Saksi Bagi Kristus Oktober_ 2009



04 - Adventisme
 

 
 

 

 “Kamu tahu, bahwa tidak seorang pun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kami pun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: "tidak ada seorang pun yang dibenarkan" oleh karena melakukan hukum Taurat.” (Gal.2:16)

Adventisme dalam sejarah awalnya, sesuai dengan namanya, merupakan aliran yang menekankan nubuatan tentang kedatangan Yesus ke duakali. William Miller (1782-1849) adalah perintisnya yang tekun mempelajari Alkitab namun lebih tertarik pada nubuatan yang ada dalam kitab Daniel dan Wahyu dan melakukan perhitungan untuk menentukan bilamana hari kiamat akan datang. Di tahun 1831 ia merasa mendapat ilham roh untuk memproklamirkan bahwa kedatangan Yesus keduakali akan digenapi pada tahun 1843, Miller percaya berdasarkan ayat Dan.8:14 tentang 2300 petang dan pagi yang ditafsirkan bahwa massa penantian itu adalah 2300 tahun. Ini dikaitkan dengan Dan.9:24 tentang 70 kali 7 masa (dianggap 490 tahun) yang diakhiri pada tahun 457 SM ketika Ezra membangun kembali Bait Allah. Dari kedua angka itu, diramalkan bahwa Yesus akan datang kembali pada tahun 2300 – 457 SM = 1843 M. Ketika waktu itu datang dan tidak terjadi apa-apa, waktunya diundur menjadi 22 Oktober 1844, namun juga tidak terjadi apa-apa dan membuat banyak pengikut kecewa dan hari itu disebut sebagai ‘hari kekecewaan agung.’ Dalam situasi gejolak era industri dan perang saudara di Amerika kala itu dan setelah masyarakat terpukul oleh depresi ekonomi tahun 1830-an, kotbah tentang Akhir Zaman menarik perhatian banyak orang.

TOKOH PENERUS

Ajaran Miller mengenai Advent tidak berhenti begitu saja, Hiram Edson (1806-1882) salah seorang pengikutnya meneruskan ajaran Miller dan menafsir bahwa pada tahun 1844 Yesus tidak datang ke bumi, tetapi Yesus memasuki Ruang Mahasuci Bait Allah Surgawi. Pengaruh Yudaisme Zionisme yang mulai berkampanye di Amerika Serikat pada abad XIX menanamkan pengaruhnya melalui salah satu pengikut Miller yaitu Joseph Bates (1792-1882). Bates kemudian menekankan kembali syariat Taurat terutama pemeliharaan hari Sabat dan kehidupan yang suci karena tubuh manusia adalah Bait Allah. Ellen Gould White (1827-1915) lah yang kemudian meletakkan dasar organisasi gerakan 7th day Adventism, dimana ia meneruskan ajaran Miller tentang Akhir Zaman, Edson mengenai Ruang Mahasuci surgawi, dan Bates yang menekankan pemeliharaan hari Sabat dan hidup yang suci.

SEVENTHDAY ADVENTIST CHURCH

Dibawah Mrs. White pemeliharaan hari Sabat kemudian menjadi ajaran sentral 7thday Adventism dan 7thday adventism menyiapkan mereka yang mematuhinya menjadi bagian dari 144.000 umat pilihan, dan berdasarkan kitab Wahyu 14:6-11 mengenai tiga alamat malaekat, adventisme menekankan ajaran menuju kedatangan Tuhan Yesus yang keduakali yang merupakan harapan orang-orang Adventist. Tafsiran dan penglihatan Mrs. White mengenai Akhir Zaman ditulis dalam buku Testimonies for the Church. Pada tahun 1860 Mrs. White dan pengikutnya mendirikan gereja Seventhday Adventist Church (Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh) untuk membedakan dengan Para pengikut Miller yang tidak merayakan Sabat. Masakini gereja 7thday Adventist juga aktif menjalankan misi pelayanan kemasyarakatan dengan mendirikan sekolah-sekolah bahkan universitas, rumah-sakit, dan terutama membangun percetakan untuk menerbitkan buku-buku kesehatan dan pengajaran mereka. Sama halnya dengan semangat dalam pembentukannya, gereja ini mayoritas mengikuti Mrs. White, namun belakangan ini ada juga fraksi-fraksi didalamnya yang menamakan dirinya ‘Adventis Injili’ (Evangelical Adventist) yang dekat dengan gereja Injili, dan ada pula yang menganut ‘Adventis Modern’ yang mengikuti faham liberal dalam teologi.

AJARAN-AJARAN POKOK

7thday Adventist menempatkan diri di barisan gereja Kristen yang mempercayai Allah Tritunggal, dan percaya bahwa Yesus adalah salah satu dari tiga pribadi yang disebut Trinitas, yang menjadi Allah yang esa. Alkitab dipercayai sebagai firman Allah yang menyebutkan tentang Yesus, Bapa dan Roh Kudus yang ketiganya berkomitmen dalam pertumbuhan iman kita menuju keselamatan sebagai anak-anak Allah. Mereka menjadikan keselamatan ini menjadi mungkin ketika Yesus lahir di Betlehem dan hidup sempurna sesuai kehendak Allah kemudian mati tanpa salah untuk semua dosa manusia. Ia dikuburkan dan bangkit kembali pada hari ketiga, dan sekarang berada di surga bersama Bapa untuk menyiapkan pembebasan kita dari dosa dan maut.

Sekalipun Yesus sudah menyelamatkan manusia, Adventisme menekankan bahwa sebagai teman, manusia dan Allah, hari Ketujuh (Sabat Sabtu) adalah faktor yang sangat penting dalam hubungan itu karena sejak Kejadian sampai Wahyu, hari Sabat Sabtu menjadi hari yang dikhususkan bagi hubungan Allah dan umatnya dan harus dikuduskan oleh umat dan umat harus hidup suci.

7thday Adventist Church menekankan pengajaran tentang kedatangan Yesus yang keduakali, dimana William Miller, perintis gerakan Advent, mempercayai berdasarkan ayat Dan.8:14 dan Dan.9:24 dan meramalkan Yesus akan datang kembali pada tahun 1843 M. Ketika waktu itu datang dan tidak terjadi apa-apa, waktunya diundur menjadi 22 Oktober 1844 namun juga tidak terjadi apa-apa, dan akhirnya oleh penerusnya Hiram Edson dan Ellen Gould White diartikan tanggal itu Yesus masuk ke Ruang Mahasuci di Surga sebelum nantinya datang kedua kali ke bumi.

RANGKUMAN

Di kalangan gereja-gereja pada umumnya ada dua pandangan mengenai 7thday Adventist Church, ada yang yang menempatkannya sebagai bagian gereja-gereja karena memiliki ajaran pokok yang sama dengan gereja (a.l. Tritunggal) dan tidak berantitesa dan memisahkan diri dari gereja-gereja, namun ada pula yang menempatkannya sebagai aliran kultus karena dalam prakteknya masih mengkultuskan tokoh utamanya Mrs. White yang dianggap sebagai nabi dan memberikan otoritas lain diluar Alkitab terutama tulisan dan penglihatan Mrs. White (a.l. Testimonies). Jadi, Gereja 7thday Adventist terletak di perbatasan antara gereja-gereja pada umumnya dan gerakan kultus.

Memang benar bahwa secara eksplisit ‘7thday Adventist Church’ memiliki ‘doktrin dasar’ yang sama dengan Gereja Reformasi, namun secara implisit dalam prakteknya, khususnya dikalangan pengikut yang ortodoks,  pengertian itu masih dibayangi pengajaran Mrs. White, ini masih terlihat dalam ajaran misalnya tentang Hari Sabat dan Perhitungan Kedatangan Yesus keduakali yang lebih mencerminkan penglihatan Mrs. White daripada pandangan Alkitab seperti yang dicantumkan dalam  buku Penuntun Dasar Untuk Pemahaman Alkitab(yang dijilid menjadi satu dengan Alkitab LAI atas pesanan khusus GMAHK).

 “Penganut-penganut Seventh-day Adventist menganggap Nyonya White sebagai nabi. F.M.Wilcox, redaktur-utama dari majalah Adventist yang terpenting: “Review and Herald” menulis: “dalam pekerjaan Nyonya White sebagai nabi, sebagai pesuruh Allah kepada jemaat-jemaat, ia dipimpin oleh Roh yang sama yang dahulu memimpin nabi-nabi dan pesuruh-pesuruh.” … Nyonya White menganggap dirinya seperti itu juga. Tanpa segan ia berani menulis: “Barangsiapa menolak atau menganggap-rendah Kesaksian-kesaksian yang diberikan kepada saya, bukannya menolak saya, melainkan Tuhan!” Dalam praktek penganut-penganut Seventh-day Adventist menganggap “testimonies” (Kesaksian-kesaksian) Nyonya White “lebih lengkap dan lebih jelas daripada Alkitab.” (J. Verkuyl, Gereja dan Bidat-Bidat, BPK, 1966, hlm. 93).

“Tak lama kemudian Ellen berkenalan dengan pandangan Hiram Edson tentang apa yang terjadi pada tanggal 22 Oktober 1844 itu. Lagi-lagi dengan mengaku mendapat penglihatan kenabian, Ellen membenarkan pandangan Edson itu. Di lain pihak, Bates, Edson, dan lain-lain menyimpulkan bahwa Ellen G. White memiliki karunia nubuat, bagaikan Para nabi P.L. Kendati dalam pernyataan imannya Gereja Adventist menyatakan bahwa Alkitab antara lain adalah kaidah mutlak yang mangatasi dan mengukur semua ajaran, namun karena mereka juga meyakini dan menyatakan bahwa Ellen adalah “pembawa amanat Allah” maka tulisan-tulisannya juga diyakini sebagai “sumber-kebenaran yang berwibawa serta memberi bagi gereja kunci dan bimbingan”, termasuk untuk memahami Alkitab. Bahkan menurut banyak pemerhati, kaum Adventist membaca Alkitab dibawah terang tulisan Ellen.” (Jan S. Aritonang, Berbagai Aliran Di Dalam dan Di Sekitar Gereja, BPK-GM, 1995, hlm.305).

Dibalik dua pandangan terhadap gerakan Adventis itu, dan tempat Adventis yang terletak diperbatasan, ada hal yang menggembirakan dimana dalam dasawarsa-dasawarsa terakhir ini makin berkembang dikalangan pengikut Adventis yang cenderung lebih menghayati adventisme dalam terang amanat reformasi ‘sola scriptura - sola gratia - sola fide.’ ***

 

Salam kasih dari Sekertari www.yabina.org


 


 SBK Sebelumnya