RENUNGAN MARET 1999


Banyak pertanyaan diajukan dalam cermah-ceramah yang dibawakan YBA perihal Tenaga Dalam karena masalah ini kembali mencuat dengan ramainya seminar-seminar dan latihan tenaga dalam, para normal, soal jin dll. Belakangan ini. Dalam MSA-36 soal tenaga dalam sudah dijadikan tema, sekalipun demikian, karena banyaknya pertanyaan yang diajukan peserta ceramah dan web, ma ka secara ringkas soal tenaga dalam dijadikan tema renungan kali ini.

TENAGA DALAM

Di kalangan Kristen Tenaga Dalam dimengerti bermacam-macam, ada yang menganggap tenaga dalam sekedar ‘produk okultisme’ dan haram bagi umat Kristen, tetapi ada juga yang beranggapan bahwa tenaga dalam adalah ‘tenaga ilahi’ manusia yang halal untuk dilatih dan dikembangkan. Bagaimana sebenarnya hakekat tenaga dalam itu?

    Dalam pengertian perdukunan dan kebatinan (pantheisme) tenaga dalam itu dan badan manusia itu adalah satu (monisme) dan merupakan ‘tenaga hidup’ atau ‘tenaga batin’ yang adalah bagian dari roh semesta, atau dengan kata lain, tenaga dalam dianggap roh manusia (micro cosmos) yang menjadi bagian dan sehakekat dan berzat sama dengan roh semesta. Dalam perdukunan ‘tenaga dalam’ itu disebut sebagai ‘mana’, dalam Yoga disebut ‘kundalini’ atau ‘Prana’, dalam kebatinan Cina disebut sebagai ‘Chi’ dan di Jepang disebut sebagai ‘Ki’, dan dalam kejawen disebut sebagai ‘percikan api ilahi’.

    Dalam psikologi baru yang secara populer dipercaya dalam ‘gerakan pengembangan pribadi’ (human potential movement) kepercayaan yang sama disebutkan dalam bahasa filsafat. Carl Jung yang terpengaruh ‘Zen Buddhisme’ menyebutnya sebagai ‘tenaga mistis’ dan Abraham Maslow menyebutnya sebagai ‘self-actualizing force’. George Lucas dalam Trilogi Star-Warsnya menyebut kekuatan semesta itu sebagai ‘The Force.’ Jadi, prinsipnya, tenaga dalam disini dianggap bagian kecil dari hekakat atau roh semesta itu.

    Dalam perdukunan dan kebatinan, tenaga dalam yang dipercaya sebagai ilahi itu dapat dimanfaatkan dan dilatih baik untuk kesehatan, kekebalan atau mencapai kepenuhan ilahi, misalnya Hinduisme berlatih ‘Yoga’, Zen-Buddhisme melatih ‘Meditasi Zen’, Taoisme melatih ‘Tai-Chi, Chi Kung atau Waitankung’ dan Kejawen melalui ‘Merpati Putih’, ‘Satria Nusantara’, ‘Kalimasada’ dan lainnya. Gerakan Pengembangan Pribadi menggunakan ‘Positive Thinking’, ‘Visualisasi’ dan ‘Kata-kata Mantra.’

Lalu, bagaimana dengan ‘tenaga dalam’ dalam pengertian kekristenan?

NAFAS HIDUP

   Dari sudut iman Kristen yang dinyatakan dalam Alkitab, disebutkan bahwa "manusia dibuat dari debu tanah dan nafas hidup dihembuskan ke dalam hidungnya, maka jadilah manusia itu mahluk yang hidup" (Kej.2:7). Nafas hidup itulah yang menjadi esensi atau roh/batin atau hati manusia dan memberi daya hidup atau tenaga hidup sehingga manusia memiliki kesadaran diri dan kesadaran akan Allah, dan mempunyai daya/tenaga untuk mempertahankan hidup dan kuasa untuk menguasai bumi dan binatang.

    Jadi, pada dasarnya dalam pengertian Alkitab roh atau bisa disebut sebagai daya hidup, tenaga hidup, atau tenaga dalam itu, adalah pemberian Allah, dan berbeda dengan konsep perdukunan dan kebatinan yang menganggap daya/tenaga itu sebagai bagian ilahi, maka dalam Alkitab roh/nafas itu dibedakan dari Allah sang pencipta. Ini dengan jelas dapat dilihat dari ucapan Ayub yang mengatakan bahwa "Roh Allah telah membuat aku, dan nafas Yang Mahakuasa membuat aku hidup" (Ayb.33:4).

    Bagaimana perkembangan roh daya/tenaga hidup manusia itu? Ternyata, sejak awal ia mempunyai potensi atau kesempatan untuk menjadi pintu atau jendela ke dunia roh yang bisa juga dimanfaatkan untuk kepentingan Iblis. Van Peursen dalam bukunya ‘Tubuh, Jiwa dan Roh’ menyebut "Manusia sendiri bersentuhan dengan yang ilahi justru dalam ‘jiwanya’." Dalam Kejadian fasal 3 disebut bahwa godaan itu datang dari Iblis berupa keinginan ‘menjadi seperti Allah’ (ay.4-5). Dalam Kejadian fasal 11, keinginan menjadi seperti Allah itu dinyatakan dalam pembangunan ‘Menara Babil untuk cari nama’ (ay.4), sedang Yesaya menyebutnya sebagai ‘hendak menyamai yang Mahatinggi’ (14:12-14).. Usaha-usaha itu yang semula didasarkan ‘potensi tak terhingga manusia’ (Kej.11:6) kemudian dihancurkan Allah dan menusia dijadikan terbatas (Kej.3:8-10) baik dalam bahasa maupun kesatuan dan diporak-porandakan Allah sehingga tersebar (Kej.11:7-8). Kelemahan manusia inilah yang menyebabkan Allah mengirimkan RohNya untuk mendiami dan mendamping hamba-hambanya seperti kepada Yusuf (Kej.41:38), Yosua (Bil.27:18), dan para Hakim seperti Gideon (Hak.6:34) dan Samson (Hak.14:6).

    Yermia menyebut ‘hati manusia telah licik’ karena itu ‘jangan diandalkan dan bergantung pada kekuatan sendiri’ (17:5-10). Untuk mengatasi kelemahan roh manusia itulah Allah akan menyertai dan mendiami manusia yang diperkenannya. Bila semula Roh Allah mendampingi manusia sewaktu-waktu seperti pada Yusuf, Yosua, Gideon dan Samson, maka sekarang Allah menjanjikan penyertaan secara tetap dalam Perjanjian Baru (Yer.31:31-33/Yeh.36:26-28). Jadi, roh atau daya/tenaga batin manusia dilarang oleh Allah untuk diandalkan apalagi dilatih, sebab manusia Kristen hidup didiami Roh Allah yang dikaruniakan kepadanya, dan supaya kita hidup mengandalkan Tuhan dan hidup menurut hukum Allah.

LALU BAGAIMANA?

    Jadi, apakah kita sebut sebagai roh, nafas hidup atau tenaga dalam, semua itu menunjuk pada esensi yang dikandung dalam manusia sebagai mahluk hidup, hanya bedanya, dalam perdukunan dan kebatinan, roh/tenaga dalam itu dianggap sebagai ilahi sedangkan dalam Alkitab disebut sebagai pemberian Allah, jadi dibedakan antara pemberian dan Pemberinya, sedangkan dalam perdukunan dan kebatinan pemberian itu adalah pemberi. Disinilah perbedaan konsep itu.

    Perbedaan lain adalah Allah melarang kita mengandalkan apalagi melatih tenaga batin itu tetapi agar umat beriman mengandalkan Tuhan, sedangkan perdukunan dan kebatinan justru mengandalkan tenaga batinnya bahkan melatihnya karena mereka menganggap diri mereka sebagai ilahi dan melalui latihan itu keilahian itu menjadi penuh.

    Dari pandangan di atas, jelas umat Kristen janganlah mendukakan Tuhan dengan melatih tenaga batin atau tenaga dalamnya itu. Karena itu tidaklah patut bagi seorang Kristen berlatih Yoga, Tai Chi atau Silat-Silat Tenaga Dalam karena hal itu mendukakan Tuhan dan sangat potensial menjadikan manusia arogan, memberontak, dan ingin menjadi seperti Allah.

    Perdukunan dan kebatinan jelas menyebut diri mereka ilahi, dan gerakan zaman baru menyebut manusia sebagai ‘I am god’. Pengaruh demikian juga masuk dalam kekristenan, sebab ajaran-ajaran Karismatik ‘Word of Faith’ dan ‘Kuasa Pengurapan’ juga beranggapan serupa. Baik Kenneth Hagin, Kenneth Copeland, dan Benny Hin menyebut manusia sebagai ‘little gods,’ Morris Cerullo menyebut manusia sebagai ‘miniature God’, Yonggi Cho menyebut Yesus sekedar sebagai ‘mitra manusia’. Kita juga harus berhati-hati dengan ‘kebatinan terselubung’ yang masih berdasarkan konteks situasional dalam ayat Kej.11:6 mengikuti pendapat Maslow diikuti Napoleon Hill yang menganggap bahwa ‘dalam diri manusia ada kekuatan yang tak terhingga’, sebab pendangan ini ikut dipopulerkan dalam seminar-seminar bisnis dan buku-buku Dale Carnegie, Norman Vincent Peale, Robert Schuller, Zig Ziglar, dan Myron Rush dalam bukunya yang populer di kalangan Kristen berjudul ‘Lord of the Market Place.’

    Bila dalam latihan tenaga dalam jelas terlihat adanya usaha melatih tenaga batin itu, dalam pengembangan pribadi kenyataan itu agak disamarkan karena lebih ditujukan untuk mengejar sukses bisnis, apalagi dalam praktek-praktek tidak langsung seperti dalam ‘pengobatan alternatip’ semacam pijat refleksi dan akupunktur. Yang jelas perlu diketahui pengobatan alternatip bertujuan untuk merangsang kekuatan batin itu agar kekuatan itu menyembuhkan kelemahan dan penyakit manusia. Memang praktek refleksiologi dan akupunktur tidak secara langsung dibandingkan latihan Yoga dan Tai Chi yang secara langsung memperbesar kemampuan tenaga batin itu, tetapi dampaknya mengarah pada bahaya yang sama.

    Kebiasaan praktek refleksiologi dan akupunktur akan membawa seseorang mudah membuka diri pada Tai Chi dan Yoga, dan ini membuka diri lebih jauh kepada praktek-praktek Pantheisme lainnya dan yang jelas makin menjauhkan manusia dari Tuhannya. Umat Karismatik banyak yang terpengaruh ajaran ‘Dimensi Ke-Empat dan Word of Faith’ sehingga mereka dengan ‘doa menuntutnya’ menganggap Tuhan tidak bedanya dengan ‘jin aladin’ yang menjadi pesuruh manusia, demikian juga mereka yang biasa berlatih Tai Chi di gerejanya dan mempopulerkan ‘Inter Faith’ cenderung kemudian merendahkan Yesus Kristus menjadi sekedar sederajat dengan nabi-nabi agama lain dan semuanya membawa keselamatan yang sama (Universalisme). Instruktur ‘Dale Carnegie Course’ cenderung mengulang-ngulang mantra modern berbunyi "If It Is To Be, It Is Up To Me!"

Karena itu, hendaknya umat Kristen lebih waspada akan kekuatan-kekuatan roh kebatinan dan kembali mengandalkan Tuhan dengan doa dan permintaan agar tubuh kita menjadi sehat dan penyakit kita disembuhkan Tuhan.

"Beginilah firman TUHAN: Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari TUHAN! … Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!" (Yer.17:5,7)

"Kamu akan kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. RohKu akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapanKu dan tetap berpegang pada peraturan-peraturanMu dan melakukannya." (Yeh.36:26-27).

A m i n.


[ YBA Home Page | Renungan sebelumnya]