Saksi Bagi Kristus Januari_ 2010



01 - ALLAH pada masa Pra Islam
 


 “Pemerintah Malaysia menyita Alkitab yang diimpor dari Indonesia karena memuat nama Allah. … Pengadilan mengizinkan majalah Herald tetap menggunakan nama Allah. … Empat gereja kristen di Malaysia dibakar.

Inilah berita hangat berturut-turut dari Malaysia disekitar pergantian tahun 2009/10. Berita demikian sebenarnya tidak aneh karena ada sebagian orang Malaysia yang berwatak ego-posesif, bayangkan angklung, reog, batik, dan lainnya yang milik Indonesia di klaim sebagai miliknya, dan sekarang nama ‘Allah’ bahasa milik orang Arab diklaim sebagai milik mereka pula, padahal itu bukan bahasa ibu mereka. Sebenarnya di Malaysia sendiri tidak semua orang mendukung aksi pelarangan demikian apalagi yang anarkis, banyak ulama juga menyalahkan sikap itu, bahkan Marina Mahatir menggalang Petisi-online dengan judul ‘Malaysian Muslims Must Condemn Any Act of Violence Towards People of Other Faiths’ (http://www.petitiononline.com/Msia0801/petition.html). Pada tahun 2007, otoritas Islam ‘Majlis Agama Negeri Perlis’ mengeluarkan fatwa bahwa: “Tidak ada yang salah sama-sekali dengan non-muslim menggunakan nama Allah.”

Gejala fundamentalisme demikian memang baru karena orang Arab sendiri, baik yang beragama Islam, Yahudi maupun Kristen, dari dahulu sampai sekarang, menggunakan nama ‘Allah’ itu bersama-sama untuk menunjuk ‘Allah Monotheisme Abraham/Ibrahim’ yang mereka sembah sekalipun masing-masing memiliki aqidah/pengajaran berbeda mengenai ‘Allah’ yang sama itu. Sekalipun pengadilan Malaysia dan banyak ulama tidak melarang penggunaan nama itu, namun adanya sentimen kelompok radikal tertentu dalam agama yang memaksakan kehendak mereka terhadap kelompok agama lain menjadikan pencekalan dan anarki itu terjadi. Gejala fundamentalisme demikian juga terjadi dikalangan sekte kristen di Indonesia yang terpengaruh yudaisme  yang juga memaksakan kehendak mereka dan ada yang menuntut badan-badan kristen ke pengadilan agar menarik semua Alkitab dan buku-buku kristen yang memuat nama Allah, namun dengan motivasi berbeda yaitu karena nama ‘Allah’ dianggap nama berhala.

Apakah nama ‘Allah’ itu milik agama Islam? kalau benar mengapa sudah digunakan jauh sebelum agama Islam lahir? Nama Allah sudah ada setua kelahiran bahasa Arab. Jauh sebelumnya di Mesopotamia dimana rumpun semitik bermula, orang-orang sudah mengenal nama El/Il sebagai nama dewa tertinggi dalam pantheon Babilonia. Namun bagi sebagian besar keturunan Sem (dimana nama rumpun Semitik berasal), nama itu dimengerti sebagai ‘Tuhan Yang Mahaesa pencipta langit dan bumi.’ Nama El berkembang ke wilayah Utara dan Barat menjadi Ela, Elah, dan di Aram-Siria nama itu disebut Elah/Alaha dan dikalangan Ibrani disebut El/Elohim/Eloah. Sedangkan nama Il berkembang di wilayah Timur dan Selatan menjadi Ila, Ilah, dan di Arab disebut Ilah/Allah.

Catatan tertua pada milenium kedua sebelum Kristus menyebutkan keturunan Abraham yang disebut suku-suku Arab, khususnya Ibrahimiyah dan Ismaelliyah, yang dikenal sebagai kaum Hanif (jmk. Hunafa) menyebut nama ‘Allah’ dalam sejak berkembangnya bahasa Arab. Ensiklopedia Islam menyebut bahwa:

“Gagasan tentang Tuhan Yang Esa yang disebut dengan Nama Allah, sudah dikenal oleh Bangsa Arab kuno ... Kelompok keagamaan lainnya sebelum Islam adalah hunafa’ (tngl.hanif), sebuah kata yang pada asalnya dituju­kan pada keyakinan monotheisme zaman kuno yang berpangkal pada ajaran Ibrahim dan Ismail.” (hlm.50-51)  

 Inskripsi suku Lihyan mengungkap catatan abad VI/V SM (semasa Ezra) bahwa nama Allah sudah digunakan. Ada yang memberi stigmatisasi bahwa Allah nama berhala Siria kuno, kenyataannya inskripsi Lihyan sebagai pusat penyembahan ‘hlh’ tidak tertuju ‘dewa Siria.’ Perlu disadari bahwa inskripsi di Arab Utara (Sabean, Lihyan, Tamudic, Safaitic) menunjuk Lihyan merupakan pusat penyembahan ‘Allah’ dan disana berkembang dialek-dialek Arab dimana ada yang menggunakan kata sandang ‘al’ tapi juga ‘ha’ untuk menunjukkan ‘Tuhan yang Satu’ itu. Winnet dalam penelitiannya atas inskripsi Lihyan menyebutkan bahwa pujian kepada Allah dalam inskripsi itu bersifat netral dan bisa diarahkan kepada sesembahan mana saja, tapi teks Lihyan menunjukkan adanya kata kunci ‘abtar’ yang hanya ada dalam Al-Quran (QS.108) yang mengarah kepada ‘Allah yang Esa dan Kekal’ (QS.112).

 “Inskripsi Arab Utara. … Nama-nama Allah pertama menjadi umum di teks Lyhian. … Bukti ditemukannya nama Allah menunjukkan bahwa Lyhian adalah pusat penyembahan Allah di Arab. … “Orang Siria, menekankan kata benda umum ‘allah’ menjadi nama diri dengan menambahkan elemen “a”: allaha = “the god” lalu menjadi “God”. … Ketika orang Lyhian mengambil alih nama diri Allaha, nama itu diarabkan dengan menghilangkan elemen “a”.” (F.V. Winnet, Allah Before Islam, dalam The Muslim World, Vol.38, 1938, hlm.245-248)

Inskripsi Lihyan abad VI/V SM berada di Arab Utara berasal bahasa Nabatea Arami dan letaknya tidak jauh dari Yerusalem dimana dikenal kitab Ezra dan Daniel yang sezaman yang memuat nama Aram ‘Alaha’ yang ditujukan ‘Elah Yisrael’ (Ezr.5:1;6:14). Lagipula, pendahulu suku Lihyan adalah suku Dedan yang adalah keturunan Dedan cucu Keturah, isteri Abraham, tentu ada kaitannya dengan kaum Hanif. Studi yang sama dikemukakan Trimingham dalam bukunya ‘Christianity Among the Arabs in Pre-Islamic Times’, yaitu bahwa nama ‘Allah’ sudah lama digunakan dikalangan suku-suku Arab termasuk yang kristen dan berasal dari ‘Alaha’ Aram yang dalam kitab Ezra ditujukan kepada ‘Elah Yisrael’ (5:1;6:14), bahasa Arab diketahui berkembang dari Nabati-Aram. Jadi adanya dugaan bahwa ‘Allah sesembahan Lihyan itu dewa Siria, oleh Winnet dan Trimingham disebutkan  bahwa nama itu ditujukan kepada ‘Alaha’ Aram yang menunjuk kepada ‘Elah Yisrael.’

Berbeda dengan anggapan bahwa orang Yahudi & Kristen Arab semula menyebut ‘Al-Ilah’ dan baru pada masa Islam mereka dipaksa menggunakan nama ‘Allah,’ fakta sejarah menunjukkan bahwa sejak awal orang Arab beragama Yahudi dan Kristen sudah menggunakan nama ‘Allah’ dalam ibadat mereka. Nama ‘Allah’ digunakan di kalangan Arab beragama Yahudi dapat dilihat bahwa sebelum Islam lahir ada Imam Sinagoge di Medinah yang bernama ‘Abdallah bin Saba, dan di kalangan kristen penggunaan nama ‘Allah’ juga banyak. Kekristenan Arab sudah dimulai sedini abad pertama dimana orang Arab sudah mendengar kotbah Yesus (Mrk.3:7-8) dan dihari Pentakosta mereka mendengar dalam bahasa Arab (Kis.2:11), dan Paulus mengunjungi jemaat kristen Arab (Gal.1:17). Pada tahun 244 seorang Arab kristen Phillip the Arab menjadi kaisar Roma dan pada Konsili Nicaea (325) hadir 6 uskup Arab dari kawasan imperium Romawi dan tiga uskup lainnya dari kawasan Arab non Romawi. Ini menunjukkan bahwa umat kristen Arab dengan bahasa Arabnya sudah menyebar bahkan menduduki jabatan tinggi Kaisar Romawi dan Uskup jemaat Arab.

 Pater Pacerillo, arkeolog Franciscan menemukan rumah-rumah di Siria, Lebanon dan Palestina dari abad IV dengan inskripsi ‘Bism Ellah al Rahmani al Rahimi’ (Dalam nama Allah yang pengasih dan penyayang), sedangkan pada Konsili Efesus (431) hadir uskup Arab bernama Abdellas (Abdullah, band. dengan ‘Wahab Allah’ yang diterjemahkan ke bahasa Yunani sebagai ‘ouaballas’). Dalam fragmen pra-Islam yang ditemukan pada tahun 1901 di Damaskus ada teks LXX Mazmur 78 dimana ‘ho-theos’ (elohim) diterjemahkan dalam bahasa Arab yang ditulis dengan aksara yunani sebagai ‘allau’  (ayat 22,31,59), dalam inskripsi itu huruf ‘ha’ Arab ditulis sebagai ‘upsilon’ Yunani. Seorang martir kristen Arab dari Najran bernama ‘Abdullah ibn Abu Bakr ibn Muhammad’ (523).

Bambang Noorsena S.H. yang mengambil pasca-sarjana dalam sastra Arab di Kairo selama 2 tahun, dalam bukunya menyebut bahwa sebelum Islam lahir, pemakaian istilah Allah di lingkungan Kristen bisa dilihat dari sejumlah inskripsi dari masa pra-Islam yang ditemukan disekitar wilayah Siria dimana nama Al-Ilah dan Allah disebut:

“Ada dua inskripsi penting: pertama inskripsi Zabad (tahun 512) yang diawali dengan rumusan ‘Bism al-Ilah’ (Dengan nama al-Ilah) yang kemudian disusul dengan nama-nama Kristen Syria, dan kedua, Inskripsi ‘Umm al-Jimmal’ (juga berasal abad ke-6 Masehi) yang diawali dengan ucapan ‘Allahu ghafran’ (Allah mengampuni).” (History of Allah, hlm.10)

Inskripsi ‘Allahu Gafran’ (Umm al-Jimmal) digambarkan jelas dalam buku ‘Islamic Caligraphy’ oleh ‘Yasin Hamid Safadi’ (London: Thames and Hudson Limited, 1978, hlm.6). Noorsena juga menyebutkan bahwa ada teks Aram Suryani masa itu dimana nama  ‘Alaha’ diterjemahkan menjadi teks ‘Allah’ Arab:

Risalah fit at Tadbir al-Khalash li Kalimat Allah al-Mutajjasad (bahasa Suryani-Arab), karya Mar Ya’qub al-Rahawi (James of Eddesa). Buku ini diawali kalimat: Allah..., menerjemahkan teks asli yang diawali: Alaha... (teks asli Suryani ditulis tahun 578 M)”. (The History of Allah, hlm.12.)

Jadi, nama Al-Ilah dan Allah digunakan bersama dan saling dipertukarkan terlebih pada zaman pra-Islam. Dalam Ensyclopaedia of Islam disebutkan:

“Bagi umat Kristen dan monotheis, al-ilah terbukti berarti Tuhan; bagi penulis lain artinya “yang disembah”, dan al-ilah menunjukkan ‘tuhan yang sudah disebutkan’ … penggunaannya bertahan sampai sekarang (‘Abd al-Ilah). … Allah sering digunakan sebagai kontraksi al-ilah, khususnya dalam tulisan pra-Islam, kemudian menjadi nama diri (ism ‘alam).” (Brill, Vol.III, hlm.1093)

“Allah sudah dikenal di Arab; ia adalah satu dari sesembahan yang disembah di Mekah kemungkinan sebagai tuhan yang mahakuasa dan tentu saja tuhan pencipta (band. QS.13:16;29:61,63;31:25;39:38;43:87). Ia sudah dikenal sejak dulu, sebagai ‘Allah,’ al-Ilah (asal kata yang paling mungkin; saran lainnya adalah Alaha Aram).” (Brill, Vol.I, hlm.406).

“Sebagian besar beranggapan nama diri Allah ada asalnya (mushtakk, mankul), kontraksi al-ilah, dan menganggap ilah adalah tiga huruf akar kata.” (Brill, Vol.III, hlm.1093).

Allah merupakan suatu nama Hakikat, atau kepercayaan yang bersifat mutlak. Agaknya kata ‘Allah’ merupakan pengkhususan dari kata al-ilah. … Nama ”Allah” telah dikenal dan dipakai sebelum Alquran diwahyukan .... Kata itu tidak hanya khusus bagi Islam saja, melainkan ia juga merupakan nama yang, oleh ummat Kristen yang berbahasa Arab dari gereja-gereja Timur, digunakan untuk memanggil Tuhan. (Glasse, Ensiklopedi Islam, hlm.23)

Selain disebutkan dalam ensiklopedia Islam bahwa nama ‘Allah adalah kontraksi al-Ilah,’ pada umumnya ensiklopedia umum seperti Britannica, Encarta, Wikipedia juga menyebut demikian. Tentunya topik nama Allah ini ditulis oleh para pakar bahasa Arab.

Selain dalam inskripsi dan nama, Sejak awal Injil Arab juga menggunakan nama ‘Allah.Alkitab Peshita dalam bahasa Aram ditulis pada abad II dimana El/Elohim/Eloah Ibrani ditulis ‘Alaha.’ Seperti diketahui dari inskripsi Lyhian abad-VI/V SM dan sejarah bahasa bahwa ‘Alaha’ Aram menurunkan ‘Allah’ Arab Nabatea dan bahasa Arab. Dalam Injil Apokrif Infancy Gospel of Thomas (abad II) ada cerita mengenai ‘Allah yang mengizinkan Yesus membuat mujizat burung dari tanah liat’ yang dikutip dalam Injil Anak-anak apokrif dalam bahasa Arab ‘Injilu’ t Tufuliyyah’ dan kemudian diceritakan dalam Al-Quran (QS.5:110).

Pada abad III Origen menulis dalam introduksi Hexapla bahwa ia berkonsultasi dengan salinan bahasa lain termasuk Arab, ini berarti pada abad III sudah ada fragmen Alkitab dalam bahasa Arab. Abad berikutnya (IV), Waraqah ibn Nawfal di Mekah menerjemahkan fragmen Alkitab ke dalam bahasa Arab, di tahun 520 umat Kristen di Najran memiliki Injil dengan dialek Arab yang ditulis dengan aksara Musnad. John of Sedra pada tahun 630-an menulis terjemahan keempat Injil dalam bahasa Arab untuk digunakan oleh para cendekiawan Muslim, dan fragmen-fragmen Alkitab lainnya juga ditulis dalam bahasa Arab pada masa itu. Dari fragmen-fragmen itu berangsur-angsur terkumpul lebih lengkap Alkitab bahasa Arab yang disusun oleh Hunayan bin Ishaq dan Saadia Gaon (abad IX).

Data Al-Quran sendiri mendukung adanya penggunaan nama Allah sebelumnya dan menyebut bahwa pada masa Islam, di gereja dan sinagoge sudah banyak disebut nama Allah, itu berarti bahwa pada masa pra-Islam nama ‘Allah’ sudah digunakan oleh umat yahudi dan kristen. Muhammad sebelum menjadi nabi dan rasul berhubungan dengan biarawan Nestorian Waraqah ibn Nawfal yang adalah sepupu Khadijah. Ia juga menghadiri pengajaran guru kristen dekat Mekah, dan setelah memulai agamanya ia mengaku menulis kitab sebagai penerus kitab-kitab Yahudi dan Kristen yang sudah ada, ini menunjukkan bahwa ia mengaku nama ‘Allah’ yang sama dalam dua agama pendahulunya, hal itu secara jelas terlihat dalam Al-Quran:

“(yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: "Tuhan kami hanyalah Allah." Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS.22:40)

Dalam Surrah Al-Quran disebut “orang Yahudi menyebut Allah” (5:64), dan “orang Yahudi & Nasrani beriman kepada Allah” (2:62) dan menyebut “kami anak-anak Allah” (5:18). Orang Nasrani menyebut “Isa Almasih putra Allah” (9:30) dan “rasul utusan Allah” (4:157,171;61:6), dan “Isa menjawab: Bertakwalah kepada Allah” (5:112) dan berkata “Aku ini hamba Allah” (19:30), dan “Allah mengangkat Isa kepada-Nya” (3:55;4:158;5:110). Ini menunjukkan bahwa nama ‘Allah’ sudah dipakai umat Yahudi dan Kristen Arab termasuk dalam kitab-kitab mereka (QS.2:97;5:48) sebelum Islam lahir. Dalam sejarah tercatat bahwa ketika Islam mulai berekspansi, pada tahun 628 ada delegasi dari biara St. Catherine di Sinai yang menghadap Nabi Islam Muhammad dan mendapat perlindungan darinya untuk menjalankan agamanya dengan bebas. (Prophets Muhammad’s Promise to Christians, http://rantingsbymm.blogspot.com/)

Dari kenyataan diatas kita mengetahui bahwa pada masa dahulu, apalagi pada masa bahasa lisan pra-tulis, penggunaan nama ‘Allah’ terjadi sebagai derivasi ‘Allaha’ Aram, padanan/kontraksi ‘Al-Ilah,’ maupun sebagai nama yang berdiri sendiri. Tetapi menarik untuk disimak bahwa di Timur Tengah, bahwa sekalipun penggunaan nama ‘Allah’ oleh mereka yang beragama Yahudi, Kristen, dan Islam yang berbahasa Arab dilakukan bersama tanpa masalah sejak awalnya, ada juga yang memberikan stigmatisasi nama ‘Allah’ seakan-akan itu nama ‘berhala dewa bulan.’ (Arab Bible [2004] adalah plagiat ‘Arabic Bible’ [1865] dengan semua nama ‘Allah’ diganti menjadi ‘Al-Ilaah’). Dalam Al-Quran tidak pernah disebutkan bahwa ‘Allah’ itu nama dewa bulan selain sebagai ‘Tuhan Yang Mahaesa, pencipta langit dan bumi, termasuk bulan.’

 “Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah", maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).” (QS.29:61)

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah Yang menciptakannya, Jika Ialah yang kamu hendak sembah.” (QS.41:37)

Ini tidak menutup kemungkinan bahwa dikalangan Arab Lihyan dan Arab Jahiliah pra-Islam, disamping kaum Hanif/Hunafa yang menyembah ‘Allah’ monotheisme Abraham/Ibrahim ada juga penyembah berhala yang menyebut dewa mereka dengan sebutan allah pula. Dalam sejarah Arab, masa jahiliah pra-Islamlah yang disebut sebagai masa sinkretisme yang berat diimpor berhala asing sehingga banyak yang menyembah berhala (termasuk dewa bulan ‘hubal’), namun pada masa Islam hadir, keyakinan monotheisme kaum Hanif itu dipulihkan kembali.

“Gagasan tentang Tuhan Yang Esa yang disebut dengan Nama Allah, sudah dikenal oleh Bangsa Arab kuno ... Kelompok keagamaan lainnya sebelum Islam adalah hunafa’ (tngl.hanif), sebuah kata yang pada asalnya dituju­kan pada keyakinan monotheisme zaman kuno yang berpangkal pada ajaran Ibrahim dan Ismail. Menjelang abad ke-7, kesadaran agama Ibrahim di kalangan bangsa Arab ini telah menghilang, dan kedudukan­nya digantikan oleh pemujaan sejumlah berhala ... dalam waktu 20 tahun seluruh tradisi Jahiliyyah tersebut terhapus oleh ajaran Tuhan yang terakhir, yakni Risalah Islam”. (Ensiklopedia Islam, hlm.50-51)

“Karena Islam memperbaiki agama yang dibawa Ibrahim, yakni agama fitrah, maka jahiliyah dipandang sebagai sebuah zaman sebelum keda­tangan Islam, ibarat kegelapan sebelum terbit fajar. Pada zaman ini ajaran monotheisme Ibrahim telah musnah berganti dengan sistem pa­ganisme, dan diwarnai dekadensi moral. Sejumlah berhala sesembahan didatang­kan ke Makkah dari berbagai negeri di Timur Tengah. Namun tidak semua warga Arab pada saat itu menganut sistem keyakinan pagan, me­lainkan terdapat beberapa suku Arab memeluk agama Kristen dan Ya­hudi. Bahkan terdapat sejumlah pribadi yang menekuni dunia spiritual, mereka itu dinamakan ’hunafa’ (tgl. hanif) yang mana mereka tidak memihak kepada satu di antara kedua agama tersebut, melainkan mereka bertahan pada ajaran monotheisme Ibrahim”. (Ensiklopedia Islam, hlm.190)

Kemerosotan penggunaan nama sesembahan ‘Allah’ tidak hanya terjadi dikalangan Arab, sebab dikalangan Israel pun kemerosotan yang sama juga terjadi. ‘Elohim’ disamping untuk menyebut ‘Pencipta Langit dan Bumi’ (Kej.1:1) juga digunakan untuk menyebut dewa a.l. ‘berhala anak lembu’ (Kel.32:1,4) yang bahkan juga dirayakan sebagai YHWH (Kel.32:5). Jadi disini kita melihat bahwa yang menjadi masalah bukan nama ‘Elohim/Allah’nya melainkan apa kandungan aqidah/pengajaran dibalik nama itu yang secara berbeda-beda diajarkan dalam Kitab Suci masing-masing agama.

Kebenaran sejarah tidak bisa diubah dan perlu disadari bahwa ‘Ilah/Allah’ (Arab) memiliki asal mula yang sama (cognate) dengan El/Elohim/Eloah (Ibrani), Elah/Alaha (Aram), maupun El/Il Semitik (Mesopotamia), yang dipercayai beberapa agama sebagai dewa, tuhan tertinggi, tetapi juga sebagai ‘Tuhan yang Mahaesa pencipta langit dan bumi.’ (Di Kanaan kuno El juga ditujukan kepala pantheon Kanaan)

Perlu disadari bahwa sekalipun agama Yahudi (Tanakh), Kristen (PL+PB) dan Islam (Al-Quran) dalam bahasa Arab menggunakan nama ‘Allah’ yang sama dan menyebutnya sebagai ‘Tuhan Monotheisme Abraham/Ibrahim,’ ketiganya mempercayai pengajaran/aqidah berbeda sesuai kitab suci masing-masing. Kerancuan terjadi karena mencampuradukkan nama ‘Allah’ sebagai nama sesembahan semitik/abrahamik dalam bahasa Arab dan aqidah/pengajaran mengenai Allah yang sama itu, karena itu kalau mau membandingkan adalah antara ‘Allah’ Arab Kristen dibanding ‘Allah’ Arab Islam. Marilah kita mendengarkan wejangan Dr. Olaf Schuman, teolog kristen Jerman yang fasih berbahasa Arab yang selama 3 tahun belajar dan mengajar di Universitas Al-Ashar di Kairo:

“Memang tidak dapat disangkal adanya suatu masalah. Namun yang men­jadi masalah ialah soal dogmatika atau ’aqida, sebab tiga agama surgawi itu mempunyai faham dogmatis yang berbeda mengenai Allah yang sama, baik hakekatnya maupun pula mengenai cara pernyataannya dan tin­dakan-tindakannya.” (Keluar dari Benteng-Benteng Pertahanan, hlm.177)

Menarik juga melihat fakta bahwa Al-Quran dalam bahasa Ibrani yang diterbitkan di Israel, nama ‘Allah’ diterjemahkan ‘Elohim’ (Al-Quran Tirgem Avrit, Devir Publishing House, Tel-Aviv, 1945), ini menunjukkan bahwa di kalangan berbahasa Arab-Ibrani nama ‘Allah’ itu padanan nama ‘Elohim.’

Sejak awal nama ‘Allah’ terus digunakan dalam Alkitab bahasa Arab termasuk delapan versi yang sekarang digunakan oleh sekitar 29 juta umat kristen Arab diseluruh dunia. Pada tahun 1671 gereja Katolik Roma menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Arab di Roma, namun yang lebih populer di kalangan Protestan dan Gereja Ortodok adalah ‘Arabic Bible’ (Van Dijke, 1865) yang diterbitkan di Beirut.  ‘Catholic Translation of the Bible’ diterbitkan tahun 1880 yang kemudian direvisi pada tahun 1988. ‘New Translation of the Arabic Bible’ (1988) yang disebut ‘Book of Life, an interpretative translation’ (Kitab Al Hayat, tarjama tafsiriya) kemudian menjadi ‘New Arabic Version’ (1992), dan pada tahun yang sama terbit juga ‘Today’s Arabic Version’ (Good News).

Dalam hubungan dengan kaum Muslim, pada tahun 1980-an di Mesir ada kalangan kristen yang menerbitkan Perjanjian Baru untuk dibaca oleh kalangan Muslim yang disebut ‘The Noble Gospel’ (Al-Injil Al-Syarief, 1990) dan seluruh Alkitab pada tahun 1999. Ada usaha menarik dari penulis Siria-Arab Mashaz Mallouhi (2008) yang mengumpulkan para pakar Arab Islam dan Kristen untuk duduk bersama membuat terjemahan kitab ‘Injil dan Para Rasul’ dengan nama ‘The True Meaning of the Gospel of Christ’ ke dalam bahasa Arab modern yang ditujukan kepada orang Arab Kristen maupun Arab Islam yang sekaligus dimaksudkan sebagai pelajaran sejarah sastra Arab dengan membahas terminologi bahasa Arab Alkitab yang sekarang sudah tidak umum digunakan dalam bahasa Arab modern. Semua versi Alkitab Arab hanya mengenal satu istilah untuk Tuhan yaitu ‘Allah’ (disamping Ar-Rabb untuk menyebut ‘Adonai’ yang tertuju YHWH).

Di Indonesia sejak masuknya agama Islam (abad XIII) dan Kristen (abad XVI), nama ‘Allah’ sudah terserap dalam bahasa Melayu dan kemudian masuk kosa-kata bahasa Indonesia, dan sudah digunakan sedini ditulisnya terjemahan Alkitab Melayu pada tahun 1629 sampai terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Sekalipun Indonesia memiliki populasi Islam terbesar di dunia selama ini tidak ada yang mempersoalkan penggunaan nama Allah itu karena para pakar dan ulama Islam pada umumnya mengerti bahwa ‘Nama Itu’ digunakan  bersama dalam agama Yahudi, Kristen, dan Islam, kecuali dipersoalkan oleh sekelompok kecil klompok fundamentalis tertentu akhir-akhir ini.

Di Malaysia, usaha penerjemahan Alkitab ke dalam Bahasa Melayu (BM) dimulai pada tahun 1974. Perjanjian Baru diterbitkan pada tahun 1976 dan Perjanjian Lama pada tahun 1981. ‘Alkitab Bahasa Melayu’ (BM) lengkap diterbitkan pada tahun 1987 oleh The Bible Society of Singapore, Malaysia and Brunei. Pada tahun 1990 dimulai penerjemahan ke bahasa Melayu sehari-hari dan pada tahun 1996 terbit ‘Alkitab Berita Baik’ yang diterbitkan oleh The Bible Society of Malaysia. ***

Salam kasih dari Sekertari www.yabina.org


 


 SBK Sebelumnya