Ruang Tanya Jawab - Juni  2001 

Form untuk mengirim pertanyaan


Sekitar Pentakosta


Artikel Aktual berjudul 'Hari Pentakosta' memperoleh beberapa tanggapan dan pertanyaan (lihat Artikel 016: Hari Pentakosta). Berikut diskusi mengenai pertanyaan yang masuk 'Sekitar Pentakosta':

( Tanya-1) Bukankah Alkitab dengan jelas menunjukkan bahwa berbahasa roh/lidah tidak bisa dilepaskan dengan baptisan Roh Kudus? Sedangkan karunia lidah adalah tanda mereka yang dibaptiskan Roh Kudus seperti dalam kasus Petrus (Kis.8:15-17/10:44-46) dan Paulus? (Kis.19:1-7).

  (Jawab-1) Bila kita mempelajari Alkitab dengan seksama, gejala itu dalam Kisah Para Rasul hanya terjadi pada kasus Kis.2,8,10 dan 19. Lebih banyak kasus pertobatan dan pembaptisan lain yang tidak disertai gejala itu. Dari kenyataan ini kita dapat melihat bahwa Kis.2,8,10 dan 19 adalah peristiwa khusus dimana gejala itu timbul dan lebih dalam bisa diamati yaitu ketika Roh Kudus diperkenalan pada generasi baru yaitu Yahudi (Kis.2), Samaria (Kis.8), Orang Asing (Kis.10) dan murid Yohanes (Kis.19 yang baru mengenal baptisan air saja) terlihatlah gejala itu, jadi gejala itu bersifat khusus dan lebih menunjukkan sebagai upacara pembaptisan pengutusan ketika suatu lingkaran pelayanan baru dimasuki. Janganlah kita mengambil kesimpulan umum dari beberapa contoh khusus.

(T-2) Kalau orang menerima Roh Kudus (saat Baptisan Roh) kan harus ada 'tanda'nya, yaitu berbahasa roh, kalau tidak, tidak ada kejelasan sama sekali setelah seseorang menerima Roh Kudus.

(J-2) Terlalu banyak kasus dalam Alkitab dimana seseorang telah lahir baru dan hidup dan berbuah dalam Roh Kudus namun tidak menunjukkan gejala berbahasa roh, sebaliknya banyak sekali orang yang bisa 'berbahasa lidah' (yang dianggap bahasa roh) hidup dalam kenajisan, bahkan orang-orang Hindu dan kebatinan biasa juga mempraktekkan 'bahasa lidah' juga. Siapakah sebenarnya yang telah menerima (dibaptiskan) Roh Kudus? Janganlah kita membatasi karya Allah dengan keterbatasan pengertian manusia, sebab kita bisa salah bahwa seseorang yang benar-benar telah dibaptiskan oleh Roh Kudus sendiri namun tidak bisa berbahasa roh dianggap belum mempunyai Roh Kudus, sedangkan orang lain yang berbahasa lidah dianggap telah dibaptiskan oleh Roh Kudus padahal kenyataannya Tuhan sendiri tidak memberinya, kenyataan ini terlihat dari fakta "dari buahnya kamu mengenal pohonnya." Dalam penelitian yang dilakukan Christianity Today pada kebaktian-kebaktian Pentakosta/Kharismatik dijumpai kenyataan bahwa sebagian besar jemaat demikian sekalipun mengaku pernah memperoleh karunia berbahasa roh, namun sekarang sudah tidak bisa lagi berdoa dengan karunia lidah. Apakah ini berarti bahwa Roh Kudus telah meninggalkan mereka?

(T-3) Menurut saya, Toronto Blessing menunjukkan manifestasi yang benar-benar berasal dari Roh Kudus sebab kebaktian itu banyak menyegarkan orang Kristen dan John Arnott sendiri memberikan kesaksian yang luar biasa dalam pelayanannya.

(J-3) Memang Toronto Blessing di klaim sebagai lawatan Roh Allah, namun mengapa gejala itu hanya sementara (1995-1996) dan sekarang secara sporadis dan insidentil hanya terjadi di beberapa tempat? Apakah Allah sudah malas melawat umatnya? Ataukah umatnya sudah tidak lagi layak untuk dilawat? Banyak penafsiran John Arnott tidak berdasarkan penafsiran Alkitab yang benar (exegese) melainkan mencari-cari ayat-ayat Alkitab untuk mendukung ajaran anehnya (eisegese, seperti soal secondary text). Setelah ibadat Toronto Blessingnya merosot, ia mengajarkan ajaran baru 'Mujizat Gigi Emas' hanya berlandaskan penafsiran harfiah di luar konteks satu ayat Maz.81:11, padahal ayat konteksnya berbicara mengenai pemeliharaan Allah atas Musa dan umat Israel yang keluar dari Mesir dan akan dipenuhi dengan makanan gandum terbaik dengan madu gunung di mulut mereka (Maz.81:17). Bila kita mempelajari kaset video kebaktian di Toronto Airport Vineyard fellowship yang dipimpin John Arnott waktu mempraktekkan Toronto Blessing, kita dapat melihat dengan jelas bahwa banyak orang yang tidak berjatuhan namun langsung didorong agar jatuh, demikian juga ada wanita yang menendang-nendang dengan kakinya kearah sekelompok jemaat (no contact) dan kelompok itu berjatuhan. Inikah karya Roh Kudus atau 'melecehkan' Roh Kudus?

Sekalipun dipromosikan sebagai mendatangkan kesegaran, prakteknya Toronto Blessing lebih banyak membawa kepedihan berupa perpecahan gereja daripada keutuhan gereja. Gereja John Arnott sendiri pecah dari induknya Vineyard, di Semarang gereja yang mempromosikan ajaran ini pecah dan di banyak kota lain perpecahan-perpecahan banyak terjadi, bahkan di Semarang ada juga gereja baptis yang mengundang pembicara Toronto Blessing untuk memimpin kebangunan rohani, hasilnya 8 gereja Baptis di Semarang pecah dan pecahan yang lebih besar kemudian mendirikan gereja dan bernaung di bawah gereja yang pendetanya diundang tadi. (Suara Baptis no.3/2000) Inikah manifestasi roh yang diaku sebagai Roh Kudus?

(T-4) Umat Kristen sangat membutuhkan pencurahan/urapan Roh Kudus agar pelayanannya disertai kuasa kesaksian, tetapi mengapa tidak ada cara khusus dalam memperolehnya?

(J-4) Pencurahan/urapan Roh Kudus adalah urapan yang diberikan oleh Tuhan sendiri kepada umatnya, jadi mengenai cara dan ketikanya adalah urusan Tuhan sendiri, karena itu tidak ada cara lain dalam memperolehnya kecuali menunggu dengan hati yang siap dengan iman yang hidup bukan? Para rasul juga ketika menerima hanya disuruh menunggu, karena itu adalah keliru kalau ada bahasa roh/karunia lidah yang bisa dipelajari atau seseorang didorong-dorong atau ditumpangi kepalanya dengan tangan secara keras agar berjatuhan. Masakan kuasa Roh Kudus (kalau benar Roh Kudus) perlu bantuan penginjil untuk menjatuhkan orang? Di Bandung pernah diadakan seminar 'lawatan roh Allah' yang menggetarkan gedung tempat seminar itu diadakan, namun buku seminar itu separunya diisi sekitar 30 iklan sponsor dan banyak kata-kata pembicaranya penuh kebohongan. Ini menimbulkan kritik untuk "Berhati-hatilah terhadap roh yang bisa menggerakkan tubuh tetapi tidak mengubah hati". Masakah Roh yang KUDUS itu menghasilkan buah-buah kedagingan dan bagaimana panitianya sendiri tidak rela menyumbang dalam merayakan lawatan 'Sang Allah' itu dan tega-teganya memasang promosi barang dagangannya agar menyumbang? (bandingkan dengan Buah Hari Pentakosta dalam Kis.4:32-36).

(T-5) Dalam artikel 'Hari Pentakosta' disebutkan seakan-akan umat non-Pentakosta harus membuka diri kepada karya Roh Kudus karena ini sumbangan besar gerakan Pentakosta dan Kharismatik. Bukankah ini menimbulkan kesimpulan bahwa yang non-Pentakosta belum menerima Roh Kudus.

(J-5) Tidak juga. Kita harus mengakui sumbangan gerakan Pentakosta/Kharismatik dalam mendatangkan angin pembaharuan dibandingkan gereja liberal dan yang telah lesu darah, namun itu tidak berarti bahwa semua praktek Pentakosta/Kharismatik adalah benar, sebab sejarah sudah menunjukkan bahwa banyak juga praktek Pentakosta/Kharismatik yang telah disusupi praktek perdukunan dan okultisme. Menerima Pentakosta/Kharismatik tidak harus berarti menerima praktek yang berbau perdukunan dan okultis di dalamnya, namun menolak praktek perdukunan dan okultisme dalam ibadat Pentakosta/Kharismatik tidak harus menolak hubungan gerakan ini yang baik dengan Roh Kudus.

Berikut ada kutipan yang menunjukkan bahwa sejak awal berdirinya gerakan Pentakosta di Azusa, pendetanya William Seymor sudah membedakan antara praktek Pentakosta yang berasal dari Roh Kudus dan yang berasal dari roh-roh okultis:

"Selama bertahun-tahun di Azusa Street ini hampir setiap hari diadakan kebangunan rohani. Dengan berbagai cara: berteriak, menangis, menari, kesurupan dan sebagainya, para pesertanya berupaya atau membuktikan bahwa mereka telah menerima Baptisan Roh dan karunia 'berbahasa lidah', di samping karunia-karunia lain (penyembuhan ilahi & sebagainya). Akan tetapi tidak sedikit pula di antara pengunjung dan pengamat yang melihat segala yang terjadi itu secara kritis, terutama gejala-gejala dan ungkapan-ungkapan yang emosional dan ekstrim di dalamnya. Lalu diketahuilah bahwa di tengah-tengah massa itu hadir juga kaum spiritualis dan para penganut berbagai aliran kultik, yang memang sudah lama menjamur di sekitar kota itu. Juga sangat terasa pengaruh cara penghayatan dan pengungkapan iman khas Afrika yang sangat spontan dan meledak-ledak. William Seymor sendiri terganggu oleh suasana yang acapkali tak terkendali itu, lalu mengundang Charles Fox Parham untuk 'menertibkan' keadaan itu. Parham datang lalu mengecam segala perilaku yang ia saksikan, yang ia nilai "ekstrim, fanatik, melacurkan kuasa rohani, mengerikan dan di luar akal sehat." Penilaian dan tegurannya itu malah membuat ia 'ditengking' (diusir) oleh kaum hipnotis dan spiritualis yang berlatar belakang Afrika, yang telah mengambil alih penyelenggaraan di sana." (Jan S. Aritonang, Beberapa Aliran Didalam dan Disekitar Gereja, BPK-GM, 1995, hlm.177)

(T-6) Apakah gereja-gereja yang mempraktekkan manifestasi roh seperti berjatuhan, tertawa, kesurupan itu benar-benar mengalami pengurapan dari Roh Kudus sendiri karena mereka membuka diri kepada Roh Kudus?

(J-6) Jawaban nomor 5 sudah menunjukkan bahwa 'membuka diri itu perlu' (lebih baik dari menutup diri) namun kita harus berhati-hati sebab dengan membuka diri bisa juga roh yang tidak diundang juga masuk bukan? Kita harus belajar dari sejarah bahwa memang banyak pelayanan pendeta/penginjil Pentakosta/Kharismatik yang tulus benar berasal dari Tuhan, namun perlu disadari bahwa banyak diantaranya yang penuh sensasi, tamak harta, dan najis sekalipun mengatasnamakan Roh Kudus. Jadi yang diperlukan bukan menerima atau menolak namun andaikan menerimapun kita harus benar-benar memiliki filter firman Tuhan yang kuat dan jangan hanya terpukau dengan kutipan-kutipan ayat firmanTuhan yang dimengerti di luar konteksnya. Dapat dimaklumi mengapa banyak orang akhirnya lebih menolak segala manifestasi yang dipraktekkan mengingat ekses-ekses negatip yang ditimbulkannya.

(T-7) Dalam artikel 'Hari pentakosta' disebutkan bahwa pelayanan membutuhkan Baptisan Roh Kudus agar disertai kuasa kesaksian. Baptisan yang bagaimana lagi yang diperlukan sekarang sedangkan Alkitab menyebut hanya ada satu Baptisan?

  (J-7) Memang Alkitab menyebut hanya ada satu baptisan yaitu baptisan dalam nama 'Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus', namun pelaksananya ada dua, yaitu manusia dengan air dan Tuhan sendiri dengan Roh Kudusnya. Mengenai manusia bisa dilihat secara kasat mata, sedangkan peran Tuhan tidak kasat mata, ada yang sudah lebih dahulu dari baptisan air, ada yang bersamaan (seperti baptisan Yesus) namun bisa juga terjadi sesudahnya, tergantung langkah dan waktu sesuai kehendak Tuhan sendiri. Namun kembali perlu disadari bahwa pengertian ini jangan dicampur-adukkan dengan pengertian seakan-akan baptisan Roh Kudus itu harus menyerupai 'Hari Pentakosta' (Kis.2). Di bagian artikel 'Hari Pentakosta' dan tanya-jawab di atas sudah jelas bahwa Baptisan Pentakosta lebih menunjukkan baptisan pengutusan pelayanan dan bukan dalam kaitan dengan baptisan Roh Kudus dalam proses pertobatan dan iman. Sebelum hari Pentakosta, setelah para Rasul dibaptis dengan air oleh Yohanes Pembaptis, mereka pernah menerima Roh Kudus dari Tuhan.

Kiranya beberapa informasi tambahan dalam bentuk Tanya-Jawab ini melengkapi artikel 'Hari Pentakosta' yang telah beredar.
Amin!

Salam kasih dari Herlianto/YBA.



Catatan
:
Menyambut banyaknya sambutan akan forum diskusi/tanya-jawab YBA tentang masalah teologia maupun umum, sejak Januari 1999 terbuka forum diskusi yang dapat diikuti oleh setiap netter. Dari sekian banyak pertanyaan/tanggapan yang masuk, setiap bulan akan dipilih beberapa pertanyaan/tanggapan yang dianggap penting untuk dirilis secara berselang-seling dengan renungan bulan yang sama. Identitas para netter akan ditulis dengan singkatan tiga huruf disusul dengan kota dimana ia berdomisili. Setiap topik diskusi dapat ditanggapi lagi bila belum terasa cukup. Pertanyaan/tanggapan dikirimkan ke alamat YBA


Form untuk mengirim pertanyaan