Ruang Tanya Jawab - Agustus 2004 

Form untuk mengirim pertanyaan


SEKITAR TRITUNGGAL
 

Seri artikel soal dialog Tritunggal mendapat beberapa komentar yang datang dari para pengikut Saksi-Saksi Yehuwa (SSY) yang didiskusikan sebagai berikut:

(Tanya-1) DOKTRIN tritunggal berasal dari sumber luar yang tidak ada relevansinya dengan Kitab Suci Yahudi dan Kristen. Tidak ada bukti bahwa misteri Tritunggal terdapat dalam Alkitab.

(Jawab-1) BILA kita mempelajari Alkitab apa adanya, konsep ke’tiga’an Allah dan ke’esa’an-Nya cukup banyak, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Kej.1:1-2 dimulai dengan penyataan ketiga oknum Allah dalam penciptaan dimana ‘Elohim’ (jamak, Kej.1:26) terlibat dalam penciptaan pada mulanya (arche, band.Yoh.1:1). Baik Bapa maupun Anak disebutkan sebagai ‘arche’ dan ‘telos’ (yang awal dan yang terakhir, Why.1:17-18;22:13; band.1:8;21:6), dan juga ‘alfa’ dan ‘omega’ (huruf pertama dan terakhir dalam bahasa Yunani, Why.1:7-8;2:8;21:6;22:13). Dalam PL ketritunggalan itu bisa kita lihat dalam Hk.13 dan Yes.63. Dalam Hk.13 Oknum Allah yang kedua disebut sebagai ‘Malak Yahweh’ (Malak Yahweh di sini beda dengan malaekat suruhan Allah karena Malak Yahweh berfirman atas Nama-Nya sendiri, lihat juga.Kej.16,18). Dalam PB ketritunggalan itu terlihat dalam Mat.28:19 dan salam berkat Paulus (2Kor.13:13), Petrus (1Ptr.1:2), dan Yohanes (Why.1:4-5). Banyak ayat-ayat lain yang juga menunjuk pada ketritunggalan yang esa. Karena itu, komentar yang menyebutkan bahwa dalam Alkitab PL & PB tidak ada petunjuk tentang Tritunggal lebih didasarkan penolakan dan ketidak percayaan dari pada pengetahuan yang benar tentang Alkitab.

 

(T-2) Sejarah doktrin tritunggal telah mencampurkan banyak ide yang diambil dari filosofi kafir dan dimasukkan ke dalam kepercayaan gereja beberapa dekade setelah kematian rasul, bapak-bapak gereja yang telah dipengaruhi dengan filsafat Yunani (terutama Platonisme), Klemen dari Alexandria dan Origen menjadikan Platonisme sebagai dasar filsafat Kristen.

(J-2) Bila kita mempelajari sejarah agama-agama, konsep ke’tiga’an dalam berbagai bentuk bisa dijumpai di berbagai budaya, namun bila disimpulkan bahwa ketritunggalan itu berasal dari pengaruh filsafat Plato dan mitologi Babel, rasanya kita terlalu besar menyanjung Plato tetapi merendahkan Alkitab yang diwahyukan. Dalam konsep Platonic dan Gnostik, logos dianggap lebih rendah dari allah sedangkan dalam konsep mitologi Babel disebutkan mengenai adanya allah yang banyak dan penyebaran ke selatan dalam agama Hindu dikenal sebagai politheisme yang menekankan tiga dewa. Bila kita menyadari bahwa pusat budaya berasal dari taman Eden di lembah Mesopotamia, apakah tidak mungkin bahwa ‘Allah yang Tiga dan Esa’ secara samar-samar konsepnya berkembang di kalangan budaya India, Babel, Mesir dan Yunani, dan dalam keturunan mereka konsep itu makin kabur,  sedangkan melalui para patriakh dan khususnya Abraham-Ishak-Yakub, Wahyu Allah tentang diri-Nya dipelihara oleh Roh Kudus sendiri dan diperjelas dalam diri Yesus (Yahweh Penyelamat) yang adalah Allah (Yes.9:5) dan Imanuel (Yes.7:14;Mat 1:23; Allah menyertai kita) itu?

 

(T-3) Pengaruh filsafat Yunani itulah yang kemudian menjadi dasar dirumuskannya ajaran Tritunggal/Trinitas dalam agama Kristen seperti yang diserap oleh Klemen dan muridnya Origen.

(J-3) Bila kita mempelajari sejarah gereja, kenyataan sebaliknyalah yang kita lihat. Memang Klemen dan Origen muridnya terpengaruh Platonisme dan merendahkan Logos, namun teologi mereka banyak ditolak tokoh-tokoh gereja yang ingin membebaskan ajaran gereja dari pengaruh filsafat Yunani. Pada tahun 362 setengah pengikut Origen yang tidak menyetujui pandangan gurunya mengenai perendahan logos dan pemisahan logos dari Allah bergabung dengan Athanasius, dan pada tahun 399 ajaran Origen ditolak gereja. Yang jelas seorang penatua di Mesir bernama Arius (abad-4) terpengaruh konsep Plato dan Gnostik menjadikan Yesus lebih rendah daripada Bapa. Konsep anti-Trinitarian Arius ini kemudian diteruskan dalam pengajaran aliran Unitarian, Christadelphian dan Saksi-Saksi Yehuwa. Konsep Yesus yang lebih rendah dari Gnostik dan Arius inilah yang mendorong Uskup Aleksander dan Penatua Athanasius menolaknya dan kemudian diperkuat oleh mayoritas yang hadir dalam Konsili-konsili yang membahasnya. Konsep tritunggal yang dipercaya dalam kekristenan berbeda dengan konsep Plato, dan menarik sekali untuk diamati bahwa para ahli Torat dan Farisi adalah ahli-ahli kitab yang juga menguasai pengertian filsafat Yunani, mengapa mereka tidak langsung saja mengatakan Yesus terpengaruh filsafat Plato bila itu benar daripada mereka marah dan ingin membunuh ‘Yesus yang mengaku sebagai Anak Allah’ itu?

 

(T-4) Bukankah Alkitab menyebut Yesus lebih rendah dari Bapa, dan Yesus berkata “Bapa lebih besar daripada Aku” (Yoh.14:28), bahwa Ia “satu-satunya Allah yang benar” (Yoh.17:3, bandingkan dengan ‘echad’ Ul.6:4), dan “Allah adalah satu” (Gal.3:20, band.1Kor.8:4-6). Karena itu bagaimana ‘Esa/satu’ bisa disebut ‘tiga’?

(J-4) Bila kita mempelajari ketiga oknum Allah, hanya oknum Yesus yang menjalankan tiga fungsi, yaitu: (1) ‘pre-existence Christ’ yang bersama Bapa dalam penciptaan dan pemeliharaan umat sebelum lahir ke bumi (termasuk sama-sama dipermuliakan sebelum penciptaan (Yoh.17:1,5); (2) ‘incarnate Christ’ ketika berfungsi sebagai manusia yang direndahkan dari ke’ilahi’annya dimana Ia dalam kemanusiannya dibuat lebih rendah dari Allah (Flp.2:5-11) dan dibuat lebih rendah dari malaekat untuk seketika lamanya (Ibr.2:7-9). Namun, sekalipun dalam perendahan Ia tetap disebut sebagai Allah (Flp.2:6;Ibr.1:3,8) dan Tuhan (Flp.2:11;Yoh.20:28); dan (3) ‘glorified Christ’ dimana Yesus dikembalikan pada kemuliaan-Nya semula (sama-sama dipermuliakan seperti sebelum penciptaan - Yoh.17:1,5)). Mengenai konsep ke’esa’an Allah memang sesuatu yang tidak mungkin dimengerti secara akal manusia yang terbatas. Yesus berkata: “kita adalah satu” dan juga “Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa” (Yoh.17:21-22). Memang dalam 1Kor.8:4-6 disebut “satu Allah saja, yaitu Bapa dan “satu Tuhan saja Yesus Kristus” seakan-akan keduanya dibedakan, tetapi perlu diperhatikan keduanya menunjukkan peran ke”esa’an dalam penciptaan, Allah bapa disebut: “dari pada-Nya berasal segala sesuatu” dan Tuhan Yesus disebut: “dari pada-Nya berasal segala sesuatu telah dijadikan” (band.Yoh.1:1). Bahkan, disebutkan pula “karena Dia kita hidup,” padahal dalam Kej.1:26, disebut dari Elohim (Allah yang jamak) lah terjadi manusia yang hidup.

 

(T-5) Meskipun Yesus sering disebut Anak Allah dalam Alkitab, tidak seorang pun pada abad pertama pernah menganggap dia sebagai Allah Anak.

(J-5) Bila kita benar-benar mempelajari Alkitab dengan hati terbuka, banyak data Alkitab menyebut Yesus adalah Allah secara langsung, misalnya dalam Yes.9:5;Yoh.1:1;20:28;Flp.2:6;Ibr.1:8-9. Karena itu, bila kita beriman akan otoritas Alkitab sebagai firman Allah akan menghasilkan kepercayaan bahwa Yesus adalah Allah. Ketiadaan iman jelas akan menolak Yesus sebagai Tuhan dan Allah dan akan terus berusaha merendahkan Yesus dari tahtanya bersama Bapa. Beberapa usaha yang dilakukan SSY dalam merendahkan Yesus adalah a.l. dengan cara:

(1)   menambahi dengan kata ‘suatu’ didepan Allah yang dikaitkan dengan Yesus (Yoh.1:1);

(2)   kalau jelas disebut Allah (Yes.9:6) disebut benar Allah tetapi bukan ‘yang mahakuasa’;

(3)   semua nama ‘kurios’ didepan Yesus diterjemahkan ‘Tuan/tuan’ tetapi bila kata yang sama didepan Allah Bapa selalu diterjemahkan dengan kata ‘Yehuwa.’ Suatu manipulasi terjemahan.

 

(T-6) Yesus adalah ciptaan jadi lebih rendah dari Allah. Bukankah Kol.1:15-17 dan Why.3:14 (Ams.8:22) menyebutkan bahwa Yesus adalah ciptaan pertama, dan melaluinya diciptakan yang lain?

(J-6) Ayat-ayat Kol.1:15-17 tidak menyebut Yesus sebagai ciptaan, tafsiran itu memanfaatkan kata “sulung” yang seakan-akan yang pertama dari deretan ciptaan, apalagi ayat ini terjemahannya dimanipulasikan oleh SSY dengan memasukkan kata ‘yang lain’ sesudah kata ‘segala perkara’, bahkan sampai 4 kali, ini untuk mengarahkan arti bahwa Yesus adalah yang pertama dari yang diciptakan. Konteks ayat itu sendiri jelas bahwa “Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.”  Ayat-ayat Why.3:14 juga tidak menyebutkan bahwa Yesus ciptaan pertama, sebab kata Yunani yang dipakai adalah ‘arche’ yang dalam perbendaharaan kata Yohanes artinya ‘sumber dari ciptaan’atau ‘permulaan dari segala sesuatu’ (Yoh.1:1, band. dalam Septuaginta Kej.1:1 juga digunakan istilah ‘arche’ yang diterjemahkan ‘pada mulanya.’). Ams.8:22 tidak menunjuk kepada Yesus melainkan menunjuk ‘hikmat.’ Hikmat dalam Amsal disebut dengan gender perempuan, jadi jelas bukan menunjuk kepada Yesus. Kalau Alkitab LAI mengkaitkan (sebagai catatan kaki) ayat Ams.8:22 dengan Why.3:14, yang dimaksudkan adalah bahwa sebelum ada ciptaan kedua keberadaan Yesus dan Hikmat sudah ada.

 

(T-7) Menurut Paulus disebut “Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah” (1Kor.6:19). Roh Kudus bisa diperoleh, sedangkan bagaimana dengan ROH ALLAH? apakah bisa kita memilikinya, atau ROH YESUS apakah ada dalam tubuh kita? karena ROH KUDUS bukan ALLAH maka kita bisa memilikinya atas ijin ALLAH tapi ROH ALLAH dan ROH YESUS belum pernah ada yang memilikinya karena kedua tersebut adalah PRIBADI bukan suatu tenaga yang dapat dimiliki. Jika ROH KUDUS sama dengan ROH ALLAH tentu akan sering di sebutkan di ALKITAB.

(J-7) Argumentasi di atas terlalu mengada-ada. Benar disebut bahwa Paulus menyebut “Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah” (1Kor.6:19), tapi Paulus juga menyebut “Roh Allah diam di dalam kamu” (1Kor.3:16), ini menunjuk hal yang sama pada potongan ayat 1Kor.6:19 yang didahului kalimat: “Roh Kudus yang diam di dalam kamu.” Paulus juga menunjuk Roh yang diam dan berkuasa atas manusia beriman sebagai Roh Yesus (Kis.16:7;Flp.1:19). Jadi, menurut Paulus, Roh Kudus = Roh Allah = Roh Yesus, maka kalau Roh Allah dan Roh Yesus adalah pribadi mengapa kita menolak bahwa Roh Kudus yang merupakan nama lain dari-Nya adalah pribadi?

 

(T-8) Jika ROH KUDUS adalah PRIBADI tentu sangat penting untuk diperlihatkan dalam penglihatan Stefanus dan ini bukan secara nyata tapi ini adalah penglihatan tentunya bila ROH KUDUS adalah PRIBADI tentunya sangat penting diperlihatkan untuk merupakan kesatuan dari keALLAH-an, tapi memang ROH KUDUS bukan sebagai PRIBADI tentunya tidak mungkin diperlihatkan oleh ALLAH).

(J-8) Bila kita mempelajari ayat penglihatan Stefanus (Kis.7:56), di situ disebut bahwa Stefanus melihat “Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.“ Ayat sebelumnya menyebut “Stefanus penuh dengan Roh Kudus” (Kis.7:55), sebagai pribadi Roh tentu Roh Kudus tidak kelihatan. Stefanus juga tidak melihat wajah Allah Bapa, soalnya Allah Bapa tidak pernah dilihat manusia (Yoh.1:18), mungkin hanya gambaran cahaya yang menyilaukan yang dilihat Stafanus. Yang jelas, ayat Kis.7:55-56 menunjukkan kehadiran tiga oknum Allah.

Kiranya diskusi ini memperlengkapi pengetahuan kita mengenai Allah Tritunggal dan meneguhkan iman percaya kita.

Salam kasih dari Redaksi YABINA ministry

redaksi@yabina.org & www.yabina.org


Form untuk mengirim pertanyaan