GEREJA DI BELANDA

“Zijn er nog lege kerken te koop in Holland? “Neen”, is het antwoord. Of ze zijn reeds “Mesjid” of “Restaurant” geworden.” (Masih adakah gereja-gereja kosong di Belanda untuk dibeli? “Tidak ada, jawabannya. Karena gereja-gereja kosong sudah berubah menjadi “Mesjid” atau “Restoran.”)

Yabina baru menerima surat dari seorang pendeta yang lama melayani di Belanda yang mengirimkan artikel berisi komentar diatas dilampiri foto gereja di Inggeris yang berubah menjadi rumah tinggal. Ia juga menceritakan bahwa ketika bertanya tentang gereja kepada pelatih kursus mengemudinya, dijawab: “Gereja? Oh, saya bersimpati dengannya, tapi saya tidak ikut lagi.” Gereja Roma Katolik juga mengalami hal serupa, pendeta itu menceritakan bahwa: “Kalau ada kumpulan pemuda yang diadakan gereja Katolik, dan Sri Paus berpidato, ribuan pemuda yang mendengar. Tapi pada hari Minggu gereja-gereja Roma Katolik kosong.”

Sudah sebegitu parahkah kondisi gereja-gereja di Eropah khususnya di Belanda? Jawabannya ternyata ‘tidak,’ sebab pendeta itu melanjutkan suratnya dengan kata-kata: “Di kota-kota besar ada gereja-gereja Pentakosta yang banyak pengunjungnya. Pada hari Pentakosta diadakan festival-festival di lapangan terbuka yang diramaikan band-band musik, yang dikunjungi puluhan ribu orang muda.” Ia kemudian menceritakan bahwa pembinanya dari Gereja Hervormd mengaku bahwa: “masa depan” gereja akan sangat diwarnai kaum evangelical.

Pendeta itu mengakui bahwa Eropah dan khususnya Belanda sudah mengalami ‘Post-Christendom’ (masa kekristenan yang sudah lewat) dan gejalanya bisa dilihat dari makin bertambahnya gereja yang kosong yang akhirnya dijual dan berubah menjadi rumah tinggal, mesjid, restoran, atau kelab-malam! Namun itu bukan cerita seutuhnya sebab dikala gereja-gereja arus utama merosot keanggotaannya, gereja-gereja Konservatif (yang mempertahankan tradisi gereja lama yang mengaku Yesus adalah Tuhan dan Alkitab adalah firman Allah) justru meningkat. Mengapa?

Dalam hubungan perubahan arah di gereja arus utama di Belanda, teolog Klaas Runia mengemukakan bahwa penyebab utamanya adalah sekularisme/liberalisme yang kuat melanda gereja Belanda. Dan seperti biasanya usaha para teolog muda untuk menyesuaikan berita mimbarnya dengan tuntutan sekularisme, suatu usaha yang akhirnya tidak bisa direm, menjadi ragi yang mengkhamirkan gereja-gereja. (Klaas Runia, The Dutch Churches, The Banner, May 31, 1993).

Liberalisme menyiratkan pembebasan manusia dari segala bentuk otoritas diluar dirinya dan mendorong manusia membebaskan dirinya dari realita yang transenden (Tuhan & supranatural). Liberalisme merupakan konsekwensi logis dari perkembangan Renaissance – Rasionalisme – Pencerahan, yang menghasilkan manusia Sekuler yang branggapan bahwa manusia hanya berurusan dengan yang duniawi (saeculum) dan menafikan yang kekal (aeternum) termasuk agama.

Di Belanda, sejalan dengan sekularisme, liberalisme masuk jauh kedunia gereja terutama gereja arus utama yang mempengaruhi banyak pendeta dan teolog Protestan. Liberalisme di kalangan Roma Katolik juga paling parah di Belanda, para teolog dan pastor Belanda banyak yang melawan dan menyusahkan kepausan di Roma. Kenyataan kosongnya gereja-gereja di Belanda diakui J.A.B. Jongeneel, pakar Misiologi Utrecht Universiteit ketika berceramah didepan pendeta-pendeta Jakarta.

“Eropah kini menjadi makin sekuler, dan negara yang paling sekuler adalah Belanda. ... Menurut Prof Jongeneel ... penduduk Amsterdam, yang 200 tahun yang lalu hampir seluruhnya beragama Kristen (99%), sekarang tinggal 10% saja yang dibaptis dan ke gereja, kebanyakan mereka tidak terikat lagi dalam agama atau sudah menjadi sekuler.” (Sekularisasi Ancaman Bagi Semua Agama, Berita Oikumene, September 1995).

Gereja Di Amerika

Belanda merintis kemerosotan gereja disusul Inggeris dan berimbas ke Amerika. Di Amerika sekalipun tidak separah di Eropah, kemerosotan sudah terasa sejak tahun 1940-an sekalipun secara umum pada dasawarsa itu terjadi juga pertumbuhan gereja-gereja pasca Perang Dunia II, apalagi dengan hadirnya penginjil Billy Graham yang melakukan rallies di stadion-stadion yang sangat menarik generasi muda. Dean Kelly pejabat Dewan Gereja Amerika menulis buku ‘Why Conservative Churches Are Growing’ (1972) mengemukakan bahwa dalam era pasca 1940 gereja-gereja pada umumnya mengalami pertumbuhan yang berarti terutama setelah PD-II, namun dalam pertumbuhan itu sayap liberal cenderung rendah pertumbuhannya sedangkan sayap konservatif cenderung tinggi dan pada dasawarsa 1960-70 terjadi stagnasi dimana gereja-gereja mulai berkurang pertumbuhannya.

Sebagai contoh ia menunjukkan bahwa gereja Presbyterian mengalami pertumbuhan pada tahun 1940–60 dari 2,8jt anggota menjadi 4,3jt,dengan kenaikan sayap konservatif sebesar 70% dan liberal hanya 50%, angka ini dalam periode 1960–70 berubah yaitu sayap konservatif berkembang naik menjadi 80% sedangkan sayap liberal hanya 40%. Mirip dengan ini, rata-rata sayap konservatif di gereja-gereja tumbuh lebih dari 2 kali sayap liberal seperti yang terjadi di gereja Methodist (90% dibanding 40%), Lutheran (120% dibanding 55%), Reformed (130% dibanding 40%), dan Baptist (130% dibanding 5%). Gereja Katolik bertumbuh menjadi 48 juta. Yang menarik adalah aliran Sektarian lebih meningkat lagi. Mormon bertumbuh 200% pada kurun 1940-70, sedangkan Jehovah Witnesses mengalami pertumbuhan fenomenal 50% hanya dalam tahun 1960–70 saja. Kelly mencatat beberapa hal yang mendorong pertumbuhan yaitu a.l. adanya keyakinan ke’Tuhan’an yang kuat, nilai-nilai yang dipercayai, pembinaan jemaat yang intensif, dan kegiatan misi yang rajin. 25 tahun setelah ia menulis bukunya, Kelly masih mempertahankan thesisnya yang disimpulkan dalam bukunya itu.

Pada tahun 2010, Dewan Gereja Amerika dan Kanada menerbitkan buku tahunan perkembangan gereja yang menunjukkan kecenderungan yang sama, yaitu gereja-gereja konservatif dan sektarian mengalami pertumbuhan sedangkan gereja yang cenderung berfaham ekumenis/liberal merosot. Gereja yang bertumbuh adalah Jehovah Witnesses (+2%), Church of God (+1,76%), Mormon (+1,71%), Katolik (+1,49%), dan Assemblies of God (+1,27%). Menarik menyaksikan bahwa gereja Southern Baptist yang konservatif yang biasanya meningkat, merosot tipis (–0,24%), namun gereja-gereja arus utama/ekumenis menunjukkan kemerosotan seperti dialami United Methodist Church (–0,98%), Lutheran Church (–1,92%), Episcopal Church (–2,8%), United Church of Christ (–2,93%), dan Presbyterian Church (–3,28%).

Gereja Katolik dalam 40 tahun (1970–2010) anggotanya meningkat dari 48jt menjadi 68jt (+42%), Southern Baptist dari 11jt menjadi 16jt (+45%), tetapi Lutheran Church merosot dari 2,8jt menjadi 2,3jt (–18%) dan Presbyterian Church dari 4,3jt menjadi 2,8jt anggotanya (–35%). Peningkatan pada aliran sektarian terjadi pada Jehovah Witnesses dari 390rb menjadi 1,1jt (+180%) dan Mormon dari 2,2jt menjadi 5,9jt (+168%). Bila dalam tahun 1970 anggota Gereja Presbyterian banyaknya dua kali anggota  Mormon, maka 40 tahun kemudian ditahun 2010 angka itu terbalik dimana jumlah anggota Mormon justru yang menjadi dua kali anggota Gereja Presbyterian. Yang menarik, pada laporan 2010 itu juga dikemukakan adanya pertumbuhan fenomental gereja-gereja imigran yang umumnya berjemaat campuran dari negara-negara Eropah Timur dan Asia yang bernuansa konservatif.

Gejala pertumbuhan keanggotaan gereja di Amerika menunjukkan bahwa umumnya gereja-gereja arus utama merosot sedangkan gereja konservatif meningkat, dan sekte-sekte lebih lagi! Liberalisme telah gagal menunjukkan bahwa rasionalisme akan menghapus agama karena faktanya adalah justru yang terpengaruh liberalisme itulah yang mengalami kegagalan pertumbuhan.

Gereja Di Indonesia

Gereja-gereja di Indonesia tidak lepas dari pengaruh perkembangan teologi Barat yang sudah mengalami ‘post Christianity.’ Namun, berbeda dengan perkembangan di Barat dimana gereja-gereja arus utamanya merosot terkikis sekularisme/liberalisme, di Indonesia gereja-gereja arus utama masih menunjukkan kehidupan dan perkembangan. Memang tidak dapat disangkal bahwa melalui pendidikan teologi ekumenis yang banyak pengajarnya terpengaruh liberalisme Amerika atau Eropah, ada juga pengaruhnya pada jemaat, namun ternyata pengaruh itu tidak banyak, soalnya secara umum gereja-gereja di Indonesia masih konservatif dalam keyakinannya.

 Ada beberapa penyebab mengapa konservativisme bertahan di Indonesia, yaitu masyarakat Indonesia sebagai bagian dari dunia Timur pada umumnya masih memiliki semangat konservatif. Gereja-gereja arus utama di Indonesia berasal dari pekerjaan misi yang konservatif pada masa sebelum kemerdekaan, termasuk pengaruh pekerjaan Dr. John Sung pada tahun 1940-an. Apalagi, pada dasawarsa 1960-70 terutama setelah peristiwa Gestapu (1966, dimana Indonesia mengalami kekacauan politis dan masyarakat banyak yang mengalami kekosongan batin), hadirnya misi-misi Injili dan Karismatik di tahun 1960-70 mengisi kekosongan itu menandakan awal pergerakan pekabaran Injil yang berdampak besar di Indonesia. Salah satu gejalanya adalah sejak masa itu banyak didirikan sekolah Alkitab Injili dan Karismatik sedangkan Sekolah Tinggi Teologi ekumenis yang berafiliasi dengan gereja-gereja arus utama tidak bertambah jumlahnya. Yayasan-Yayasan PI (Pekabaran Injil) dari kalangan kaum awam Kristen bermunculan dalam jumlah ratusan.

Berbeda dengan gerakan sektarian seperti Mormon dan Saksi-Saksi Yehuwa (Jehovah Witnesses) yang tidak bergaul dengan gereja-gereja Kristen pada umumnya, sekalipun ada gereja-gereja Injili dan Karismatik yang bersifat eksklusif, pada umumnya anggota jemaat Injili dan Karismatik banyak yang aktif di kalangan gereja-gereja arus utama. Ini menggarami gereja-gereja arus utama dan juga menahan mereka agar tidak begitu saja terpengaruh liberalisme barat.

Hal lain yang ikut mendukung konservativisme di Indonesia adalah bahwa gereja-gereja arus utama masih beribadat secara konservatif dengan liturgi yang masih menempatkan Alkitab sebagai pusat, mengaku secara Iman Rasuli, maupun menyanyikan lagu-lagu rohani seperti ‘Kidung Jemaat’ yang berorientasi ke’Tuhan’an dan kuasa-Nya. Lagu-lagu Injili dan Karismatik juga banyak diikuti di kalangan gereja arus utama terutama generasi mudanya. Kondisi ini diperkuat dengan jemaat yang umumnya mengikuti kebaktian supplemen seperti melalui KKR maupun TV.

Pengaruh liberalisme terbilang sudah lama masuk ke Indonesia melalui dosen-dosen teologi ekumenis yang belajar di Barat dan terpengaruh liberalisme, bahkan sempat ada dosen teologi yang mengungkapkan iman radikalnya secara terus terang, dan menulis di surat kabar mendukung ditemukan makam Yesus di Talpiot, namun gereja masih menyadarinya dan dosen itu diberhentikan dari sekolah teologi ekumenis dimana ia mengajar dan kemudian dipensiun dini dari sinoda gereja dimana ia bernaung. Ini menunjukkan bahwa konservativisme masih bertahan di gereja-gereja arus utama bahkan siaran-siaran rohani di Radio & TV mencerminkan iman yang konservatif dan popular pula di kalangan jemaat arus utama pada umumnya.

Tidak dapat disangkal bahwa banyak pendeta muda sedikit-demi-sedikit terpengaruh juga faham liberal dan inklusif yang dipelajarinya dari dosen dan buku-buku dengan ajaran itu, sehingga mereka menolak otoritas Alkitab dan hal-hal supranatural, namun suasana jemaat mayoraitas yang konservatif menjadikan mereka berkepribadian mendua. Di satu sisi ia ‘terpaksa’ mengucapkan dengan mulutnya kotbah yang alkitabiah dan mengaku iman rasuli maupun menyanyikan pujian kepada Tuhan, namun dihati mereka menyangkali ucapan mulut mereka diatas mimbar itu, apalagi kasus dosen yang diberhentikan dari Sekolah Teologi dan dipensiun dini dari Sinoda menjadikan mereka sangat hati-hati dalam mengungkapkan jati diri iman mereka dengan akibat mereka mengidap gangguan kejiwaan yang schizophrenic.

Jemaat di Indonesia, terutama yang hadir di gereja-gereja arus utama perlu tetap mendoakan pendeta-pendeta mereka agar para pendeta yang terpengaruh liberalisme memiliki kembali kasih yang mula-mula yang mereka percayai ketika menjawab panggilan masuk ke sekolah teologi, sebab bila tidak mereka akan menuai hal yang sama seperti yang terjadi di Amerika dan Eropah dan mengakibatkan gereja-gereja mereka ditinggalkan jemaat karena di Indonesia tersedia banyak alternative gereja yang konservatif. ***