adalah El (dialek Ibrani, dalam dialek Arab = Allah) dan Yahweh. Bandingkan El Elohe Yisrael (Kej.33:20) dengan Yahweh Elohe Yisrael (Yos.8:30). Kedua nama El/Yahweh itulah yang diberikan kepada Yesus, sebab Yesus dinamakan sesuai kedua nama Bapa di sorga:

“Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umatnya dari dosa. . . . Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel.” (Mat.1:21,23).

Yesus dalam bahasa Ibrani disebut Yoshua (Yehushua, yang artinya Yahweh penyelamat), sedangkan Imanuel berarti ‘El yang menyertai kita.’ Orang Yahudi marah kepada Yesus bukan karena namanya Yesus, karena nama itu sudah banyak digunakan di Israel, tetapi karena Ia menyebut dirinya ‘Anak Allah’ (Yoh.10:36). Ayat-ayat itu menunjukkan ayat Yohanes lainnya bahwa ‘Aku dan Bapa itu satu adanya.’ (Yoh.17:21-23), jadi Yesus identik dengan El/Yahweh, karena itu pengajaran kelompok ‘Yesus’ (Yahweh penyelamat) tidak konsekwen karena di satu sisi menyebut nama Yesus sebagai nama Tuhan satu-satunya tetapi menganggap nama El/Yahweh lebih rendah dari Yesus dan nama berhala import (lihat kutipan dari sumber kelompok ‘Yesus’ dalam tulisan saya).

Yesus memerintahkan murid-murid-Nya membaptiskan dalam nama ‘Bapa, Anak dan Roh Kudus.’ (Mat.28:19). Dan dalam kitab Wahyu yang juga ditulis Yohanes berkali-kali nama Bapa muncul sebagai ‘Allah yang Mahakuasa’ (El Shadday). Karena itu Alkitab mengajarkan bahwa Allah itu Esa dengan tiga penyataan (= Tritunggal). Kita harus mengartikan ayat berdasarkan isi Alkitab sebagai kesatuan dan bukannya sebaliknya, yaitu satu ayat menentukan keseluruhan Alkitab.

(T–5)
Apakah dapat dikatakan bahwa selama seseorang diselamatkan dalam nama Yesus, sekalipun ia dibaptiskan dalam nama ‘Yesus’ saja ataukah ‘nama Bapa Anak dan Roh Kudus’ ia diselamatkan bukan?

(J–5)
Seseorang diselamatkan bukan karena ia dibaptis dalam nama ‘Yesus’ atau dalam nama ‘Bapa, Anak dan Roh Kudus,’ tetapi karena Iman (sola Fidei) kepada, dan anugerah (sola Gratia) Tuhan Yesus seperti yang dinyatakan dalam Alkitab (sola Scriptura). Jadi janganlah kita terpengaruh cara baptisan atau atas nama apa baptisan itu, tetapi hendaklah kita beriman kepada Tuhan Yesus dan mentaati kehendak-Nya termasuk mengikuti perintah ‘Amanat Agung Penginjilan’ yang diucapkan Tuhan Yesus Kristus (Mat.28:19-20). Bukan karena menyebut rumus baptisan dalam nama ‘Bapa, Anak dan Rohkudus’ seseorang diselamatkan, tetapi kita diselamatkan karena Tuhan Yesus sendiri, namun kalau kita telah menerima keselamatan, perintah Tuhan juga mengatakan agar kita mengikuti segala sesuatu yang diperintahkan-Nya termasuk ikutilah rumus baptisan yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus Kristus, yaitu dalam nama ‘Bapa, Anak dan Roh  Kudus.’

(T–6)
Dalam hubungan Baptisan dengan Allah Tritunggal, bagaimana sebaiknya rumus pembaptisan diucapkan, apakah dalam nama ‘Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus’ ataukah ‘Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus’?

(J–6)
Menurut Alkitab, Tuhan menyuruh kita membaptis dalam nama ‘Bapa, Anak dan Roh Kudus.’ Maka kalau kita membaptiskan dalam nama ‘Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus’ masih tepat. Dalam Alkitab tidak pernah disebut Yesus sebagai ‘Allah Anak’ sekalipun Yesus adalah Anak Allah, demikian juga Roh Kudus tidak pernah disebut sebagai ‘Allah Roh Kudus’ sekalipun kita mempercayai Roh Kudus sebagai bagian dari ketritunggalan Allah. Allah itu Esa namun hadir dalam tiga penyataan dan jabatan yaitu Bapa, Anak dan Roh Kudus. Sebutan dalam nama ‘Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus’ dapat memberi kesan bahwa  Allah itu memang tiga, padahal kepercayaan kristen menyebut ‘Allah itu Esa’ yang menyatakan diri dalam ketritunggalan. Karena itu, sebaiknya rumus pembaptisan menggunakan rumus yang Tuhan Yesus sendiri perintahkan, yaitu:

“Karena itu pergilah, jadikan semua bangsa murid-Ku dan baptiskan mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat.28:19-20).

Kiranya diskusi kali ini menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan oleh peserta.

Salam kasih dari Redaksi YABINA ministry

redaksi@yabina.org & www.yabina.org


Form untuk mengirim pertanyaan